"Aduh! Mana, sih, hp gue!!!" Ujar perempuan cantik berkuncir kuda itu sembari mencari keberadaan ponselnya di berbagai sudut kamarnya.
Kikantara, nama yang tertera pada badge di dada kanannya. Sudah sedari tadi Kikantara sibuk mencari ponselnya, namun dia tidak kunjung menemukannya.
Kikantara Jelita, nama lengkap dari perempuan ceroboh, pelupa, malas, dan keras kepala itu.
Tara, nama yang sering dipanggil oleh orang-orang di sekitarnya. Sering kali Tara harus menanggung masalah akibat dari kebiasaan jeleknya itu.
Namun, dibalik kebiasaan jeleknya, Tara merupakan perempuan yang baik, apa adanya, dan suka menolong.
Tara juga memiliki kelebihan pada fisiknya. Cantik dan memiliki senyum yang manis. Beruntungnya Tara masih memiliki kelebihan itu, jika tidak entah bagaimana nasibnya.
"Tara!! Kamu sudah siap belum?! Papa sama Kevin mau berangkat sekarang!" Jerit Linda, ibunya.
Tara langsung menoleh ke arah jam dindingnya dan waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh.
"Ya ampun!! Udah jam segitu!! Mati gue!" Cengang Tara.
Tara menatap dirinya di cermin kemudian semakin tercengang tatkala melihat penampilannya yang sudah berantakan.
Tara merapikan rambut, seragam, dan riasan tipisnya sebelum keluar dari kamarnya.
Akibat terlalu lama mencari ponselnya, waktu Tara pun jadi terbuang sia-sia.
Setelah selesai, Tara berlari ke lantai bawah untuk mengejar waktunya. "Mah, Papa sama Kevin mana?!" Tanya Tara setelah melihat kondisi rumah sudah sepi.
Linda merapikan meja makan sembari berkata, "Mereka sudah berangkat dari lima menit yang lalu. Kamu, sih, terlalu lama!"
"Hah?!" Cengang Tara.
"Sudah, lebih baik kamu sarapan dulu. Biar mama siapkan, ya." Perintah Linda.
Tara menggeleng cepat. "Nggak bisa, Mah! Tara udah telat." Tolaknya langsung.
Tara menghampiri ibunya kemudian menyalami tangannya lalu berkata, "Tara berangkat dulu, ya, Mah!" Katanya lalu berlari meninggalkan ibunya.
"Tunggu dulu, Tara! Kamu mau naik apa?! Mama belum memberi kamu uang jajan!" Jerit Linda.
Tara tidak mendengar suara ibunya karena langkahnya sudah terlalu jauh. Linda hanya menggelengkan kepalanya terheran-heran dengan anak perempuannya itu.
Tara terus berlari sampai ke jalan raya. Dia tidak mau terlambat lagi kali ini. Sudah lebih dari tiga kali Tara terlambat datang sekolah. Bisa-bisa dia dihukum lagi untuk membersihkan seluruh toilet sekolah.
Sebenarnya bisa saja Tara bolos hari ini, namun lagi-lagi dia tidak mau dihukum. Tara sudah terlalu sering membolos sekolah. Jika dia lakukan itu sekali lagi, mungkin saja dia tidak bisa lulus tahun ini. Ya, memang begitulah Tara.
Ketika sudah sampai di pinggir jalan untuk menaiki kendaraan umum, Tara baru ingat akan uang jajannya.
"Astaga!!! Gue lupa minta duit! Gimana gue mau naik angkot coba! Bodoh banget, sih!" Tara kembali mengutuk dirinya.
Lagi-lagi dia lupa akan hal penting seperti itu. Tara tidak mau menyerah begitu saja dan dia pun memilih untuk berlari sampai ke sekolah.
Jaraknya memang lumayan jauh, namun Tara tidak mempunyai pilihan lain. Tara terus berlari, bahkan dia tidak peduli akan orang-orang yang menghalangi jalannya.
Dia juga menabrak benda apapun dan memilih terus berlari. Tara sampai nekad menyebrang jalanan yang penuh kendaraan berlalu lalang.
Suara klakson mobil dan motor pun mulai berkicauan akibat dirinya.
"Bodo amat, deh!" Gumamnya dalam hati.
Tara terus berlari sampai di mana lampu merah pun berubah menjadi lampu hijau.
Tara sama sekali tidak memerhatikan keadaan sekitar dan tetap berlari. Tanpa disangka-sangka sebuah mobil Ferrari bewarna hitam pekat melaju kencang ke arah Tara.
Tara terbelalak dan kakinya terpaku di tempat.
"AAARRGGGHH!!" Jeritnya kencang.
Tara seakan sudah tidak bisa berlari dan pasrah akan hidupnya. Apakah hari ini dia akan mati?
Tara terus berteriak dan memejamkan matanya hingga suara benturan keras langsung menyadarkannya.
Tara membuka matanya dan melihat mobil Ferrari itu sudah berpindah tempat. Tepatnya, ke arah sebuah pohon besar.
Ya, sang pemilik membanting stir dan pada akhirnya dia pun menabrak sebuah pohon.
"ASTAGA!!!" Tara tercengang luar biasa kemudian berlari menuju mobil itu.
Perlahan orang-orang berkerumun melihat kejadian malang yang menimpa sang pemilik mobil itu akibat ulah Tara.
Mulut Tara menganga tatkala melihat kerusakan yang lumayan parah dari mobil itu.
Bagian depan mobil itu setengah hancur. Tara tidak bisa membayangkan berapa biaya yang harus ia tanggung untuk menggantinya.
Tak lama, sang pemilik mobil itu pun membuka pintu mobil dan terlihatlah wajah terkejut bercampur amarah.
Laki-laki itu memakai setelan jas bewarna silver dan terlihat bahwa umurnya sudah di atas dua puluh lima tahun.
Tara bisa melihat raut wajah serius dan sepertinya akan membawa Tara ke dalam masalah yang sangat serius juga.
Tanpa aba-aba lagi, laki-laki itu langsung menatap Tara dengan tatapan tajam. Tajam melebihi pisau yang pernah mengiris jari Tara.
"Abis gue!" Gumam Tara pelan.
Laki-laki itu menghampiri Tara lalu langsung membentaknya, "Kamu!!! Kamu harus tanggung jawab!!!" Bentaknya langsung.
Tara melompat kaget. Jantung Tara berdetak kencang dan kakinya mulai lemas.
"Lihat apa yang sudah kamu lakukan!!" Lanjutnya.
Tara menundukkan pandangan karena tidak sanggup menatap laki-laki itu sama sekali.
Kini, Tara dan laki-laki itu menjadi pusat perhatian.
"Maaf, sa...saya...saya tidak sengaja." Ucap Tara susah payah.
"Tidak sengaja?! Menyebrang sembarangan dalam keadaan lampu hijau dan tidak memerhatikan jalan kamu bilang tidak sengaja?!" Tara lagi-lagi berlonjak kaget mendengar bentakannya.
"Saya salah, maaf...maafkan saya." Ucap Tara penuh penyesalan.
"Kamu tahu, bukan cuma mobil saya yang rusak di sini! Tapi, jiwa saya ikut tergoncang akibat kejadian ini! Apa kamu sadar, saya bisa saja tidak selamat akibat kecerobohan kamu!"
Tara semakin menyesal. Kecerobohannya kali ini memang sudah diluar batas.
Tara pasrah dan siap menanggung apapun itu konsekuensinya.
Laki-laki bermata cokelat itu memerhatikan keadaan sekitar, kejadian tadi membuat kerumunan semakin banyak. Lama-lama dia merasa tidak nyaman dan laki-laki itu pun tidak ingin menghabiskan waktunya di tempat itu.
"Berikan kartu identitas kamu!" Perintah laki-laki itu.
Mendengar itu Tara langsung mendongakkan kepalanya.
Jarak Tara dan laki-laki itu cukup dekat. Semakin terlihatlah wajah amarah dan tatapan tajam dari laki-laki itu. Tetapi sebelumnya, Tara terpesona pada laki-laki itu selama beberapa detik.
"Ganteng banget!" Mata cokelatnya, hidung lancip sempurnanya, rahang kokohnya, dan alis matanya yang tebal berhasil membuat Tara terpesona.
"Hei! Cepat, berikan kartu identitas kamu!!!" Ujarnya yang langsung menyadarkan Tara.
Seketika Tara pun tersadar. Betapa malunya dia, di saat-saat seperti ini masih bisa terbuai dengan ketampanan korbannya.
Tara pun langsung mengeluarkan kartu identitas itu, namun dia belum sanggup untuk memberikannya. Apa yang akan laki-laki itu lakukan dengan kartu identitasnya? Pikir Tara.
"Sini, berikan kepada saya!" Ujar laki-laki itu sembari menyodorkan tangannya tandameminta.
"Tapi, buat apa kartu identitas saya?" Tanya Tara.
"Saya ingin kamu bertanggung jawab dan saya tidak ingin kamu lari dari masalah ini! Saya tidak mempunyai banyak waktu, cepat berikan!" Jawabnya.
Pikiran jelek Tara pun mulai muncul. Apa ia harus mengganti kerusakan mobil itu ratusan juta? Bagaimana jika Tara tidak sanggup? Apa dia akan dipenjara?!
Rasa panik semakin menyelimuti Tara, namun dia tidak mempunyai pilihan.
Bagaimana pun juga semua ini adalah kesalahannya.
Tara pun memberikan kartu identitasnya dengan berat hati. Laki-laki itu merebut kartu identitas Tara kemudian memberikan Tara kartu pengenalnya.
"Pegang ini! Temui saya lagi jika kamu sudah siap bertanggung jawab! Jangan sampai saya bawa masalah ini ke dalam hukum!" Katanya yang membuat bulu kuduk Tara merinding.
Laki-laki itu pun membalikkan badannya lalu berjalan meninggalkan Tara. Mobil yang sudah setengah rusak itu pun dibawa pergi oleh laki-laki itu entah ke mana.
Untungnya, mesin mobil itu masih berfungsi. Kalau tidak, Tara semakin merasa bersalah. Tara kini memandang kartu pengenal laki-laki tadi.
"Ananta Putra Lorenzo," gumam Tara membaca namanya.