Vina mencoba menekan saklar lampunya.
…
Gagal.
Lampu di rumah itu tetap mati.
Bahkan berkedip sekalipun tidak.
Tangannya kembali menekan saklar berkali-kali.
Namun hasilnya tetap… Nihil.
Rumah terlalu sunyi…
Tidak ada suara Pals yang menghampirinya.
Nafas keluar dari mulut dan hidungnya terdengar sangat jelas di dalam.
Tangannya meraih saku celana.
Ponsel berada di genggaman, lalu senter depan dinyalakan.
Ia berjalan sangat pelan memasuki rumah semakin dalam.
Samar terdengar suara seseorang dari dapur miliknya.
Tidak jelas, bahkan hanya gumaman aneh.
Vina menelan ludahnya, lalu berjalan semakin dalam.
Semakin ia dekat dengan dapur…
Suara lain kembali terdengar.
Hembusan nafas yang berat, dan rintihan samar.
Vina sontak menghentikan langkahnya.
Sorotan senter dari ponselnya menyelinap masuk ke dalam dapur.
Figur seperti manusia berbungkuk di dalam.
“Urgh… Agh…”
Rintihan lemah terdengar jelas dari dalam.
“Sakit…” Rintih mahkluk di dalam sekali lagi.
Vina membeku di tempat ia berdiri, dengan senter ponsel yang masih mengarah ke dalam.
Mahkluk di dalam masih merintih tanpa henti, Dengan kalimat yang sama terulang lagi dan lagi.
Bahkan terdengar semakin lemah setiap kali selesai berbicara.
Langkah Vina tanpa sadar kembali melangkah ke depan.
Sampai dirinya tepat berada di depan pintu dapur.
Dengan gemetaran tangannya mendorong pintu perlahan.
Sosok itu semakin jelas…
Membungkuk… dengan tangan menutupi kepalanya.
Suara rintih diganti dengan tangisan yang terisak-isak
…
Entah apa yang ia pikirkan.
Vina berjalan masuk ke dalam, mendekati mahkluk itu…
—
Di jalan raya, Mobil Nerdi melaju dengan kecepatan stabil.