I Jump Alone Into The Sea

Vitri Dwi Mantik
Chapter #1

Prolog - Hari Ketika Laut Memanggil

Laut selalu datang lebih dulu daripada matahari.

Saat langit masih berupa abu-abu yang menggantung rendah di ufuk timur, ombak telah sibuk menghapus jejak-jejak kaki yang sempat ditinggalkan malam. Angin membawa bau garam yang tipis, menyelinap ke sela-sela rambut, pakaian, hingga ke ruang-ruang yang bahkan waktu tidak pernah berhasil sentuh.

Aruna berdiri beberapa langkah dari bibir pantai.

Sepasang sepatunya tergeletak begitu saja di belakangnya. Kakinya yang telanjang membiarkan pasir basah memeluk telapak, sementara air laut sesekali datang menyapa, lalu pergi lagi tanpa permisi.

Ia menatap jauh ke arah cakrawala.

Di sana, batas antara langit dan laut begitu samar. Seolah keduanya telah lama sepakat untuk saling melebur, tanpa perlu menentukan siapa yang harus berakhir dan siapa yang harus dimulai.

Aruna menyukai pemandangan itu.

Atau mungkin, ia iri.

Sudah lama ia ingin tahu bagaimana rasanya menjadi sesuatu yang tidak lagi memiliki batas.

Angin bertiup lebih kencang.

Gaun linen berwarna krem yang dikenakannya berkibar pelan. Rambut yang semula rapi mulai lepas dari ikatan. Beberapa helai menempel di pipinya, namun ia tidak berusaha merapikannya.

Tidak ada yang perlu terlihat baik pagi ini.

Seekor camar melintas rendah, meninggalkan suara serak yang sebentar kemudian ditelan luasnya udara. Aruna mengikuti burung itu dengan matanya hingga menghilang menjadi titik kecil.

"Aneh," gumamnya lirih.

Suara itu terdengar asing di telinganya sendiri.

Seperti sudah lama ia tidak berbicara kepada siapa pun.

Atau kepada dirinya sendiri.

Ia menarik napas panjang.

Udara laut memenuhi paru-parunya dengan rasa asin yang ganjil—terlalu akrab untuk sesuatu yang seharusnya hanya sesekali ia temui.

Seolah tubuhnya pernah tinggal di sini.

Seolah ada bagian dari dirinya yang tertinggal di antara ombak-ombak itu, jauh sebelum ia menyadarinya.

Ia tidak tahu mengapa setiap kali hidupnya terasa terlalu berat, langkahnya selalu berakhir di pantai.

Bukan taman.

Bukan kafe.

Bukan rumah.

Selalu laut.

Seakan ada sesuatu yang memanggilnya dari kejauhan. Sesuatu yang tidak memiliki suara, tetapi selalu berhasil membuat dadanya sesak oleh kerinduan yang tak bisa ia beri nama.

Aruna memejamkan mata.

Angin menyentuh wajahnya seperti tangan yang sudah sangat dikenalnya, meski ia tak mampu mengingat milik siapa.

Di balik kelopak matanya yang tertutup, muncul bayangan-bayangan yang terlalu cepat untuk dikenali.

Tawa seseorang.

Lihat selengkapnya