I Know Everything

Arjun
Chapter #26

Chapter-25

Azat mengambil ponsel yang berada di kasur.

Layar menyala terang, tangannya menekan beberapa kali.


Suara dering terdengar dari ponselnya, lalu meletakkan ponsel itu ke telinga.


Selang beberapa saat, dering di ponsel itu menghilang, diganti dengan suara seseorang dari. balik sana.


Halo, Azat? Tumben-tumbenan lu nelpon gw, ada apa?” kata Nerdi dari balik telepon.


“kamu ke rumah aku bentar bisa gak? Ada sesuatu yang mau ku omongin.”


Desisan samar terdengar dari telepon.

Bisa sih, cuma…”


Ia terdiam.

Gumaman yang tidak jelas terdengar dari telepon.


Iya, bentar, ini nelpon senior gw.” ucap Nerdi, entah untuk siapa.


Azat menurunkan satu alisnya.

“Kamu ngomong ama siapa?”


Itu, anak magang, minta dibantuin. Padahal bukan job gw.”


Azat menghela nafas pelan.

“Entar kalo dah pulang kamu kesini, ya? Kalo bisa.”


Oke, tapi-”


Telepon di tutup tanpa memberikan kalimat itu selesai.

Azat melempar ponselnya ke kasur, lalu kembali berjalan keluar dari kamar.


Ia menoleh ke samping.

Livy dan Pals masih berada disana, menatap ke arahnya.


“Gimana?” tanya Livy.


Azat berjalan menghampirinya.

“Nunggu dia pulang kerja, baru bisa.”


Ia menjatuhkan tubuhnya di samping Livy.

Untuk sesaat matanya berbelok ke samping, lalu kembali ke atas.

“Jarak dong, Liv, jangan deket-deket.”


Livy tidak menjawab, menjauhkan dirinya sedikit.


Azat mengerang tipis, dengan kedua tangan menyisir rambutnya ke belakang.

“Terus mau ngapain lagi ini… Aku nyari lagi ajalah.”


“Jangan, masih hujan itu loh.”


“Sebenernya kamu nyari orang udah berapa lama? Santai bener ku liat-liat. Udah nemu petunjuk emangnya?” tanya Azat.


Livy tidak langsung menjawab.

Kedua sayapnya di tidurkan di pahanya.

“Petunjuknya udah ada di depan kita, cuma aku belum nemu waktu yang pas buat nanya.”


“Aku juga mulai nyari dia di umur… sama kayak kamu deh, dua puluh lebih.” ucapnya sekali lagi.


Azat terkekeh sekali.

“Emang umurmu berapa sekarang? Tiga puluh? dua lima? ato lima puluh?”


Ia terkekeh pelan sekali lagi. “Ga mungkin lima puluh ga sih?”


“Pokoknya jauh dari kamu, udah itu aja.”


Azat tidak menjawab lagi.

Matanya mengarah ke bawah.

“Pals, umur Livy berapa tahun?”


“Eh, Azat-”


“Enam puluh enam, tahun,” sela Pals.


Mereka terdiam, dengan mata yang mengarah ke Pals.


Azat kembali memandang ke atas.

“Emang ga bisa dipercaya sih nih bola.”


“Muka masih muka-muka orang lulusan kuliah gitu dibilang enam puluh tahun.” gumamnya sekali lagi.


Livy tertawa tipis, yang berhenti lebih cepat.

“I-iya…”


“Aku sudah memberikan yang sebenarnya.”


Azat menghembuskan nafas dengan sengaja sampai bibir bergetar ringan.

“Terserah, makin lama makin aneh pula gerak-gerikmu.”


Obrolan mereka berakhir disitu.

Hujan tak kunjung mereda, malahan semakin deras sampai terdengar dari dalam rumah.


Entah sudah jam berapa, bahkan cahaya matahari tak mampu menyelinap dari balik awan tebal di atas sana.

Lihat selengkapnya