I Know Everything

Arjun
Chapter #32

Lantai Terendah Dari Fasilitas Ini

Sementara itu di sisi lain bangunan itu…


Monian menempelkan kartu di alat pemindai, sampai alat itu mengeluarkan suara “BIP.”


Setelah suara itu berakhir, giliran pintu di depan mereka yang mengeluarkan suara nyaring dari besi yang berkarat.

Perlahan pintu terbuka, semakin lebar dan lebar.


Livy dan Monian melangkah masuk, lalu berhenti di tengah ruangan.

Terlihat tiga titik temu yang terdiri dengan pintu besi di setiap sisinya.


Namun… Ada yang berbeda dari pintu di depan mereka.

Lebih besar dari yang lain, sekilas mirip dengan gerbang masuk dan keluar orang-orang disini.


Monian bergumam tipis, sambil merogoh isi di dalam tasnya.

“Aku tidak yakin memiliki akses ke seluruh pintu disini.”


“Kita balik aja gimana? Takutnya Azat kenapa-napa lagi.”


Monian mengeluarkan tangannya. “Ada bola itu yang menjadi temannya, seharusnya dia baik-baik saja.”


Tatapannya berpindah ke pintu yang baru saja mereka lewati.

“Atau kita bisa kembali dan mencarinya di ruangan lain.”


Tepat saat Monian mengatakan itu-


KLAK!

…

KSSHH…


Pintu besi di ruangan itu berdesis kencang yang menggema ke seluruh sudut.

Tatapan mereka berdua berayun dari kiri ke kanan secara perlahan.


Ketiga pintu di ruangan itu terbuka lebar, begitu juga pintu yang berbentuk seperti gerbang yang ada di depan mereka.


“Tunggu…” ucap Monian sambil menengok ke belakang.


Livy mengikuti arah kemana Monian melihat. Dan pintu di belakang sudah tertutup rapat.


Monian menghela nafas tipis.

“Yang bener aja…”


Tatapan Livy berpindah ke arah gerbang di depan mereka berdua.

Tidak ada furnitur ataupun hiasan di dalam sana.

Hanya ruangan kosong yang luas, cukup untuk beberapa orang.


“Lift itu ngebawa kita turun, kan?”


Monian menoleh ke arah gerbang itu.

“Iya, itu bakal bawa kita ke ruangan yang meneliti spesimen.”


“Kita kesana aja, gimana? Siapa tau adiknya Azat ada disana,” jawab Livy dengan cukup.


Monian tidak langsung menjawab.

Kepalanya berbelok ke kiri dan kanan, sebelum kembali terkunci ke depan.

“Baiklah, kita bisa coba.”


Kaki bergerak maju ke depan terlebih dulu.

Livy memejamkan matanya sejenak sambil tersenyum kecil, sebelum menyusulnya masuk ke dalam gerbang.


Kakinya menapak ke pijakan besi ruangan itu.

Besi di lantai sempat mengeluarkan derik yang nyaring.


Livy menundukkan kepalanya.

“Ini yang berat aku, atau kamu, mon?”


Monian tidak menjawab, hanya melirik ke arah Livy.

“Siapa yang tau? Aku yang masuk kesini duluan.”


Tangannya menekan tombol di dalam beberapa kali.

“Aku tidak tau kalau ini masih berfungsi atau tidak. Tempat ini sudah ditinggalkan cukup lama.”


Tombol terakhir ditekan, yang membuat ruangan itu sempat bergetar ringan dan mengeluarkan suara gesekan antar logam.


Pintu di gerbang itu perlahan tertutup, sampai benar-benar rapat.


Monian memindahkan tatapan ke atas.

“Masih bekerja ternyata.”


Ruangan di dalam kembali terasa ditekan ke bawah.

Mereka berdua berdiri diam di sana dalam hening.


Livy memutar-mutar ibu jarinya.

“Kamu kayaknya kenal banget sama tempat ini, tau dari mana emang?”


…

Monian tidak menjawab.

Cukup lama.


Ruangan di lift sempat bergetar kecil beberapa kali.

Sunyi untuk beberapa saat menyelimuti mereka berdua.


Monian menarik pendek nafasnya.

“Sebelum ayahku meninggal, dia sempat bekerja disini. Ibuku menceritakan banyak hal tentang dirinya.”


“Dan sebuah insiden terjadi, salah satu spesimen yang sangat agresif berhasil keluar dari segel, lalu memporak-porandakan tempat ini,” ucapnya sekali lagi.


Livy terdiam sejenak, dengan kepala yang terangkat ke arah Monian.

“Tepatnya… Kapan?”


Monian… Tidak langsung menjawab.

Kepalanya sedikit tertunduk seolah mengingat-ngingat kapan itu terjadi.

“... Kalau tidak salah, sekitar empat puluh tahun lalu. Tapi aku tidak yakin tepatnya berapa.”

Lihat selengkapnya