Ada orang-orang yang baru terasa penting setelah mereka berhenti hadir.
Bukan karena mereka berubah.
Melainkan karena kita akhirnya memiliki cukup waktu untuk memahami arti kehadiran mereka.
Namun saat semua itu terjadi, waktu biasanya telah berjalan terlalu jauh.
Sebelum mengenal laut, Aruna mengenal hujan.
Hujan turun hampir setiap sore di kota kecil tempat ia dibesarkan. Jalan-jalan sempit akan berubah menjadi aliran air yang membawa daun-daun mangga, bungkus permen, dan kapal-kapal kertas buatan anak-anak. Atap seng rumah-rumah memantulkan bunyi yang sama setiap musim, seolah langit sedang menghafalkan lagu yang tak pernah selesai.
Aruna menyukai hujan.
Bukan karena ia senang basah.
Tetapi karena hujan selalu memberinya alasan untuk berjalan lebih lambat.
Pada suatu sore di bulan November, ketika hujan turun begitu deras hingga halte kecil di depan kampus dipenuhi orang-orang yang berdesakan, Aruna berdiri sambil memeluk buku-buku kuliahnya. Tas kain yang menggantung di bahunya mulai basah. Ujung roknya terkena cipratan air dari sepeda motor yang melintas terlalu cepat.
Ia menghela napas pelan.
"Kalau hujan terus begini, kita mungkin lulus minggu depan."
Suara itu datang dari sampingnya.
Aruna menoleh.
Seorang lelaki sedang berdiri sambil memegang payung hitam yang tampaknya sudah sangat tua. Salah satu ujung payung itu sedikit bengkok, membuat air menetes dari sisi kiri seperti keran yang bocor.
Lelaki itu tersenyum.
Senyumnya tidak terlalu lebar.
Tetapi cukup untuk membuat wajahnya terlihat hangat.
"Kamu serius atau bercanda?" tanya Aruna.
"Aku selalu serius."
"Tapi, candaanmu suka serius, dan kamu selalu lucu kalau sedang serius."
Lelaki itu tertawa kecil.
"Berarti aku harus terus latihan. Supaya aku selalu melihat tawamu."
Namanya Kai.
Mahasiswa semester akhir jurusan seni rupa.
Lebih sering membawa buku sketsa daripada buku kuliah.
Lebih sering duduk di bawah pohon daripada di perpustakaan.
Lebih sering memperhatikan langit dibandingkan jam.
Semua orang mengatakan Kai terlalu santai menjalani hidup.
Namun Aruna selalu merasa lelaki itu hanya memiliki cara berbeda untuk melihat dunia.
Mereka mulai sering bertemu setelah hari itu.
Kadang di perpustakaan.
Kadang di kantin.
Kadang tanpa sengaja berjalan di trotoar yang sama menuju halte.
Percakapan mereka tidak pernah dimulai dengan sesuatu yang penting.
Tentang cuaca.
Tentang kopi yang terlalu pahit.
Tentang dosen yang terlalu sering memberi tugas.
Tentang kucing kampus yang selalu tidur di kursi paling nyaman.
Hal-hal kecil.
Tetapi justru dari hal-hal kecil itulah seseorang perlahan menjadi bagian dari hidup orang lain.
Kai tidak pernah mengajak Aruna makan di restoran mahal.
Ia bahkan tidak tahu restoran mahal berada di mana.
Sebagian besar kencan mereka berlangsung di warung mi ayam dekat kampus.