I Jump Alone Into The Sea

Vitri Dwi Mantik
Chapter #4

Masa Depan Keluarga

"Tidak semua beban terlihat di pundak. Sebagian tinggal diam di dalam dada, dan justru itulah yang paling berat dibawa pulang."


Rumah Aruna berdiri di ujung gang yang hanya cukup dilewati satu mobil.

Dindingnya dicat hijau muda bertahun-tahun lalu, tetapi hujan dan panas telah mengubah warnanya menjadi kusam. Di beberapa sudut, cat mengelupas seperti kulit yang lelah bertahan. Atap seng berbunyi setiap kali angin datang terlalu kencang.

Rumah itu kecil.

Namun selalu dipenuhi suara.

Suara ibunya yang memanggil adik bungsunya untuk belajar.

Suara ayahnya yang batuk setiap pagi sebelum berangkat bekerja.

Suara televisi tua yang gambarnya dipenuhi garis-garis.

Dan suara kipas angin yang berputar pelan, seolah ikut kelelahan bersama penghuninya.

Aruna tumbuh dengan suara-suara itu.

Dan ia tahu, di balik semua suara itu, ada satu hal yang selalu disembunyikan keluarganya.

Kekhawatiran.

Ayah Aruna bekerja sebagai pegawai administrasi di sebuah koperasi desa.

Gajinya cukup.

Cukup untuk membeli beras.

Cukup untuk membayar listrik.

Cukup untuk hidup.

Tetapi tidak pernah cukup untuk bermimpi.

Ibunya menerima jahitan dari tetangga.

Seragam sekolah.

Kebaya.

Celana yang sobek.

Apa pun yang bisa dikerjakan dengan mesin jahit tua peninggalan nenek.

Setiap malam, suara mesin itu menjadi lagu pengantar tidur Aruna.

Tak pernah berhenti.

Tak pernah mengeluh.

Hanya terus bergerak.

Seperti hidup mereka.

Suatu malam, Aruna terbangun karena haus.

Jam dinding menunjukkan pukul setengah dua.

Rumah begitu sunyi.

Saat melewati ruang tengah menuju dapur, ia mendengar suara pelan dari ruang tamu.

Ayah dan ibunya belum tidur.

Lampu hanya menyala satu.

Mereka duduk di lantai.

Di hadapan mereka ada buku kecil, beberapa lembar tagihan, dan uang yang disusun dalam tumpukan-tumpukan tipis.

"Akhir bulan ini kita bayar yang mana dulu?" suara ibunya lirih.

Ayahnya diam cukup lama.

"Listrik."

"Terus uang sekolah Dimas?"

"Nanti."

"Nanti kapan?"

Tak ada jawaban.

Ayah hanya melepas kacamatanya.

Mengusap wajah.

Dalam cahaya lampu yang redup, Aruna baru menyadari sesuatu yang selama ini luput ia lihat.

Rambut ayahnya mulai dipenuhi uban.

Bukan karena usia.

Melainkan karena hidup.

Ia mundur perlahan sebelum mereka menyadari kehadirannya.

Malam itu, untuk pertama kalinya, ia merasa menjadi anak sulung bukan hanya urutan kelahiran.

Melainkan sebuah tanggung jawab.

Esok harinya, Aruna bertemu Kai di kampus.

Kai membawa dua roti isi.

"Sarapan."

"Buat siapa?"

"Buat kita."

"Kamu beli?"

"Iya."

"Pakai uang apa?"

Kai tersenyum.

"Semalam ada yang beli lukisan."

"Wah."

"Lumayan."

"Berapa?"

Kai menyebut angkanya.

Aruna tersenyum.

Namun senyum itu tidak bertahan lama.

Lihat selengkapnya