Matahari semakin naik ke atas, membuat langit yang gelap berubah menjadi biru cerah yang hidup, dengan awan dengan bentuk acaknya.
Mobil mereka akhirnya tiba di kota delwis. Setelah sekian lama…
Azat memejamkan matanya dengan bersandar di kursi.
“Akhirnya pulang juga… Udah kangen rumah aku.”
“Andai gw ikut, bisa tuh ketemu lu lebih cepet, Vin. Sayang aja gw ngurus anak magang dulu,” ucap Nerdi.
Azat membuka satu matanya yang mengarah ke depan.
“Alah, yang ada makin jauh dari tujuan kalo kamu ikut tuh.”
“Jangan salah, insting petualangan gw meronta-ronta waktu itu pas nganter kalian ke sana.”
Azat mengeluarkan tawa yang dibuat-buat, dan kembali menutup matanya.
Selang beberapa saat, Nerdi memperlambat laju mobilnya, sampai benar-benar berhenti.
Ia menarik rem tangan keatas, lalu membuka kunci mobil.
“Sampe dah tuh kerumah lu, ini empat orang ga ada yang mau bertamu ke rumah gw kah?”
Tiga orang disana menolak dengan menggelengkan kepala.
“Mungkin lain kali, tuanku. Aku akan ikut jalur yang Sera tempuh terlebih dulu,” tolak Orang berwujud rubah dengan lembut.
Nerdi menghela nafas cepat. “iri gw ama lu, tiap ke mana-mana nemu aja manusia aneh.”
Azat membuka pintu mobil sambil mendengus. “Salah situ malah ngurus anak magang.”
Ia berjalan keluar dari mobil.
“Omong-omong makasih ya, udah kasih tumpangan.”
Nerdi bergumam pelan. “ya, Sama-sama…”
Satu persatu dari mereka keluar dari mobil Nerdi.
Setelah semuanya keluar, Mobilnya kembali mengeluarkan suara mesin, lalu melaju pergi dari hadapan mereka.
Mereka berempat berjalan pelan, sampai berhadapan dengan pintu kayu di rumahnya.
Azat menghela nafas panjang.
Membuka kunci, lalu mendorong pintu itu.
Engsel pintunya sempat mengeluarkan suara decitan yang nyaring, seakan telah lama ditinggalkan.
Satu persatu dari mereka melangkah masuk.
Meja dan kursi masih tertata rapi, walau sedikit berdebu. Begitu juga dengan lantai rumahnya.
“Kalian berdua bisa duduk disana bentar, agak… Berdebu sih,” ucap Azat.
Orang berwujud rubah itu berjalan ke kursi. “Bukan masalah tuanku yang baik, aku akan mengistirahatkan tubuhku sebelum memulai perjalanan yang baru.”
Azat menoleh ke arah Vina, dan ia menatapnya balik.
Kepala Azat berbelok sejenak ke kamarnya.
“Kamu ke kamar dulu istirahat atau… Sarapan?”
Vina menoleh ke kamar miliknya.
“Aku… Istirahat aja, kak.”
“Yaudah, masuklah. Pals juga kamu bawa?”
Vina tidak langsung menjawab.
Tatapannya berpindah dari kamar ke Pals yang berada di genggamannya.
Selang beberapa saat, ia mengangkat tangannya.
“Kakak bawa aja deh, biar Pals istirahat juga.”
Azat terdiam.
Tangannya mengambil Pals tanpa mengatakan apapun.
Vina menurunkan tangannya, lalu berjalan menuju kamar.
Azat menatap pintu kamar yang telah tertutup itu, kemudian menoleh ke kursi ruang tamu.
“Kalian berdua bakal tinggal sini gitu? Ga ada kasur tambahan loh.”
“Kayaknya nanti malem aku bakal pergi sih. Nyari… Orang yang ku cari,” sahut Sera.
Azat bergumam pelan.
“Ya, betah-betah lah disini buat terakhir kalinya. Aku bikinin makan dulu.”
Ia menaruh Pals di meja tempat orang rubah itu duduk.
“Si Pals ku taruh sini dulu, mau nanya dia silahkan tanya.”
Langkahnya berjalan pergi menuju dapur setelah mengatakan itu.
Terdengar Pals yang mengenalkan dirinya seperti biasa.
Rutinitas kembali berjalan normal, dengan tambahan satu lagi orang yang bukan manusia berkunjung ke rumahnya.