I Jump Alone Into The Sea

Vitri Dwi Mantik
Chapter #3

Kota yang Terlalu Kecil

"Semua burung belajar terbang dari langit yang sama. Tetapi tidak semua memilih kembali ke sarang yang sama."



Kota itu terlalu kecil untuk menyimpan mimpi Aruna.

Ia baru menyadarinya ketika berdiri di jembatan tua yang membelah sungai setiap sore sepulang kuliah. Dari sana, seluruh kota tampak seperti miniatur yang dipajang di etalase: deretan rumah beratap merah, menara masjid yang menjulang di tengah permukiman, terminal kecil yang hanya didatangi beberapa bus antarkota, dan pasar yang selalu tutup sebelum matahari benar-benar tenggelam.

Setiap hari pemandangan itu sama.

Setiap hari orang-orang yang berjalan di bawahnya juga sama.

Penjual koran yang bersiul pelan.

Ibu-ibu yang pulang membawa kantong belanja.

Anak-anak berseragam sekolah mengejar layang-layang.

Bahkan suara kereta yang melintas di kejauhan selalu datang pada jam yang sama.

Kota itu hidup.

Tetapi tidak pernah berubah.

"Kalau kamu lihat terus, nanti kotanya minder."

Kai muncul dari belakang sambil membawa dua gelas kopi kertas.

Aruna menerima salah satunya.

"Kamu tahu nggak," katanya pelan, "kadang aku merasa kota ini terlalu kecil."

Kai meminum kopinya sebelum menjawab.

"Untuk apa?"

"Untuk hidup."

Kai tersenyum tipis.

"Kota nggak pernah menentukan seberapa besar hidup seseorang."

"Tapi kota menentukan seberapa jauh kita bisa pergi."

Kai mengangkat bahu.

"Menurutku nggak."

"Lihat sekeliling."

"Aku lagi lihat."

"Kamu nggak bosan?"

Kai menggeleng.

"Aku masih nemu langit yang beda setiap sore."

Aruna tertawa kecil.

"Kamu memang aneh."

"Mungkin."

"Tapi serius."

"Apa?"

"Apa kamu nggak pernah pengin tinggal di kota besar?"

Kai menatap jalan yang mulai dipenuhi lampu kendaraan.

"Tidak yakin."

"Tidak yakin?"

"Iya."

"Kok tidak yakin?"

"Soalnya di sana pasti macet."

Aruna memukul pelan lengannya.

"Aku serius."

"Aku juga."

Ia tertawa.

Aruna tidak.

Beberapa minggu kemudian, kampus mengadakan seminar karier.

Perusahaan-perusahaan dari Jakarta, Surabaya, dan Bandung datang membuka stan perekrutan.

Aruna menghabiskan hampir seluruh harinya berpindah dari satu stan ke stan lain.

Ia membawa map berisi sertifikat, nilai akademik, dan curriculum vitae yang telah ia susun selama berminggu-minggu.

Matanya berbinar.

Setiap brosur yang dibawanya pulang seperti jendela menuju kehidupan yang belum pernah ia lihat.

Gedung-gedung tinggi.

Kantor dengan dinding kaca.

Perjalanan dinas.

Pertemuan dengan orang-orang dari berbagai negara.

Semuanya terdengar begitu jauh dari kota kecil tempat ia dibesarkan.

Saat keluar dari aula, ia menemukan Kai duduk di bawah pohon flamboyan.

Seperti biasa.

Dengan buku sketsanya.

Lihat selengkapnya