I Don't Know Why, but I Miss 'U' Being Around

riza adi wicaksono
Chapter #20

Mengejar Jarak Part I

Hari ini senja perlahan menghilang di atas Kota Pinus, tergantikan oleh malam yang turun tanpa tergesa, membungkus kota dengan warna biru gelap yang dingin dan sunyi. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, membentuk garis-garis kuning keemasan yang memanjang di antara kepungan gedung-gedung tinggi dan urat jalan raya yang masih basah oleh sisa hujan sore. Dari balik jendela kaca apartemennya, Raka bisa melihat kilatan lampu kendaraan bergerak konstan, menyerupai aliran arus data digital yang tak pernah berhenti membelah kegelapan.

Ponsel tua di atas meja masih menempel erat di telinganya, menyalurkan gelombang suara yang melintasi dimensi waktu. Di ujung sana, vokal Utari terus mengalir tanpa jeda, renyah dan penuh letupan energi.

“...Terus Ndul hampir jatuh dari tangga aluminium, Rak! Lagi benerin backdrop seminar, Pak Baskoro tiba-tiba nyebut namaku dari atas panggung sebagai salah satu seniman yang bakal diajak ke program nasional. Ndul refleks nengok ke aku, kakinya malah salah injak!”

Raka mengulas senyum tipis—sebuah kurva langka yang belakangan ini mulai terbiasa menetap di wajahnya. “Kamu ketawa nggak waktu dia mau jatuh?”

“Ya ketawa lah, kencang banget malah.”

“Kejam.”

“Sedikit, sih. Lagian mukanya Ndul kocak banget kalau lagi syok.”

Utari tertawa lepas. Suara tawa itu mengudara bebas lewat pengeras suara, membuat ruang apartemen Raka yang biasanya terasa terlalu luas dan hampa mendadak terasa lebih menyempit. Lebih hangat. Lebih hidup.

“Kamu masih di galeri?” tanya Raka.

Lihat selengkapnya