Pagi akhirnya tiba.
Matahari sekali lagi menyinari hutan itu.
Api unggun hanya meninggalkan asap tipis dengan abu di tanah.
Azat berjalan keluar dari tendanya sambil menarik tangannya ke atas.
Tatapannya berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya.
Sampai tatapannya tertuju ke arah Monian yang duduk di dekat api unggun.
“Kamu ga tidur?” tanyanya.
Monian mengangkat pandangannya.
“Tidur, setelah kalian terlelap, aku juga baru saja bangun setengah jam lalu.”
Ia beranjak dari tempatnya, lalu berjalan ke arah Azat.
“Kamu bisa bangunkan gadis bersayap itu, aku akan membongkar tenda kalian.”
Azat tidak menjawab, hanya berjalan ke tenda sebelah.
Selang beberapa menit, tenda sudah di bongkar.
Livy dan Pals berada di luar tenda.
Monian memasukkan tenda terakhir ke dalam tas.
“Jika kalian melihat sesuatu yang menurut kalian asing, kalian bisa tanya ke aku terlebih dulu.”
“Kita lanjutkan perjalanannya,” ucapnya sekali lagi sambil melangkah pergi.
Perjalanan mereka kembali berlanjut.
…
Rumput terinjak, serangga bersuara.
Angin sesekali berhembus halus menerpa wajah mereka.
Semakin dalam, dan semakin sunyi.
Azat memandang sesaat ke arah sayap Livy.
“Liv, sayapmu tuh… Bisa dipake buat terbang ga sih?”
Livy tidak langsung menjawab.
Ia memajukan lalu menatap satu sayapnya, sebelum beralih ke Azat.
“Bisa, tapi dikit.”
“Dikit? Gimana?” tanya Azat penasaran.
Livy bergumam pelan sambil menatap ke atas.
“Kamu ingetkan, waktu itu aku ngagetin kamu di belakang.”
“Engga.” balas Azat sambil menggeleng.
“Ituloh… Pas kamu buntutin aku.”
Azat terdiam sejenak.
Selang beberapa detik, ia menarik cepat nafasnya sambil menganggukkan kepala.
“Nah itu, aku kepakin dikit sayapku, biar ga nginjek tanah,” ucap Livy.
Azat melipat kedua tangannya, ditempelkan ke dada.
“Coba lakuin lagi, gw penasaran.”
Livy tidak merespon.
Ia tersenyum tipis sembari terkekeh sekali.
“Engga deh, keliatan aneh.”
Perjalanan mereka tetap berlanjut dengan hening lagi.
Entah sudah berapa jauh.
Azat mengerang cukup keras. “Kita jalan sampe kapan sih… Udah jauh banget, capek ini.”
Tatapannya berpindah ke arah Pals yang berada di pegangan Livy.
“Pals, tujuan kita kemana?”
“Jauh dari sini, masih lebih dalam dari hutan,” jawab Pals.
“Bagus, ngebantu banget…” sindir Azat.
Setelah lima langkah mereka lalui.
Monian sontak menghentikan langkahnya, sembari mengarahkan tangan ke mereka berdua.
“Tunggu sebentar.”
Azat dan Livy berhenti.
“Napa? Ada sesuatu?” tanya Azat.
Monian tidak menjawab, dengan pandangan menghadap ke depan.
“Lihat kedepan.”