I Don't Know Why, but I Miss 'U' Being Around

riza adi wicaksono
Chapter #19

Wajah yang Belum Seharusnya Ada

Klik.

Sambungan beralih. Suara gerimis yang mengetuk kaca balkon apartemen Raka Adita Pradana perlahan tenggelam, tergilas oleh desis halus frekuensi statis yang menjembatani dua titik linier berjarak dua tahun. Sinyal itu berderak pelan, sebelum akhirnya membuka sebuah ruang sunyi yang magis.

Lalu, suara itu datang menembus kegelapan.

“Halooo?”

Utari. Suaranya terdengar beberapa tingkat lebih cerah daripada biasanya. Ringan, bertenaga, dan memiliki ritme yang melompat-lompat—seperti intonasi seseorang yang baru saja memenangkan sebuah pertempuran panjang yang nyaris membuatnya menyerah.

Tanpa sadar, sudut-sudut bibir Raka terangkat tipis. Ketegangan yang sejak sore tadi mencengkeram rahangnya melonggar satu milimeter. “Pagi,” sapa Raka, sengaja menggunakan kelakar internal mereka.

Di seberang sana, terdengar hela napas yang disusul tawa renyah. “Ini udah malam, Pak Analis.”

“Oh, ya?”

“Lihat? Akhirnya ada juga variabel yang bisa bikin perhitungan kamu salah.”

Raka terkekeh pelan, sebuah suara rendah yang jarang sekali bergema di dinding apartemennya yang steril. Di ujung waktu tahun 2022, Utari ikut tertawa. Suara tawa itu mengalir konseptual, mengisi sudut-sudut ruangan yang selama ini terlalu sunyi, terlalu teratur, dan terlalu dingin. Dan Raka baru menyadari satu hal: ia telah jatuh gila pada warna suara tersebut.

“Aku seneng banget hari ini, Rak,” ucap Utari lagi, energinya merembes lewat mikrofon.

“Aku tahu.”

“Enggak, kamu nggak akan pernah benar-benar tahu.”

“Aku membaca pesanmu beberapa menit lalu, Tar.”

“Itu cuma teks. Rasanya beda.” Utari menahan kalimatnya, terdengar sedang mengembuskan napas panjang, seolah sedang melepaskan beban gila dari pundaknya. “Kamu tahu nggak rasanya selama berbulan-bulan ngerjain sesuatu sambil terus-terusan dikerjar pikiran kalau ini bakal gagal total? Terus... tiba-tiba ada orang asing datang, melihat prosesmu, dan bilang kalau mereka percaya sama isi kepala kamu?”

Raka menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kerja, menumpu ponsel kusam itu di dekat telinganya. Ia melonggarkan egonya, membiarkan Utari mengambil alih panggung malam itu. Ia membiarkan gadis itu bercerita.

Tentang persiapan pameran yang menguras tenaga, tentang presisi ukuran panel kayu, tentang skema tata lampu yang sempat membingungkannya, tentang draf karya yang hampir ia hancurkan karena frustrasi, hingga tentang bagaimana Zico berkali-kali meyakinkannya bahwa roda keberuntungan akhirnya berhenti di titik mereka.

Raka mendengarkan semuanya. Tanpa memotong, tanpa melakukan kompilasi data, tanpa menganalisis anomali, dan tanpa mencari retakan pola. Detik itu, ia melucuti identitasnya sebagai seorang analis data. Ia hanya ingin menjadi sepasang telinga yang utuh bagi Utari.

Namun, matanya tidak bisa berbohong.

Di atas permukaan meja kerjanya, lembaran foto hitam-putih hasil print-out dari Dimas masih tergeletak pasrah. Pendar kekuningan dari lampu belajar jatuh tepat di atas permukaan kertas yang kasar, mengekspos rupa visual yang kini tidak lagi menjadi misteri abstrak di kepala Raka.

Rambut bergelombang sebahu. Sepasang mata yang menyipit membentuk lengkungan bulan sabit saat tersenyum. Dan lesung samar yang tercetak di pipi kirinya. Itu adalah ekspresi absolut dari seorang manusia yang sedang berada di puncak kebahagiaan.

“Raka?”

Suara Utari di pelantang telepon menarik kesadaran Raka kembali ke permukaan secara mendadak.

“Hm?”

Lihat selengkapnya