I Jump Alone Into The Sea

Vitri Dwi Mantik
Chapter #7

Selamat Tinggal yang Tidak Pernah Diucapkan

“Sebagian perpisahan tidak memiliki pintu yang ditutup. Kita hanya berhenti mengetuk, lalu suatu hari menyadari rumah itu telah kosong.”


Pada minggu pertama di Jakarta, Aruna dan Kai masih saling berkabar setiap hari.

Tidak banyak.

Pesan-pesan mereka pendek, seperti catatan yang ditempelkan di pintu kulkas.

Sudah sampai kantor?

Sudah.

Makan apa?

Nasi padang.

Pedas?

Banget.

Makanya jangan sok kuat.

Kadang Kai mengirimkan foto langit dari kota mereka. Langit yang dulu mereka lihat bersama dari jembatan tua, dari tepi sungai, dari warung mi ayam ketika pintunya dibiarkan terbuka menjelang malam.

Aruna membalas dengan foto gedung-gedung tinggi.

Kaca.

Besi.

Lampu.

Langit Jakarta hampir selalu terpotong oleh sesuatu.

Kai pernah menulis:

Di sana matahari tenggelamnya di mana?

Aruna menjawab:

Di belakang gedung.

Kai mengirim emoji tertawa.

Namun Aruna membaca pertanyaan itu lebih lama daripada seharusnya.

Kamar sementara yang disediakan perusahaan berada di lantai sebelas sebuah apartemen tua.

Ruangannya sempit, tetapi bersih.

Ada ranjang tunggal, lemari dua pintu, meja kecil, dan jendela yang menghadap ke jalan layang. Sepanjang malam, suara kendaraan mengalir tanpa henti di bawah sana.

Aruna terbiasa tidur dengan suara mesin jahit ibunya.

Dengan batuk ayahnya dari kamar sebelah.

Dengan motor tetangga yang selalu dinyalakan terlalu pagi.

Di Jakarta, suara-suara itu digantikan oleh klakson, rem bus, dan dengung pendingin udara.

Kota ini tidak pernah benar-benar tidur.

Kota ini hanya mengganti giliran orang-orang yang terjaga.

Pada minggu kedua, Aruna menelepon Kai.

“Aku nggak bisa tidur.”

“Keras?”

“Apa?”

“Suara kotanya.”

Aruna berbaring sambil menatap langit-langit.

“Iya.”

“Buka jendela.”

“Malah tambah berisik.”

“Biar anginnya masuk.”

“Anginnya panas.”

Kai tertawa kecil.

Suara itu membuat kamar terasa sedikit lebih sempit, seolah lelaki itu sedang duduk di tepi ranjang.

“Kamu lagi apa?” tanya Aruna.

“Gambar.”

“Apa?”

“Sungai.”

“Sungai lagi?”

“Iya.”

“Bosan.”

“Nggak.”

Aruna menarik selimut hingga ke dada.

“Kamu kangen aku?”

Di seberang, terdengar suara pensil berhenti menggores kertas.

“Iya.”

Hanya satu kata.

Aruna menunggu.

Kai tidak menambahkan apa-apa.

“Aku juga,” katanya.

Mereka lalu diam.

Dulu, diam di antara mereka terasa seperti sebuah ruangan yang hangat. Mereka bisa tinggal di dalamnya tanpa merasa harus mengisi apa pun.

Malam itu, diam mereka terasa seperti dua kamar berbeda yang dihubungkan oleh kabel tipis.

Aruna mendengarkan napas Kai.

Kai barangkali mendengarkan suara kendaraan dari jendela Aruna.

Tak satu pun dari mereka tahu cara memperpendek jarak.

Pekerjaan segera mengambil hampir seluruh waktunya.

Hari dimulai sebelum matahari terbit. Aruna bangun pukul lima, mengenakan pakaian kerja, lalu berdesakan di dalam bus bersama orang-orang yang wajahnya masih menyimpan sisa tidur.

Di kantor, ia belajar istilah-istilah baru.

Target.

Evaluasi.

Presentasi.

Proyeksi.

Efisiensi.

Orang-orang berbicara cepat dan berjalan lebih cepat.

Tak ada yang berhenti hanya karena langit berubah warna.

Pada minggu ketiga, Aruna menerima gaji pertamanya.

Ia mentransfer sebagian besar uang itu ke rekening ibunya.

Beberapa menit kemudian, teleponnya berdering.

“Kebanyakan,” kata ibunya.

“Buat bayar sekolah Dimas.”

“Kamu juga perlu makan.”

“Aku masih punya.”

“Buat beli baju kerja.”

“Sudah.”

“Tabung.”

“Iya, Bu.”

Di belakang suara ibunya, Aruna mendengar mesin jahit.

“Kok Ibu masih menerima jahitan?”

“Sudah terlanjur janji.”

“Ibu nggak usah kerja sampai malam lagi.”

“Ini tinggal sedikit.”

Aruna tahu sedikit bisa berarti tiga seragam, dua kebaya, dan satu celana yang harus selesai sebelum pagi.

Namun ia tidak mendesak.

Setelah sambungan berakhir, ia menatap layar yang menunjukkan saldo rekening.

Angka itu jauh lebih kecil daripada beberapa menit sebelumnya.

Anehnya, ia merasa lega.

Untuk pertama kalinya, kepindahannya memiliki bentuk yang bisa dihitung.

Uang sekolah.

Tagihan.

Obat.

Beras.

Semua itu membuat keputusannya terasa benar.

Setidaknya pada siang hari.

Kai mulai menelepon lebih jarang.

Pada awalnya, Aruna tidak terlalu memikirkannya.

Kai memang tidak pernah menyukai telepon. Ia lebih suka hadir daripada berbicara dari jauh. Lebih suka mengantar kopi daripada mengirim pesan menanyakan apakah Aruna sudah minum.

Tetapi kini kehadiran bukan lagi sesuatu yang dapat ia berikan.

Pesan-pesan mereka menjadi semakin pendek.

Pulang jam berapa?

Belum tahu.

Jangan lupa makan.

Iya.

Hari ini hujan.

Di sini juga.

Kadang Aruna membaca pesan Kai ketika rapat sedang berlangsung. Ia berniat membalas setelah selesai, lalu lupa. Saat teringat, hari sudah larut dan Kai mungkin telah tidur.

Kadang Kai mengirimkan foto sketsa baru.

Aruna melihatnya di dalam lift, di halte, atau sambil menunggu pesanan makan. Ia mengetik bagus, lalu menyimpan ponsel.

Dulu ia akan bertanya mengapa bayangan pohonnya begitu gelap, atau mengapa sungai di gambar itu terlihat seperti sedang mengalir ke arah yang salah.

Kini satu kata dianggap cukup.

Bagus.

Hati-hati.

Sudah.

Nanti.

Bahasa mereka perlahan menyusut.

Seperti pakaian yang dicuci terlalu sering.

Sebulan setelah kepindahannya, Kai datang ke Jakarta.

Ia tidak memberi tahu jauh-jauh hari.

Sore itu, ketika Aruna masih duduk di depan komputer, sebuah pesan masuk.

Aku di stasiun.

Aruna membaca pesan tersebut dua kali.

Stasiun mana?

Kai menyebutkan nama stasiun.

Ngapain?

Jawabannya datang beberapa menit kemudian.

Lihat kamu.

Aruna menatap jam di pojok layar.

Masih ada dua laporan yang harus diselesaikan. Atasannya meminta revisi presentasi sebelum pagi. Di luar jendela, langit telah berwarna abu-abu.

Ia mengetik:

Tunggu. Aku ke sana.

Aruna menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin.

Namun di Jakarta, kecepatan seseorang tidak pernah berarti banyak. Lift berhenti di hampir setiap lantai. Hujan turun ketika ia keluar dari gedung. Jalanan macet. Bus bergerak seperti benda berat yang diseret pelan-pelan.

Kai telah menunggu hampir dua jam ketika Aruna tiba.

Ia berdiri di dekat kios minuman, mengenakan kemeja biru yang sama seperti hari keberangkatan Aruna. Di punggungnya ada tas kanvas tua. Rambutnya lebih panjang daripada yang Aruna ingat.

Untuk sesaat mereka hanya berdiri saling menatap.

Aruna ingin berlari.

Ia ingin memeluk Kai dan menempelkan wajah pada dadanya, mencari kembali bau cat, kopi, dan udara sore yang selalu melekat pada tubuh lelaki itu.

Namun orang-orang bergerak di antara mereka.

Kereta datang dan pergi.

Pengumuman bergema dari pengeras suara.

Aruna berjalan mendekat.

“Kamu kurusan,” kata Kai.

“Kamu gondrong.”

Kai tersenyum.

Hanya itu.

Tak ada pelukan.

Aruna tidak tahu siapa yang seharusnya memulai.

Mereka makan malam di kedai kecil dekat stasiun.

Kai membawa sebuah buku sketsa baru.

Lihat selengkapnya