Hujan perlahan mereda ketika siluet dari bangunan itu mulai terlihat dengan mata telanjang mereka.
Awan kelabu tersingkir, kembali memperlihatkan langit cerah dengan matahari yang menjadi cahayanya.
Wiper di mobil itu berhenti. dan Nerdi menginjak pedal rem secara perlahan, sampai berhenti di depan pagar pembatas.
Ia membuka kaca mobil, lalu mengeluarkan kepalanya.
“Mon, Monian!”
Azat memiringkan tubuhnya ke samping.
“Manggil orang tua kayak manggil temen sendiri,” bisiknya ke Livy.
“personal kayaknya.”
Monian berjalan keluar dari pos, menghampiri mobil mereka.
Ia berdiri di pintu depan lagi.
“Selamat datang kembali, ada perlu apa sekarang datang kemari?”
Nerdi menunjuk ke belakang.
“Ini bang, dua bocah pengangguran mau ke hutan.”
Ia mengangkat kedua tangannya. “Saya ga ikutan tapi, besok ngurus anak magang soalnya.”
Monian tidak langsung menjawab, hanya menatap datar ke arahnya.
“Kalo ga percaya mending tanya mereka deh. Saya kasih jari kelingking kalo masih ga percaya.” ucap Nerdi sekali lagi.
Monian memindahkan kepalanya ke pintu belakang.
Azat membuka kaca mobil, lalu mengeluarkan kepalanya.
“Saya minta izin masuk ke dalam hutan tempat kemah kemarin, bisa?”
“Untuk apa?” tanya Monian dengan cepat.
“Nyari adik saya,” balasnya.
Monian tidak menjawab.
Tatapan tanpa terputus saling terjadi di antara mereka.
Ctek, Ctek!
Nerdi menjentikkan jarinya. “Kalo mau negosiasi di luar, jangan di mobil.”
Mereka berdua menatapnya tanpa menjawab sepatah katapun.
…
“Apa?”
Azat menghela nafas berat. “iya deh, lagian situ ada urusan juga.”
Pintu mobil dibuka.
Monian secara refleks mundur beberapa langkah.
“Yok, Liv,” ujar Azat sambil berjalan keluar.
Livy mengangguk tipis.
Ia melangkah keluar dengan Pals di genggaman.
Kini mereka bertiga berdiri di luar pagar pembatas kota.
“Nah, baek-baek mainnya. Entar kalo mau pulang suruh Monian aja yang anter.” ucap Nerdi sambil menutup kaca mobil.
Mesin dari mobil itu bersuara keras, melaju pelan menjauhi mereka berdua.
Azat tidak berbicara apapun, hanya menatap mobil itu.
“Jadi… Apa tujuan kalian datang kemari, untuk ketiga kalinya?” tanya Monian.
Azat menengok ke belakang.
“Nyari adik saya, pak. Boleh kita masuk makin dalem ke hutan kemarin?”
Monian tidak langsung menjawab.
Tatapannya berpindah ke arah Livy.
“Apa benar yang dikatakan oleh orang ini?”
Azat menoleh sesaat ke belakang. “Ceritain sekalian aja, Liv. Biar dia percaya.”
Livy mengangguk pelan.
“Yang Azat bilang bener, malem kemarin sempat ada kejadian…”
Ia menceritakan setiap detail yang diketahuinya.
Dari awal pulang sampai mereka tiba kemari.
Monian mendengarkan dengan seksama.
Sampai akhirnya Livy mengakhiri ceritanya.
Azat kembali menatapnya.
“Udah percaya sekarang?”
“Btw, makasih, Liv.” ucap Azat sekali lagi sambil menengok ke belakang.
Monian menghela nafas tipis, lalu membalikkan badan.
“Kalau kalian memang yakin makhluk itu membawa adikmu ke hutan itu…”
Ia terdiam, langkahnya memasuki pos.
Tak berselang lama kembali keluar.