I Know Everything

Arjun
Chapter #6

Chapter-5

Azat melangkah di pinggiran jalan, mengikuti arus dari warga lain yang berlalu lalang.


Hampir semua yang ia lihat hanyalah manusia dengan bulu ataupun sisik kasar di kulit mereka.


Sesekali orang dengan sayap terbang di atasnya, menghalangi cahaya matahari untuk sesaat.


Mobil dan kendaraan lain juga masih berlalu lalang seperti kota pada umumnya.


Azat menaikkan tangan yang memegang Pals, mendekat ke arahnya.

“Pals, aku ga betah, bisa cariin tempat buat santai.” Bisiknya.


“Tentu, aku bisa arahkan kamu ke sana.” Jawab Pals.


Pals melompat beberapa kali sampai dirinys menghadap ke depan.

“Lurus, nanti aku bakal belokin wajahku ke kiri atau kanan pas udah dekat.”


Azat mengangguk sekali, lalu mempercepat langkahnya.


Setiap beberapa langkah, Pals membelokkan dirinya ke kiri, lalu kanan.

Dan Azat membelokkan langkahnya sesuai dengan yang diarahkannya.


Sampai dirinya cukup jauh dari rumah andre.

Memasuki gang lebih kecil, dengan orang yang lebih sedikit.

Bahkan… hutan yang mereka lalui juga mulai terlihat.


Pals kembali membelokkan tubuhnya ke kiri, lalu melompat beberapa kali.

“Kita sampai.”


Sebuah kafe kecil, tertutup oleh bangunan dan gedung tinggi.

Kursi bulat dengan meja tertata rapi diluar, begitu juga dalam.


Azat menarik panjang nafasnya. “Tempat sih santai, tapi ga sampe ujung juga, hutannya sampe keliatan loh.”


Pals tertawa tipis. “Ya kamu yang minta, aku membantu sesuai dengan kepribadian pemiliknya.”


Azat hanya menghela nafas, lalu berjalan ke kafe kecil itu.

“Ya, serah dah.”


Ia menjatuhkan dirinya ke kursi, sambil menaruh Pals di meja.


Pintu di kafe itu terbuka.

Terdengar langkah cukup cepat menghampirinya.


Azat menatap cepat ke arah suara, begitu juga Pals yang langsung memutar tubuhnya.


Orang yang menjaga kafe itu langsung berdiri kaku, sambil menutup sebagian mukanya dengan buku nota.


Azat mengangkat cepat kedua alisnya.

“Oh, ku kira siapa, maaf-maaf.”


Perlahan orang itu menurunkan tangannya.

“G-gapapa, selamat datang ke kafe kecil ini, m-mau pesan apa?”


Azat tidak langsung menjawab.

Tatapannya berpindah sesaat ke arah Pals.

“... Air dingin aja deh, mbak, cuma istirahat bentar disini.”


“Baik, tolong tunggu sebentar.” Ucap gadis itu.


Ia membalikkan badan, dan dengan cepat berjalan masuk ke dalam.


Tak butuh waktu lama.

Gadis itu kembali, sambil membawa sebotol minuman dingin.


Ia menaruh minuman itu di meja.

“Ini, silahkan.”


“oke, terimakasih mbak.” Jawab Azat.


Gadis itu mengangguk sekali, lalu berjalan mundur.

Ia kembali berjalan masuk ke dalam.


Azat membuka tutup minumnya.

Sebelum meneguk, ia sempat memandang Pals di meja.


Tangannya menyodorkan minuman itu ke arahnya.

“Kamu minum gak?”


Pals menatapnya.

Matanya terpejam lalu berputar ke kiri dan kanan beberapa kali.

“Tidak, aku tidak minum.”


“Ga salah sih, manusia juga bukan.” Balas Azat.


Ia meneguk minumannya terus menerus, sambil memperhatikan jalan.

Banyak dari mereka yang berjalan keluar dan masuk.


Beberapa manusia dengan sayap juga mendaratkan diri mereka kesini.


Ia meneguk minumannya lagi, lalu menoleh ke Pals.

“Pals, kalo aku pengen sayap gini, angan-angan tingginya apa?”


Pals terdiam sesaat, sambil mengarahkan dirinya ke jalan, sebelum kembali ke arahnya.

“Bebas, dan suka mengeksplor tempat.”


Azat menganggukkan pelan kepalanya.

“Jadi kalo aku punya angan-angan tinggi gitu, aku bisa?”


“Ya, secara bertahap, sayap itu akan muncul di belakang mu, kalau kamu konsisten dengan itu.” Jawabnya.


Azat meneguk minumannya untuk ketiga kali, lalu menatap orang-orang yang bersayap itu.

“Tapi cara tumbuhnya gimana, kok bisa punya begituan.”

Lihat selengkapnya