Monian dengan sigap menghampiri perempuan di sudut ruangan.
Ia membungkukkan badan sejajar dengannya, lalu memegang tangan perempuan itu.
“Nona, tolong bangun.”
Perlahan perempuan itu mengangkat kepalanya, sampai bola matanya terlihat.
“K-kamu siapa?”
“Aku Monian, apa kamu… Adik dari Azat?”
Perempuan itu tidak menjawab, dan hanya menganggukkan tipis kepalanya beberapa kali.
Monian mengulurkan satu tangan ke arahnya.
“Aku disini menolongmu, jangan khawatir.”
Perempuan itu tidak menjawab lagi.
Ia menggenggam tangan Monian. Dan dia berdiri terlebih dulu, dan disusul dengan perempuan itu.
Tidak ada yang terluka.
Goresan, memar dan lainnya juga tidak ada.
Keadaannya masih sehat tanpa ada luka fisik yang terlihat.
“Kita pergi dari sini, Azat dan Livy sedang di ruangan lain mencarimu, kita bisa menyusul mereka,” ajak Monian.
Perempuan itu menundukkan kepala.
“Kakakku gapapa, kan?”
“Dia aman. Tenang saja, Livy sudah menjaganya.”
Perempuan itu tidak menjawab lagi.
Mereka hendak melangkah keluar dari ruangan security itu.
Monian meletakkan tangannya di bahu perempuan itu. Menahannya agar tidak terjatuh dan sebagainya.
Namun Monian menghentikan langkahnya.
Mereka berhenti di ambang pintu, dan Tatapannya berpindah ke belakang.
Orang itu berdiri di depan, menatap ke salah satu layar disana, dengan satu tangan menopang kepalanya.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Monian.
Orang itu menengok ke belakang untuk sesaat, sebelum kembali terkunci kedepan.
“Aku sedang melihat kejadian puluhan tahun lalu. Tentang jatuhnya tempat ini.”
Monian tidak menjawab, hanya berdiri diam di tempatnya.
Orang itu mengulurkan tangannya ke perangkat elektronik di depan.
Selang beberapa saat, ia membalikkan tubuhnya dengan sebuah perangkat yang lebih kecil berada di tangannya.
“Maaf, aku sampai lupa kalau kita harus bawa dia keluar dari sini.”
“Apa maksudmu… Kita?” tanya Monian curiga.
Orang itu mendelik ke arahnya.
“Aku sudah membawamu ke gadis kecil itu, dan kamu tidak membawaku keluar dari sini?”
Ia mengangkat satu tangan yang memegang perangkat itu.
“Aku cukup yakin kalau ada sesuatu di dalam sini, yang mungkin… Kamu ingin lihat.”
Ia menurunkan tangannya. Tubuhnya kembali membungkuk sopan.
“Tolong maafkan saya karena tidak sopan. Saya hanya ingin ikut kalian keluar dari sini.”
Monian tidak menjawab lagi.
Kakinya kembali bergerak ke depan.
“kalau begitu, kamu bisa ikut.”
Ia tidak berbicara apapun lagi setelah itu, dan fokus dengan apa yang ada di depannya.
Langkah tambahan terdengar di belakang.
Jelas orang itu mulai mengikuti mereka juga.
Monian menatap ke arah perempuan itu.
“Apa ada sesuatu yang terjadi denganmu?”
Orang di belakang mempercepat langkahnya, lalu kembali seirama saat sudah di samping mereka.
“Dia kemungkinan masih syok dengan apa yang terjadi. Kita beri dia waktu untuk pulih. Mungkin… Sampai bertemu dengan kakaknya,” ucap orang itu memberi saran.
Monian tidak menjawab, hanya memperhatikan wajah orang itu. Sebelum kembali menatap kedepan.
Mereka menyusuri ruang yang sama untuk kedua kalinya.
Dengan dua orang tambahan yang mengikutinya.
Setelah mereka keluar dari tempat dengan empat titik pertemuan itu.
Orang itu memberikan perangkat kecil yang dibawanya tadi ke Monian.
Monian menatap ke alat itu, sebelum kembali ke hadapannya.
“Apa ini?”
“Aku sudah bilang. Kejatuhan dari fasilitas ini, beberapa puluh tahun lalu.”
Ia mendorong sedikit tangannya agar lebih dekat.
“Kamu akan tahu. Kenapa tempat ini bisa runtuh.”
Monian terdiam.
Tangannya sempat terhenti di tengah udara, sebelum memindahkan perangkat itu dari tangannya ke tangan dirinya.
…
Tibalah mereka di tempat dirinya dengan Livy berpencar sebelumnya, dan mereka bertiga langsung disambut dengan Livy dan Azat yang sudah berada di tengah tempat itu.