Livy menarik nafasnya sangat panjang.
“... Kamu tau, azrel ada dimana?”
…
Pals terdiam, tidak langsung menjawab.
Tatapannya sama.
Senyumnya sama.
Namun ia tak kunjung membuka mulutnya.
Livy mendekatkan kepalanya ke Pals.
“Pals? Kamu tau dia dimana?”
“Aku tau.” Jawab Pals dengan singkat.
Livy sontak memegangnya lalu menghadapkan Pals ke wajahnya.
“Dimana?”
Pals membuka mulutnya.
Hendak menjawab.
Namun pintu kamar terdengar di buka.
Azat berjalan keluar dari sana.
Livy memindahkan pandangannya ke belakang.
Pals menggulirkan dirinya ke depan, sempat memantul beberapa kali saat mendarat.
“Mungkin ku jawab nanti, Azat sudah datang.”
Azat menjatuhkan tubuhnya di kursi, menghela nafas berat.
Ia menutupi sebagian wajahnya dengan satu tangan.
Livy berdeham tipis, sambil tetap menatapnya.
“Keadaannya gimana, udah mendingan?”
Azat menggeleng pelan. “Udah, dia juga udah cerita.”
“Katanya malem kemarin dia denger suara langkah kaki, sama semacam… nafas berat tapi panjang.” Jelasnya.
Ia meletakkan kedua tangannya di paha, lalu saling menempelkan jari-jarinya.
“nafasnya juga keluar terus, jadi kayak… langkah kaki, campuran sama nafas yang berat.”
Hembusan nafas yang panjang keluar dari mulut Azat.
“Kayaknya aku bakal jagain dia dulu beberapa hari, kalian berdua kalo mau-”
“Aku bisa jaga dia.” Sela Pals.
Kedua orang itu langsung menatapnya secara serentak.
“Kamu yakin?” Tanya Azat.
Ia mendengus kencang. “Kamu cuma bola, emang bisa apa?”
Pals memutar tubuhnya mengarah ke Azat.
“Aku bisa tau apa yang akan terjadi, aku bisa memberi peringatan bahaya beberapa saat sebelum kejadian.” Jelasnya.
“tapi aku tidak bisa memberikan contohnya, itu akan terjadi secara otomatis.” Ucapnya sekali lagi.
Mereka tidak menjawab.
Hanya diam seribu bahasa.
“Tapi tetep, kamu cuma bola, ga bisa ngelindungin dia.” Ucap Azat ragu.