I Know Everything

Arjun
Chapter #33

Chapter-32

Monian menghela panjang nafasnya. “Apa yang sebenarnya terjadi disini?”


Livy memperhatikan pesan Pals yang terkirim di ponsel Monian, sebelum kembali menatap Monian.

“Terus sekarang gimana? Mereka ga mungkin kejebak tanpa alasan.”


Monian tidak langsung menjawab.

Tangannya mengusap cepat wajahnya.

“Kita berpisah dari sini. Aku bakal coba ngecek apakah itu benar adiknya atau bukan.”


Ia membalikkan badannya sampai menghadap ke titik hijau di sudut ruangan.

“Tadi kamu bilang, terkunci di ruangan security, betul?”


“Iya, bener. Aku disini, ngeliat kalian sama kakakku,” jawabnya dari balik sana.


“Kamu tau ruangannya dimana, Mon?” tanya Livy.


“Aku tau. Kamu juga seharusnya tau dimana ruang tahanannya, kan?”


Livy tidak menjawab selain dengan anggukan kepala yang pelan.


“Kalau begitu, kamu urus mereka,” ucap Monian sambil memasukkan tangan ke dalam tas.


Sebuah kartu berwarna kuning berada di genggamannya, lalu diserahkan ke Livy.

“Berhati-hatilah, pasti ada alasan kenapa mereka bisa terjebak.”


“Aku tau, kamu juga hati-hati, aku tunggu di lift.” jawab Livy dengan tangan yang meraih kartu itu.


Ia mengambil kartu kuning, lalu berjalan ke arah gerbang besar tadi.


Monian kembali mengunci pandangannya di titik hijau.

“Kamu tunggu disitu terlebih dulu, apa ada sesuatu yang berkeliling di sana?”


Suara di sudut ruangan sempat terdistorsi sebentar, sebelum kembali dengan suara perempuan itu lagi, “Kayaknya ada suara orang lain juga diluar tempatku, tapi gatau siapa.”


“Dia ngeluarin kayak… senandung kecil gitu,” ucap gadis itu sekali lagi.


“Baik, kamu tahan sebentar disitu, aku akan kesana.”


Monian berlari pelan menuju lift ruangan itu.

Livy menunggunya disana.


Saat sudah di dalam, tangan Monian menekan beberapa tombol dengan cepat.


Pintu lift tertutup perlahan, sampai kedua pintu besi saling bertabrakan.


…

Selang beberapa menit, Pintu besi membuka jalan untuk Monian dan Livy.

Mereka kembali ke ruangan dengan empat titik pertemuan itu.


“Kamu lewat pintu kanan, bakal lebih cepat sampai ke tempat Azat terjebak,” ucap Monian dengan jari telunjuk mengarah kesana.


Livy mengangguk sekali tanpa mengatakan apapun.


Mereka berdua mulai terpecah kedua sisi yang berbeda.

Monian membelokkan jalannya ke sebelah kiri.


Pintu di depan masih terbuka lebar

Ia langsung melewati pintu besi itu, menuju ke ruangan lain.


Lantai terinjak dengan sangat keras dan cepat.

Menggema ke seluruh dinding bangunan itu.

Tatapannya tidak mengarah kemana pun lagi, selain di depannya.


Lihat selengkapnya