I Know Everything

Arjun
Chapter #2

Teman Penolong Pribadimu

[ 45 tahun kemudian, di Kota Delwis ]


Matahari bersinar terang menyebar cahaya yang menyengat ke seluruh penjuru kota itu.


Di salah satu kampus yang ada disana.

Gerombolan mahasiswa dan mahasiswi melangkah keluar dari sana dengan obrolan di sepanjang jalannya.


Beberapa dari mereka masih mengenakan toga, namun ada juga yang melepas nya saat acara perpisahan itu telah berakhir.


Semakin lama, mahasiswa yang ada disana semakin berkurang.


Tempat yang awalnya sangat ramai berubah menjadi lebih sepi.


Azat berjalan keluar dari kampusnya sambil membawa toga yang terlipat dan gulungan kertas di tangannya.


Tatapannya berpindah ke belakang melihat bangunan itu.

Tidak ada lagi jadwal untuk besok.

Tidak ada lagi ospek.


Hanya dirinya dan orang seangkatannya yang telah bebas dari sana.


Nerdi berjalan menghampirinya lalu berhenti di samping.

"Bisa kangen juga lu sama tempat kayak gini." Ucapnya.


Azat tidak langsung menjawab.

Pandangannya berpindah ke wajah Nerdi.

"Siapa bilang? Aku cuma lihat bentar."


Nerdi terkekeh pelan. "Percaya aja dah."


Ia memukul pelan bahu Azat beberapa kali, "Gw duluan, ikut gak?"


"Engga, aku langsung pulang aja." Balas Azat.


Nerdi mengangkat kedua bahunya, lalu berjalan pergi.

"Oke, hati-hati di jalan, jangan tersesat."


Azat menatap punggungnya yang mulai berjalan pergi.

Ia membalikkan badannya, lalu berjalan berlawanan arah dengannya.


...

Matahari masih bersinar terang di atasnya.

Mobil dan kendaraan lainnya berlalu lalang dengan suara yang keras.


Langkahnya menyusuri kota itu dengan pelan.

Sampai kakinya terhenti di salah satu gang kecil disana.


Pandangannya terpaku ke dalam.

Cukup lama.

Sebelum ia memutuskan untuk berjalan masuk kesana.


Hampir tidak ada cahaya yang masuk ke dalam sana.

Jalan di depannya lebih gelap, hanya cahaya kecil dari matahari yang menyinari tempat itu.


Suara dari kendaraan langsung teredam saat di dalam sana.

Hanya langkahnya dengan cipratan air yang terinjak setiap beberapa langkah.


Matanya fokus menangkap apa yang di depan tanpa menoleh ke arah manapun.


DUK...


Suara memantul yang halus terdengar samar memasuki telinganya.


Azat sempat menghentikan langkahnya sambil melirik sekitar.

...

Kosong.

Hanya barang rongsokan dan tempat sampah yang tidak penting.


Langkahnya kembali berjalan semakin dalam.


Lihat selengkapnya