I Know Everything

Arjun
Chapter #20

Chapter-19

Matahari sudah memperlihatkan wujudnya dengan cahaya yang melewati sela-sela dari daun di hutan itu.

Hutan kembali berwarna cerah.


Api unggun sudah dimatikan, menyisakan kayu yang terbakar sampai menjadi arang, dengan asap samar keluar dari sana.


Beberapa menit berlalu dalam diam, dengan Monian yang berdiri tegak di dekat tenda mereka berdua.


Sampai akhirnya Nerdi perlahan bangkit sambil mendesah panjang.


Monian membungkukkan tubuhnya sampai sejajar dengan tenda mereka.

"Selamat pagi, bagaimana tidurnya?"


Nerdi menguap pelan. "Mayan lah. Mayan banyak nyamuk maksudnya."


Ia menoleh ke arah Monian. "Masih boleh eksplor gak?"


Monian tidak langsung menjawab, menaruh tangannya di atas tenda.

"Tidak, saya sudah memperingatkan kalian berkali-kali, terutama ke kamu."


"Semakin dalam kalian masuk, semakin berbahaya makhluk yang ada di dalam. percayalah, bukan hanya makhluk buas biasa yang ada di hutan ini."

jelasnya sekali lagi dengan nada tegas.


Nerdi mengerang pelan, dengan kepala yang terangkat lalu turun lagi.

"Oke deh, gw percaya, lagian gw dah janji juga cuma dua hari disini."


Monian tersenyum kecil. "Terimakasih sudah memahami keadaannya."


Ia kembali menegakkan badannya, lalu berjalan pergi.

"Waktunya kita berkemas, kamu tolong bangunkan mereka."


Nerdi menghela nafas kecil.

"Siap... Ketua."


Ia mulai membangunkan Azat yang berada di sampingnya, dan Monian membangunkan Livy dan kucing setengah badan itu, yang masih tertidur di dekat api unggun.


Satu persatu dari mereka mulai membuka mata, dan obrolan kecil langsung berputar di antara mereka.

Perlengkapan kembali dimasukkan ke tas, dan tenda mulai dibongkar satu persatu.


Mereka akhirnya melangkah pergi dari hutan itu.

Tatapan Nerdi sempat menengok ke belakang sesaat, sebelum kembali mengikuti mereka.


-


Sementara itu di kota delwis...


Bell sekolah berbunyi nyaring ke seluruh bangunan.

Semua siswa dan siswi berlalu lalang di lorong sekolah, berjalan ke arah manapun yang mereka inginkan.


Vina duduk di sekitaran pohon besar yang ada di taman sekolah.

Dedaunan menutupi cahaya matahari, dan hanya menyisakan titik terang kecil di beberapa sela.


Tidak banyak murid yang berkunjung ke sini.

Hanya ada obrolan dengan suara yang pelan, atau berbisik.


"Kamu nunggu orang, ya?" tanya Pals yang berada di sampingnya.


Vina mengerjap pelan, lalu menoleh ke bawah.

"I-iya, kamu tau darimana?"


Pals terkekeh tipis. "Aku melihat gerak gerikmu, kamu langsung main keluar tanpa ngomong apa-apa."


"Ketauan banget, ya?" ucap Vina sambil memalingkan wajah.


Mereka kembali diam, cukup lama.

Obrolan pelan terdengar halus di telinganya.


Vina kembali memandang Pals. "Ini dah dua hari lewat, kakakku pulang ga, Pals?"


Pals mengangkat dirinya, dengan senyum kecil yang sama. "Dia dalam perjalanan. Besok pagi mereka akan pulang."


Lihat selengkapnya