I Know Everything

Arjun
Chapter #14

Chapter-13

Rintikan hujan masih membasahi jalanan.

Suara air yang mendarat di aspal jalanan, menghasilkan suara percikan yang entah mengapa… terdengar tenang di telinga.


Livy berjalan pelan.

Sangat pelan.

Sesekali menginjak genangan air di jalannya.


Tatapannya berpindah ke bawah, sambil menghentikan kakinya.

Refleksi tubuhnya yang sama persis, tanpa ada yang berbeda.


Langkahnya sekali lagi menginjak genangan air, dan refleksi di tubuhnya sempat terdistorsi, sebelum kembali normal.

Tetesan air mulai membasahi penuh tubuhnya.

Kedua sayapnya berada di posisi awalnya.


Ia mendongakkan kepalanya ke atas.

Mata terpejam, dan dengan pelan menarik nafas.

Mencium segala bau yang dikeluarkan dari tetesan air itu.


Langkahnya kembali berjalan maju.



Vina berjalan pelan melewati lorong.

Ia kembali menyampirkan tasnya ke bahu.


Cahaya tidak menerangi tempat itu.

Siswa dan siswi saling melewati satu sama lain.


Langkah Vina berhenti di depan kelasnya.

Ia menggeser pelan pintu itu, lalu berjalan masuk ke dalam.


Beberapa pasang mata sempat tertuju ke arahnya, sebelum kembali ke urusan masing-masing.


Vina kembali berjalan menuju bangkunya, dan langsung menjatuhkan tubuhnya saat sampai.

Ia menaruh tas miliknya di lantai.


Beberapa menit berlalu, di isi dengan obrolan dari murid yang lainnya.


Bell sekolah berbunyi nyaring.

Tak butuh waktu lama, pintu kembali tergeser.


Guru mapel berjalan masuk ke dalam, lalu duduk di kursi khususnya.


Satu persatu murid mulai mengeluarkan buku, walau beberapa tidak mengeluarkan apapun.


Vina meraih tasnya di lantai, lalu menggeser resleting tas nya ke samping.

Perlahan terbuka.


“Hai, Vina.” lirih Pals.


Vina sontak menjatuh tasnya.

Suara keras yang hanya terjadi satu detik langsung memenuhi kelas.


Semua mata tertuju ke arahnya.

Vina terdiam sejenak, lalu tertawa kering.

“Tadi… ada belalang kayu.”


Ia menunjukkan satu tangan yang memegang pensil. “Tapi ternyata pensil.”


Tanpa separah katapun, semua mata langsung kembali ke urusan mereka.

Guru kembali menjelaskan materi dengan suara yang keras.


Vina menaruh pensilnya di meja, dan meraih tasnya lagi.


Pals tergeletak di dalam, menghadap keatas dengan senyum itu lagi.


“Kamu kok bisa disini?” Tanya Vina kebingungan.


“waktu kamu buru-buru ngambil barang, kamu tanpa sengaja masukin aku juga.” Jelas Pals dengan suara pelan.


“Tapi kenapa ga ngomong aja kalo kamu disitu, Livy nyariin kamu loh.” Balas Vina dengan berbisik.


“aku sudah bicara, tapi kamu tidak dengar, suaraku ketutupan sama tasmu.” Sahut Pals.


Vina menghadap ke depan untuk sesaat, lalu kembali ke arah Pals.

“Yaudah, kamu disitu aja, diem ya? Jangan gerak.”


Lihat selengkapnya