I Know Everything

Arjun
Chapter #1

Prolog

[ 45 tahun yang lalu - di laboratorium MENDA ]


Suara dan gema dari berbagai mesin dan alat canggih di dalam ruangan itu saling bersahutan masuk ke dalam telinga semua orang yang ada di dalam.

Pintu di laboratorium itu terbuka dengan otomatis.

Tiga orang dengan dua pria dan satu perempuan memasuki laboratorium itu, berjalan melintasi deretan ruangan dengan kaca tebal.


Berbagai spesimen aneh berada di dalam sana.

Lima dari mereka hampir tidak bergerak sama sekali.

Namun ada juga yang memberontak di dalam sana.


Beberapa peneliti berdiri kaku sambil memfokuskan pandangan dingin mereka ke spesimen-spesimen itu dari balik panel yang melindungi mereka dari mereka.

Gumaman lirih juga keluar dari mulut peneliti itu.

Sangat pelan, seolah tidak ingin orang lain mengetahuinya.


Mereka bertiga menghentikan langkah mereka di salah satu ruangan yang masih kosong.


Seorang pria muda menoleh ke ruangan itu.

Bahkan refleksi dirinya tidak ada di kaca itu.


Satu pria lagi dengan sayap putih di belakangnya memegang lembut pundaknya.“Kamu benar-benar sudah memikirkan ini?” Ucapnya dengan nada berat.

Pria muda itu memindahkan tatapan ke arahnya, lalu ke perempuan di sebelahnya.

Perempuan itu menatapnya balik. Terlihat lebih khawatir dari biasanya.


Pria muda itu menghela pelan nafasnya, lalu tersenyum tipis ke arahnya.


Ia memindahkan pandangan ke pria dengan sayap putih itu. “Saya siap.”


Pria dengan sayap memejamkan matanya sejenak. “umur yang panjang itu tidaklah mudah untuk di rekayasa, jika ini gagal, kamu akan menerima resiko yang tidak sesiapun tau.”

Ia membuka matanya lalu menoleh ke arahnya. “Belum terlambat untuk merubah pikiranmu.”

“Selama itu tidak memakan kewarasan saya, saya lakukan.” ucap pria muda itu tanpa keraguan.

Pria bersayap itu mendengus tipis. “Baiklah, itu yang kamu pilih.”


Ia memanggil orang yang bertugas di ruangan itu untuk membuka pintu ruangannya.


Petugas itu menekan alat besar di depan dengan cepat.

Tak butuh waktu lama, pintu di depan perlahan terbuka.

Suara besi yang saling bergeser langsung memenuhi telinga.


Sebelum masuk pria muda itu sempat menoleh ke arah perempuan di sampingnya. “Sera, kalau ini seandainya gagal, dan aku bertahan… kamu masih mau kan, temenan denganku?” Tanya pria itu dengan lembut.


Sera terdiam sesaat, Sayap di pinggangnya sedikit naik dengan cepat sebelum kembali ke posisi semula.

Lihat selengkapnya