“Baik bu, saya berharap saya dapat bergabung di Korean Co ini. Selamat siang. Terima kasih” ujar Jung Chang Mi sambil tersenyum dan meninggalkan ruang interview perusahaan akuntan publik terkemuka di Korea itu.
Jung Chang Mi merupakan lulusan fakultas Ekonomi Hanguk University, universitas negeri ternama di Seoul. Sudah hampir 2 tahun Chang Mi lulus dari Universitas tersebut tetapi sampai saat ini ia belum pernah mendapatkan pekerjaan tetap. Gelar Sarjana Ekonomi yang diraihnya dengan kuliah empat tahun belum bisa membantunya menemukan pekerjaan yang mapan dengan cepat. Selama ini untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, Chang Mi menerima pekerjaan apa saja, sebagai penjaga toko asesoris, guru les privat sekolah dasar dan SPG produk kosmetik. Saat ini Chang Mi bekerja sebagai waitress part time di Ttak Resto.
Siang ini matahari nampak bersemangat memancarkan sinarnya, membuat Seoul sangat terik. Chang Mi melangkah keluar dari Korean Co dan duduk di bangku taman kota, ia menyeka keringat yang membasahi dahinya karena kelelahan. Chang Mi teringat saat pertama kali menginjakkan kaki di Seoul. Selepas SMA dan diterima di Hanguk University, Chang Mi bertekat hidup mandiri jauh dari orang tuanya yang tinggal di Namhae. Namhae merupakan kota pesisir, terletak di Gyeongsang Selatan. Semasa kecilnya, Chang Mi sering diajak ayahnya berlayar mencari ikan di laut. Ayahnya selalu berpesan agar Chang Mi menuntut ilmu setinggi-tingginya agar bisa hidup berkecukupan di masa depan. Ketika Chang Mi wisuda, ayah dan ibunya datang ke Seoul ditemani oleh beberapa tetangga yang ikut bangga karena salah satu putri daerah Namhe menjadi sarjana dari universitas terkemuka. Tak terasa air mata menetes di pipi Chang Mi. Ia tidak ingin mengecewakan orang tuanya. Chang Mi bertekad untuk berusaha sekuat tenaga mewujudkan cita-citanya untuk menjadi sukses.
“Aahhhh, sudah jam 2 siang. Aku harus berangkat ke ‘Ttak Resto’!” ujar Chang Mi. Sambil berlari Chang Mi menuju ke restoran tempatnya bekerja. Sesampainya di Ttak Resto, Chang Mi langsung menuju kamar ganti untuk mengambil seragam kerjanya. Sudah banyak pelanggan yang mengantri di counter. Kebetulan hari ini sedang ada promo Ulang Tahun di Ttak Resto.
“Chang Mi, cepat!” ujar Ong Ri, supervisornya memberi instruksi. Banyak pelanggan datang silih berganti, membuat Chang Mi sejenak melupakan kesedihannya. Tiba-tiba ponselnya bergetar, Chang Mi bergegas mengambil ponsel dari saku celemek yang dikenakannya. Ia berharap penelponnya adalah HR dari Korean Co yang mengabarkan dirinya diterima bekerja. Seketika harapannya pudar saat melihat nama Park In Na, teman SMA di Namhae yang juga mengadu nasib di Seoul muncul di layar ponselnya.
Chang Mi menolak panggilan In Na dengan memberi pesan singkat akan menelponnya kembali.
Jam hampir menunjukkan pukul 9 malam. Sebentar lagi Ttak Resto akan tutup dan menyisakan beberapa pelanggan yang makan di tempat. Cepat-cepat Chang Mi merapikan dan membersihkan meja. Meskipun lelah dan sedikit mengantuk, Chang Mi masih bisa menyapa anak yang tidak mau diajak pulang oleh orang tuanya karena masih asyik bermain plosotan. Ttak Resto memang menyediakan arena bermain untuk anak-anak.
“Chang Mi Onni1, aku tunggu di depan ya!” ujar Lucy, seorang mahasiswi asal Indonesia. Lucy bekerja di arena bermain Ttak Resto. Setelah berpamitan dengan Ong Ri, Chang Mi bergegas menyusul Lucy di depan resto. Asrama Lucy searah dengan apartemen kecil tempat Chang Mi tinggal. Mereka sering berangkat dan pulang kerja bersama.
Sesampainya di kamar apartemennya, Chang Mi menjatuhkan dirinya di kasur dan mengambil ponsel untuk menelpon In Na.
“Hai, Chang Mi. Besok malam ketemuan yuk!” ajak In Na. Ajakan In Na tersebut ditolak Chang Mi. Tak putus asa In Na membujuk Chang Mi. “Ayolah, Chang Mi! Nanti aku traktir deh”
“In Na, kamu baru gajian ya? Tumben banget.” Kata Chang Mi. In Na menjelaskan jika dirinya baru saja mendapatkan bonus karena banyak pesanan yang diantarkannya ke pelanggan. In Na bekerja sebagai kurir di online shop.
“Baiklah. Jam 7 malam, kita bertemu di Just Caffe.” Kata Chang Mi menutup percakapan.
Keesokan harinya tepat pukul 7 malam, dengan memakai blouse warna pink dilapisi blezer putih dan celana jeans belel favoritnya Chang Mi keluar dari rumah menuju ke ‘Just Caffe’. Malam ini udara tidak begitu dingin meskipun sudah memasuki musim gugur. Angin semilir menerpa rambut Chang Mi yang dikuncir ekor kuda. Chang Mi berjalan menyusuri komplek pertokoan di depan apartemennya. Just Caffe terletak di beberapa blok dari tempat Chang Mi tinggal.
“Sebenarnya hari ini aku berniat ingin tidur lebih awal tetapi sepertinya aroma kopi bisa membuatku rileks.” Gumam Chang Mi yang memang sangat menyukai kopi terutama Caffe Latte.