Azat memperhatikan setiap gerakan dari orang itu.
Setiap beberapa langkah, ia berhenti, lalu menoleh ke sekitar.
Seolah mencari sesuatu.
Langkahnya kembali berjalan, semakin jauh dan jauh.
Azat membalikkan badannya, menghadap ke Pals.
"Pals, kalo kamu denger, aku keluar dulu bentar, ngecek orang diluar."
Pals tidak menjawab.
Matanya masih tertutup, persis seperti saat pertama ia menemukannya.
Azat mulai membuka pintu kamarnya, namun saat melangkah keluar.
"apa yang ngebuat kamu ingin keluar, azat?" Ucap Pals dari belakang.
Azat menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang.
"Ada sesuatu yang narik perhatian aku, inget kan sama orang yang sayapnya di pinggang?"
"Iya, kenapa?" Tanya Pals.
"Aku mau liat, gerak-gerik dia rada aneh." Jawab Azat.
Pals terdiam sesaat, sambil menatap wajar Azat.
"... Kamu yakin? Aku bisa menemani, kalau seandainya dia berbahaya."
"Engga, kamu disini aja, aku cuma ngecek, keburu ilang orangnya." Ucap Azat sambil bergegas keluar.
"Kamu tidak tau dia berbahaya atau tidak." Ucap Pals.
Azat tidak menjawab, hanya menatapnya dengan cukup lama.
Ia berjalan cepat ke pintu, lalu membukanya.
Langkahnya langsung menuju ke teras, dan menatap ke arah orang itu lewati.
Samar terlihat sayap putih dari orang itu.
Semakin jauh... dan semakin mengecil.
Langkah Azat mulai mengikuti orang itu.
Sangat pelan, tanpa mengeluarkan suara langkah kaki.
Saat orang di depan menghentikan langkahnya.
Azat dengan cepat menepi, menyembunyikan dirinya.
Entah di pot tanaman yang besar, atau teras orang lain.
Orang di depan kembali menghadap ke depan, lalu berjalan pergi.
Bulan di atas semakin naik, sampai berada di tengah langit.
Semua rumah dan bangunan sudah tertutup.
Tanpa sadar langkah orang itu membawa dirinya ke gang yang sebelumnya ia lewati.
Terus berjalan, sampai memasuki kawasan hutan.
Azat sempat terdiam menatap punggungnya yang semakin masuk ke dalam.
Namun entah kenapa, rasa penasarannya lebih tinggi dari insting bertahan hidupnya.
Langkahnya kembali mengikuti dengan pelan di belakang.
Pepohonan mulai memenuhi matanya.
Tempat yang awalnya penuh warna, berubah menjadi hanya coklat dan hijau.
Setiap langkahnya selalu mengeluarkan suara dari tanaman yang terinjak.
Walau pelan, tetap saja itu menarik perhatiannya.
Orang itu kembali menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang.
Azat menyembunyikan dirinya di balik pohon.
Dirasa cukup lama, ia mengeluarkan kepalanya terlebih dulu.
...
Tidak ada orang di depannya.
Satu alisnya menurun.
'Lah, orangnya mana?' batinnya.
"Kamu ngikutin aku, ya?" Ucap seseorang di belakangnya.
Azat dengan cepat menoleh ke depan.
Melihat seorang gadis berdiri di dekatnya.
Ia refleks memundurkan langkahnya, walau hanya berujung bersandar di pohon.
"E-engga... Aku cuma..."
Ia terdiam.
Tatapannya tertuju ke sayap yang gadis itu miliki.
Berada di pinggang.
Bukan mengarah ke atas, melainkan turun ke bawah.
Tatapannya kembali ke wajahnya. "Kamu orang yang punya sayap itu? Kok bisa ke belakang ku?"
Gadis itu menatap sayap miliknya.
"Iya, yang kamu ikutin tuh aku."
Ia menaikkan satu sayap ke depannya. "Aku ngepakin pelan sayap ku sampe terbang dikit, makanya tiba tiba aku di belakangmu."