I Know Everything

Arjun
Chapter #13

Chapter-12

Vina memandang kakaknya yang membuka pintu kamar dengan tangan yang masih memegang gagang.

Menatapnya dengan khawatir...


"Kakak...?" Kata Vina.


Azat menatap laci kecil tempat Pals diletakkan sebelumnya.

"Pals mana? Kamu gapapa, kan?"


Vina membuka selimutnya, memperlihatkan Pals yang ada di dekatnya.


Pals menghadap ke arah Azat dengan senyum kecilnya.

"Kamu sudah pulang? Bagaimana perjalananmu?"


Azat berjalan menghampiri mereka berdua.

"Agak tersesat, kamu ga ketemu makhluk itu lagi?"


Vina menundukkan pandangannya.

Terlihat tangannya masih gemetar.

"makhluk nya... Bukan lagi diluar, tapi udah mulai masuk ke rumah."


Ia menceritakan setiap detail yang telah dialami.

Tentang langkah kaki itu.

Nafas itu.

Dan rintihan samar yang terdengar seperti memanggil nama orang.

Kecuali Pals yang kehilangan mata dan mulutnya.


Di tengah pembicaraan, gadis bersayap itu ikut memasuki kamarnya.

Kemungkinan memperhatikan cerita itu juga.


Azat membeku di kasurnya, dengan satu tangan perlahan mengepal.


Ia menarik cepat nafasnya.

"Harusnya kakak ga ninggalin kamu..."


Vina menggelengkan kepalanya pelan.

"Engga, justru kakak yang aman, kan lagi diluar rumah. Pals juga beneran ngasih peringatan ke aku, jadinya selamat."


Azat menghela nafas pelan.

"Tapi tetep aja."


"Semuanya aman, Azat. makhluk itu kemungkinan besar tidak akan datang lagi dalam waktu dekat." Ucap Pals.


Azat berdecak kecil, sembari menganggukkan kepala.

"Semoga..."


"Kamu tidur lagi gih, Pals temenin dia lagi bisa kan?" ucapnya sekali lagi.


"Tentu, aku bisa menemaninya lagi." Jawab Pals.


Gadis bersayap itu berjalan menghampiri mereka.

"Aku bakal ikut jagain adikmu."


Azat menoleh ke samping.

"Kamu yakin? Kasurnya kecil loh, ga cukup buat dua orang."


Gadis itu tersenyum kecil.

"Aku tidur sambil duduk, udah biasa."


Azat terdiam sesaat.

Tubuhnya beranjak dari kasur.

"makasih, jangan kalian apa-apain tapi."


Gadis itu tidak menjawab, hanya memberikan ibu jarinya.


Azat mulai berjalan, keluar dari kamarnya.

Tangannya memegang gagang pintu, lalu menariknya sampai tertutup rapat.


Langkahnya terdengar menjauh, sampai akhirnya menghilang.


Vina memindahkan tatapannya ke arah gadis itu.

"Omong-omong, kakak siapa? Kok tiba-tiba ikut kerumah?"


Livy menoleh ke arahnya, tersenyum tipis.

"Aku livy, aslinya ga sengaja aja ikut sama kakakmu, jadinya mau ga mau aku tinggal disini dulu sementara."


Vina mengangguk pelan.

Matanya menangkap kedua sayap kecil yang berada di pinggangnya.

"Kakak punya sayap? Cantik banget..."


Lihat selengkapnya