I Know Everything

Arjun
Chapter #24

Chapter-23

“Aku tidak tau…” ujar Pals dengan nada pelan.


Mereka terdiam.

Tidak menjawab, bahkan tidak mampu merespon.


Azat sontak mengulur kedua tangannya ke Pals, lalu menariknya sampai dekat dengan wajahnya.

“Maksudmu apa? Kamu harusnya tau segalanya.”


“Jawab, Pals! Dimana Vina?!” tanyanya dengan lantang.


Titik putih kecil di mata Pals berpindah ke samping bawah.

“Maaf, aku tidak bisa memberitahumu.”


“Aku sudah memberikan peringatan ke dia, tapi… dia tidak mempedulikan peringatan itu. Sama seperti pemilik ku yang sebelumnya.” ucapnya sekali lagi dengan nada datar.


Azat mematung diam.

Nafasnya sempat tersendat saat terhembus.

“Kamu…”


Kedua giginya saling bertabrakan.

“Sampah…”


Ia melemahkan pegangannya, menjatuhkan Pals ke lantai.


Tubuh kembali ditegakkan, lalu berbalik arah.

Langkah Azat berjalan keluar dari dapur itu.


Livy menatapnya pergi, lalu menahan bahunya.

“Kamu bakal nyari dia?”


Azat tidak langsung menjawab, hanya membelokkan kepala ke samping.

“Terus mau apalagi? nunggu keajaiban dia tiba-tiba dateng kerumah?”


“Tapi nyari tanpa petunjuk juga sama aja, sampe bertahun-tahun juga ga mungkin ketemu kalo ga punya petunjuk apapun.”


Azat melepaskan pegangan tangan Livy.

“Lebih mending, masih ada kesempatan. daripada cuma diem sampe bener bener hilang.”


Ia kembali berjalan pergi, Sampai dirinya berada di pintu keluar.


Livy menghela nafas pelan.

“Azat, kamu tau, aku juga lagi nyari orang yang hilang, kan?”


Azat tidak menjawab.

Ia menghentikan langkahnya.

“Iya, tapi semenjak bareng kita. kamu lebih milih santai daripada fokus nyari.”


“Mending aku lakuin lebih cepet, daripada semuanya makin hilang.” ucapnya sekali lagi.


Langkahnya berjalan keluar dari rumah.

Memasuki pinggiran jalan, dan menghilang dalam sunyinya malam.


Livy hanya memandangnya, tanpa ikut campur.

Ia memindahkan tatapannya ke arah Pals.


Terlihat Pals bergulir pelan ke dekatnya, lalu berhenti di depan kakinya.

“Maaf, disaat seperti ini aku menjadi… tidak berguna.”


“Bukan salahmu.”


Tatapannya berpindah ke pintu lagi.

“Aku tau rasanya kehilangan orang yang berarti.”


Langkahnya berjalan keluar dari dapur, tanpa membawa Pals bersamanya.

“Satu-satunya yang kepikiran pas pertama kali alamin itu ya… cari dia, walau buta.”

Lihat selengkapnya