I Know Everything

Arjun
Chapter #31

Chapter-30

Tidak ada yang bisa matanya bisa tangkap selain gelap.

Azat berjalan sangat pelan menyusuri ruangan itu, dengan satu tangan lurus ke depan sambil digerakkan ke segala arah.


Pals mengeluarkan suara, namun tidak jelas.

Hanya gumaman tanpa arti lagi.


Azat menatapnya sambil menghela nafas pelan.

“Ngomong apa sih…”


Ia mengambil kartu yang berada di mulut Pals.


“Bukannya kamu bawa ponsel? Pake itu aja buat senter,” ucap Pals memberi saran.


Azat menghentikan langkahnya, dengan tangan kembali ditarik.

“Iya-ya.”


Tangan meraih saku, dan hanya satu detik ponselnya sudah berada di genggamannya.


Senter depan dinyalakan, Azat memutar ponsel miliknya.

…

Samar terlihat celah di ujung lorong ruangan itu.

Terlihat turun ke bawah.


Azat menyipitkan matanya, dengan kepala yang ikut maju kedepan.

“Itu… tangga kebawah, Pals?”


“Ya, kamu bisa turun,” sahut Pals.


Azat kembali menatapnya. “Adikku disana?”


“Tidak tahu. Bisa ada, bisa juga tidak.”


Pandangan Azat berubah kecewa mendengar kalimat itu.


Ia berjalan dengan tujuan ke celah itu, sambil tetap menyorotnya dengan senter ponsel.


Setelah beberapa langkah, ia berhenti di dekatnya.

Dan benar saja, anak tangga turun ke tempat lain.


Tanpa menanyakan Pals langkahnya menuruni anak tangga itu sampai akhir.


Senter ponsel kembali menyorot seluruh ruangan.

Beberapa meja tersusun rapi, namun kertas-kertas yang penuh dengan tulisan berserakan dimana-mana, termasuk di lantai yang Ia pijak.

Seperangkat alat elektronik juga masih tertata disana.


“Ini kantor?” tanya Azat sambil mengangkat satu tangan.


Pals tidak menjawab, hanya menaik-turunkan tubuhnya.


Satu dua langkah dijalani, lalu berhenti sambil menatap ke bawah.

Tangannya meraih salah satu kertas kusam yang berada di depan kakinya

Matanya terpaku ke tulisan yang ada disana.


Subjek dengan ribuan suara.

Tingkat bahaya: Agresif.


Makhluk ini ditemukan saat para peneliti melakukan ekspedisi ke ***.


Awalnya mereka hanya menemukan satu ekor, Namun mereka berkembang biak dengan sangat cepat, saat mahkluk itu sudah tersegel di fasilitas ini.


Mahkluk itu memangsa dengan memanipulasi psikologi dari korbannya, kemungkinan dari ingatan atau cara berperilaku.


Yang bisa kita ketahui kali ini, hanyalah satu. Bahwa mahkluk itu dapat mengeluarkan suara yang 100 persen mirip dengan manusia asli.


Jika berada di tempat yang benar-benar sunyi dan tidak ada orang, lalu mendengar suara seperti manusia. Berhati-hatilah.

Ada kemungkinan mahkluk itu yang berbicara.

…


Azat mengernyitkan keningnya, lalu melepaskan pegangannya ke kertas itu.

Tatapannya berpindah ke arah Pals.

“Pals, kamu tau sesuatu tentang ini?”


“Sesuai yang ada di kertas, kita sedang berpencar juga dengan mereka. Dan kalau ada suara manusia, kita harus pergi.”


Pals memiringkan sedikit dirinya. “Kamu mau baca yang lain juga?”


“Kaga, aku bukan Nerdi,” balas Azat sambil berjalan lagi.


Kakinya kembali berhenti, lalu menghadap ke atas.

Lorong tempat yang ia lewati tadi.


“Mending nyusurin ke atas, atau… sini?”


“Pilihanmu,” sahut Pals dengan singkat.


Azat menghela nafas tipis, lalu memutari senter ponselnya.


Dua belah pintu kayu terlihat di salah satu sudut.

Dan ia memutuskan untuk berjalan kesana.


Tangannya mendorong dinding pintu. dan suara decitan langsung keluar dengan keras, sampai menggema ke setiap sudut.


Azat melangkah sekali, lalu menyorot senter ponsel ke depan.

Lihat selengkapnya