I Jump Alone Into The Sea

Vitri Dwi Mantik
Chapter #5

Lamaran Yang Diterima

Surat itu datang pada hari Selasa.

Tidak ada hujan.

Tidak ada angin yang menggoyangkan daun-daun mangga di halaman.

Tidak ada tanda bahwa hidup Aruna akan berubah.

Pagi itu, ibunya sedang menjahit seragam sekolah berwarna putih. Ayahnya duduk di ruang tengah dengan koran terbuka di pangkuan, meski sejak beberapa menit lalu matanya tidak lagi mengikuti tulisan. Dimas menghabiskan sarapan sambil menghafal rumus matematika dengan suara pelan.

Segalanya berjalan seperti biasa.

Hanya suara mesin jahit.

Sendok yang beradu dengan piring.

Kipas angin yang berputar pincang.

Lalu ponsel Aruna bergetar di atas meja.

Sebuah surel masuk.

Ia hampir membukanya tanpa berpikir. Beberapa minggu terakhir, ia telah menerima banyak pesan serupa: pemberitahuan bahwa lamarannya sedang diproses, undangan mengikuti tes tambahan, atau penolakan yang dibungkus kalimat-kalimat sopan.

Terima kasih atas minat Anda.

Kami menghargai waktu yang telah Anda berikan.

Setelah mempertimbangkan seluruh kandidat—...

Aruna sudah hafal bagaimana perusahaan-perusahaan mengatakan tidak tanpa pernah menggunakan kata itu.

Ia membuka pesan tersebut sambil berdiri.

Membaca baris pertama.

Lalu mengulanginya.

Sekali.

Dua kali.

Namanya tertulis dengan benar.

Posisinya juga benar.

Program pengembangan manajemen selama dua tahun di sebuah perusahaan besar di Jakarta. Gaji pokok. Tunjangan tempat tinggal selama enam bulan. Asuransi kesehatan. Kesempatan mengikuti pelatihan di luar negeri.

Di bagian bawah, ada tanggal ketika ia harus mulai bekerja.

Tiga minggu lagi.

“Kenapa?” tanya ibunya.

Aruna tidak segera menjawab.

Tangannya terasa dingin.

Ia menyerahkan ponsel itu.

Ibunya menyeka jari pada kain sebelum menerimanya, seolah takut meninggalkan noda pada berita baik.

Mata perempuan itu bergerak perlahan membaca setiap baris. Kemudian ia menatap Aruna dengan bibir yang sedikit terbuka.

“Kamu diterima?”

Aruna mengangguk.

Senyum ibunya muncul pelan-pelan. Bukan senyum besar. Hanya tarikan lembut di kedua sudut bibir, disusul mata yang tiba-tiba berair.

“Pak,” panggilnya.

Ayah Aruna menurunkan koran.

“Anakmu diterima kerja.”

“Di mana?”

“Jakarta.”

Ayahnya bangkit terlalu cepat hingga harus berpegangan pada lengan kursi. Ia meminta ponsel itu, lalu membaca surel yang sama dengan kening berkerut.

“Gajinya segini?”

Aruna mengangguk lagi.

Jumlah itu hampir empat kali lipat dari penghasilan ayahnya.

Untuk beberapa saat, tak seorang pun berkata apa-apa.

Mesin jahit berhenti.

Kipas angin terus berputar.

Dimas menjadi orang pertama yang bersuara.

“Kalau Mbak kerja di Jakarta, aku boleh ikut?”

Semua orang tertawa.

Kecuali Aruna.

Ia ikut tersenyum, tetapi di dalam dadanya ada sesuatu yang bergerak seperti air pasang—membawa kegembiraan sekaligus ketakutan yang tak dapat dipisahkan.

Mereka merayakannya malam itu dengan ayam goreng dari warung depan terminal.

Ayah Aruna membeli satu ekor utuh meskipun ibunya beberapa kali berkata setengah saja sudah cukup. Dimas mendapat bagian paha. Aruna diberi dada, bagian yang paling banyak dagingnya. Ayah mengambil leher dan sayap seperti biasa.

“Kos di Jakarta mahal,” kata ibunya.

“Enam bulan pertama dapat tunjangan tempat tinggal.”

“Sesudah itu?”

“Aku cari yang dekat kantor. Bisa naik bus.”

“Jangan pulang malam-malam.”

“Iya.”

“Jangan gampang percaya orang.”

“Iya.”

“Kalau sakit, langsung bilang.”

“Iya, Bu.”

Ibunya terus menyampaikan nasihat, seakan dengan menumpuk cukup banyak kata, ia bisa melindungi anak perempuannya dari kota yang belum pernah mereka pahami.

Ayah lebih banyak diam.

Setelah makan, ia masuk ke kamar dan kembali membawa sebuah kaleng biskuit tua. Dari dalamnya, ia mengeluarkan beberapa lembar uang yang telah dilipat rapi.

“Buat ongkos.”

Aruna memandang uang itu.

“Tidak usah, Pak. Perusahaan mengganti tiket.”

“Buat pegangan.”

“Bapak simpan saja.”

“Bawa.”

“Aku sudah punya tabungan.”

Lihat selengkapnya