I Know Everything

Arjun
Chapter #18

Chapter-17

Langkah mereka akhirnya berhenti saat dirasa sudah lebih jauh dari rumah itu.

Nerdi menaruh tasnya ke tanah, mengeluarkan barang-barang yang dibawanya pagi tadi.


Azat menolehkan kepalanya ke belakang.

Rumah itu masih tertangkap jarak pandangnya.


"Azat, weh! Bantu gelar tenda sini." panggil Nerdi.


Azat mengerjap beberapa kali, sebelum kembali menatap ke arah Nerdi.

Langkahnya langsung menghampirinya.


"Aku bisa bantu apa?" tanya Livy.


Nerdi terkekeh beberapa kali. "Nah kalo lu duduk manis aja, biar kita yang urus."


"Modus jir," gumam Azat.


Nerdi berdesis cepat ke dekatnya. "Bacot, ini teknik memikat hati wanita."


"Iyain aja deh..." jawabnya.


Mereka merakit tenda untuk tempat mereka istirahat nanti.

Menit demi menit terlewat tanpa terasa.


Dua tenda akhirnya selesai, saling berjejeran satu sama lain.


Nerdi menyeka keringat yang ada di dahinya.

"Nah, selesai juga akhirnya."


Azat tidak menjawab, begitu juga dengan Livy.


Tatapan Nerdi sontak berpindah ke mereka berdua.

"Eksplor hutan yok."


Azat sontak menoleh ke matanya, sambil melemaskan kedua bahunya.

"Nerd... kamu- sumpah, ku genjreng kepalamu."


Nerdi tertawa kecil. "Ya, abis mau kemana? Mau main api unggun sambil tepuk pramuka? itu mah malem."


Ia menghadapkan tubuhnya samping.

Jalan menuju kedalaman hutan yang lebih dalam.

"Kalo kamu mau diem disini juga... Gapapa, gw sendirian aja."


"Sayangnya aku tidak akan memberikanmu izin untuk melakukan itu, tuan Nerdi." ucap seseorang di belakang mereka.


Tatapan mereka bertiga perlahan berpindah ke belakang.


Monian berjalan mendekati mereka, dengan salah satu telinganya bergerak cepat.

"Semakin kalian masuk, semakin berbahaya juga hewan yang ada di dalam sana.


ia memejamkan matanya.

"Larangan diciptakan untuk menghalangi kalian orang-orang dengan rasa penasaran tinggi untuk celaka."


"Maka dari itu, tolong taati peraturan yang sudah mereka ciptakan." Ucapnya sekali lagi dengan nada lebih rendah.


Azat menunjuk ke Nerdi dengan jari telunjuk. "Dia, pak, bukan saya."


Nerdi menghela nafas panjang. "Oke... Fine, gw turutin aja, Ketat banget jadi orang."


Ia berjalan menuju tenda miliknya. "Gw istirahat bentar di tenda kalo gitu."


Livy menatap ke arah Monian. "Kamu... udah tau ya kalo dia bakal ngelakuin itu?"


Monian menoleh. "Tidak juga, aku cuma menebak apa yang dilakukannya, semenjak dia berbohong di depanku sebanyak dua kali."


"Lagi pula... Ga semua orang juga bakal masuk jauh ke hutan selain kamu." ucap Monian sekali lagi.


Livy terdiam, kedua sayapnya sempat terangkat ke atas, sebelum kembali ke posisi semula.


...

Hening terjadi di antara mereka.

Terlalu lama, dan terlalu canggung.


Azat menaruh kedua tangannya ke belakang kepala.

"Kalo gitu... aku ke tenda nemenin Nerdi deh."


"Untuk sementara saya akan berada di dekat kalian, memastikan teman kalian yang satu itu tidak berbuat yang aneh-aneh." ucap Monian.


Azat membuka penutup tenda itu, sampai terbuka lebar.

Namun bukannya melangkah masuk, Azat terdiam sambil terpaku ke dalam isi tenda.


"Kamu kenapa?" Tanya Livy yang memandangnya.


Azat tidak langsung menjawab.

Ia menegakkan tubuhnya, lalu menoleh.

"Tendanya... punya dua pintu..."


Ia terdiam, sambil berdesis kecil. "Kayaknya... Nerdi cabut deh. masuk ke dalem hutan."


Monian menghela nafasnya panjang, lalu berjalan pergi menuju dalamnya hutan.

"Seharusnya aku tau itu lebih cepat..."


Azat menatap punggungnya yang semakin jauh.

Lihat selengkapnya