“... Teman…?” Tanya Pals dengan senyum yang hilang dengan titik putih di matanya.
Vina mengangguk sekali dengan cepat.
“Iya, kita kan temen, kan?”
Ia tersenyum kecil.
“Kamu dah ngajak aku ngobrol, nemenin aku tidur, terus jagain aku lagi, kalo bukan temen, terus apa?”
Pals terdiam sejenak.
Titik putih kecil di matanya hilang, dan senyum kecilnya kembali.
“iya, kita teman.”
Ia tertawa tipis.
“Aku jadi penasaran, selama ini semua orang yang ku temuin… Mereka anggap aku apa.”
Vina mengangkat satu bahunya, sambil melirik sesaat ke samping.
“Siapa yang tau, bisa aja beda-beda.”
“Omong-omong, ini pertama kalinya aku denger, kamu penasaran sama sesuatu.” Ucapnya sekali lagi.
“Pola pikir manusia itu kompleks, aku memang mengetahui segalanya, tapi manusia? Aku tidak bisa menebak dengan akurat.” Jelas Pals.
Vina hendak menjawab kembali.
Namun bell sekolah yang berbunyi menghentikan kalimat yang sudah menetap di mulutnya.
Pelajaran sebentar lagi akan kembali dimulai.
“Kamu mau tetep disini atau masuk ke tas?” Tanya Vina.
“Aku disini aja, di dalam tas terlalu sempit.” Jawab Pals.
Vina tidak menjawab.
Ia mendorong Pals semakin masuk ke dalam kolong mejanya, sebelum kembali menghadap ke depan.
Pintu kelas digeser pelan.
Gerombolan siswa dan siswi memasuki kelas, lalu diikuti dengan guru pelajaran dengan pakaiannya yang sedikit basah.
—
Tetesan air masih berjatuhan dari atas langit.
Terlihat lebih deras dari sebelumnya.
Azat berjalan keluar dari dapur, dengan segelas minuman di tangannya.
Ia menaruh minuman itu di meja, lalu menduduki kursi ruang tamu.
Ia mulai meneguk minuman itu sekali.
Tubuhnya bersandar ke belakang.
…
Hanya suara hujan.
Dan ia sendiri, bersama segelas minuman di meja.
Samar terdengar langkah kaki pelan berjalan di depan rumahnya, sesekali mengeluarkan suara cipratan air.
Azat kembali meneguk minumannya, lalu menoleh ke arah pintu.
Tak butuh waktu lama… Sesosok gadis dengan sayap putih bersih berhenti di depan rumahnya.
Sekujur tubuhnya basah kuyup.
Setetes demi setetes air keluar dari sayapnya.
Azat menghela nafas pelan.
“Buset dah… beneran main hujan.”
“Cie~ nungguin, ya?” Goda Livy.
“Ha-ha, pinter banget nebaknya.” Balas Azat dengan tawa sinisnya.
“Lagian, kamu katanya lebih tua jauh dari aku, sempet-sempetnya main ujan.” Protesnya.
Livy tertawa tipis, memasukkan satu kakinya ke dalam rumah.
“sesekali, pengen ngerasain masa kecil-”
Azat sontak mengangkat satu tangannya, sambil mengeluarkan jari telunjuk yang kemudian di kibas ke kiri dan kanan.
“Stop disitu, tunggu badanmu kering.”
Livy tidak menggubris, dan tetap berjalan masuk sambil menatapnya dengan senyum miring.
Tetesan air mulai membasahi lantai rumah di setiap langkahnya.
Azat menarik berat nafasnya, sambil memalingkan wajah.
“...anyink.”
“Udah, aku langsung ganti baju, kok.” elak Livy.