“Ada perjalanan yang dimulai bukan ketika kita berangkat, melainkan ketika seseorang menyadari bahwa ia tak lagi mampu menahan kita.”
Dua hari kemudian, Kai datang ke rumah Aruna.
Ia membantu ayah mengangkat kardus dari gudang. Memperbaiki engsel pintu kamar yang berdecit. Memakan pisang goreng buatan ibu tanpa banyak bicara.
Seolah tak ada yang terjadi.
Seolah Aruna tidak akan pergi.
Setelah matahari tenggelam, mereka berjalan bersama menuju ujung gang. Langit telah kehilangan warnanya. Awan menggantung rendah, membawa bau hujan yang belum jatuh.
“Kamu marah?” tanya Aruna.
“Nggak.”
“Kamu bohong.”
Kai memasukkan kedua tangan ke saku celana.
“Aku nggak tahu harus marah sama siapa.”
“Sama aku.”
“Buat apa?”
“Karena aku pergi.”
“Aku nggak punya hak.”
Aruna berhenti.
“Kamu punya.”
Kai ikut berhenti.
Lampu jalan di atas mereka belum menyala. Wajah lelaki itu hanya terlihat samar dalam sisa cahaya.
“Kalau aku punya,” katanya, “kamu bakal tinggal?”
Aruna tidak menjawab.
Kai mengangguk, seolah diamnya adalah jawaban yang telah ia perkirakan.
“Nah.”
“Kai—”
“Jangan pergi.”
Aruna membeku.
Itulah kalimat yang pernah diinginkannya untuk didengar.
Di tepi sungai, ketika ia menunjukkan brosur pekerjaan dan Kai hanya berkata semoga diterima. Di warung mi ayam, ketika ia berharap lelaki itu berbicara tentang masa depan mereka. Pada malam-malam ketika ketakutan membuatnya terjaga, membayangkan bahwa mungkin Kai tidak cukup menginginkannya untuk memintanya tinggal.
Kini Kai mengatakannya.
Jangan pergi.
Dua kata itu datang terlambat dan tepat pada waktunya.
Aruna menundukkan wajah.
“Aku harus pergi.”
“Nggak ada yang benar-benar harus.”
“Aku harus.”
“Kamu memilih.”
“Iya,” katanya, lebih cepat daripada yang ia maksudkan. “Aku memilih.”
Kai menatapnya cukup lama.
“Kalau begitu jangan bilang kamu terpaksa.”
Hujan mulai turun.
Satu tetes jatuh di punggung tangan Aruna. Lalu satu lagi di bahunya.
Kai tidak bergerak mencari tempat berteduh.
“Aku bisa kerja lebih keras,” katanya. “Aku bisa cari pekerjaan tetap. Aku bisa jual lebih banyak lukisan.”
“Kapan?”
“Aku mulai sekarang.”
“Dan sampai semuanya berhasil?”
“Kita jalanin sama-sama.”
“Kita pernah membicarakan ini.”
“Karena kamu nggak pernah benar-benar mendengarkan.”
“Aku dengar.”
“Nggak. Kamu cuma menunggu aku mengatakan sesuatu yang sesuai dengan rencanamu.”
Aruna menatapnya.
“Kamu pikir aku mau meninggalkan semua ini?”
“Aku nggak tahu.”
“Kamu pikir aku nggak takut?”
“Aku juga takut.”