Vina menduduki kasurnya, dengan pals berada di pangkuan menghadap ke arahnya.
Senyumnya terlihat hangat, tanpa celah untuk ia melakukan hal aneh.
Ia mengelus lembut bagian samping dari wajah Pals.
“Pals, kamu tau?”
“Soal makhluk itu?” tanya Pals.
“Iya, kakakku udah ceritain juga kan ciri-cirinya.” sahut Vina.
Pals tersenyum lebih lebar.
“Yang aku tau hanya makhluk itu berbentuk mirip dengan manusia, dengan anatomi yang kurang normal.”
Mata yang awalnya bulat sempurna tiba tiba terpotong sebagian menjadi datar yang melekuk ke atas.
“maaf, tapi yang ku lihat hanya itu, sisanya seperti yang aku katakan tadi, hanya gelap.”
Vina menghela nafas pelan.
“Gapapa, kamu bakal tetep nemenin aku, kan?”
Mata Pals kembali normal.
“Tentu, azat sudah memberiku tugas itu untuk sementara.”
Tatapan Vina berpindah ke pintu kamarnya.
“Sekarang… kita ngapain? Kakakku emang kemana tadi?”
“Dia bersama seorang gadis bersayap, diminta untuk menemaninya jalan-jalan di kota.” jawabnya.
Vina kembali menatap Pals. “Pacarnya?”
Pals menaik-turunkan dirinya.
“Ya, bisa dibilang begitu.”
“Kita bisa mengobrol santai, atau kau ingin berjalan-jalan saja seperti mereka berdua.” Usul Pals.
Vina tidak langsung menjawab.
Tatapannya kembali mengarah ke pintu kamarnya.
Cukup lama, sampai akhirnya ia beranjak lalu berjalan keluar.
Pintu terbuka, dan Vina langsung berjalan menuju belakang.
“Kamu mau kemana?” tanya Pals.
“Ke dapur, aku belum makan aslinya.” Jawab Vina.
Ia memasuki dapur, lalu menaruh Pals di atas kulkas.
“Kakakmu udah khawatir sama kamu, tapi kamu malah bohong ke dia?” Tanya Pals.
Vina membuka kulkas itu, lalu mengambil beberapa lauk di dalam.
“Aku tau, biar dia ga khawatir aja, lagian dia juga dapet tamu.”
Pals tidak menjawab lagi.
Ia menurunkan dirinya sampai menghadap ke Vina.
“Vina.”
“Ya?” sahut Vina sambil menatapnya.
“mesin kulkas ngehasilin panas, dan aku ngerasain itu.” Ucap Pals.
Vina terdiam sesaat, sambil menatapnya dengan bingung.
“Kamu… bisa ngerasain?”
Pals tidak menjawab, dan hanya menaik-turunkan dirinya.
Vina menaruh lauk di dekat kompor, lalu mengambil Pals.
“Maaf-maaf, aku ga tau.”
Pals diletakkan di lantai keramik tempat kompor dan laci bumbu tersusun.
Vina menggeser pemutar kompor itu beberapa kali.
Sampai akhirnya api menyala kecil.
Panci diletakkan di atas api api, menunggunya untuk panas.
Ia menoleh ke arah Pals.
“Pals, aku nanya sesuatu, boleh?”
Pals mengangkat wajahnya. “Tentu, tanya saja.”
Vina diam sejenak.
“... Kamu sebelum ketemu kakak ku, pemilik mu yang sebelumnya siapa?”
Pals terdiam, tidak langsung membuka mulut.
Senyumnya masih sama.
“... Kamu ingat dengan insiden di gang, yang aku sebutkan beberapa hari kemarin?” Tanya Balik Pals.
Vina mengangguk pelan. “Iya, inget, katanya makan korban.”
“sebelumnya aku adalah milik mereka.” Jawab Pals dengan cepat.
Vina mengangkat cepat kedua alisnya.