Dee memandang jauh keluar jendela pesawat yang dia tumpangi, awan-awan berkejaran dari balik jendela. Jauh di bawahnya perairan Indonesia membentang luas, bentang Selat Sunda yang terlihat indah memastikan dia telah masuki tanah Jawa. Hanya sekejap lagi dia akan tiba di bandara Cengkareng lalu dia akan menginjakkan kakinya di Jakarta, kota yang nyaris lima tahun ini telah dia tinggalkan. Dee mendengar kru pesawat terbang terdengar memberikan instruksi untuk pendaratan aman mereka dalam dua bahasa Inggris dan Prancis.
Tidak sampai lima menit pesawat telah benar-benar mendarat aman di bandara Internasional Soekarno Hatta. Dee menarik kopernya dengan perasaan enggan. Wajah dalam ingatannya itu membuat dia sebenarnya tidak berniat kembali ke Indonesia andai saja si oedipus complex tidak memblokir semua dana hidupnya dan mengirimkan tiket baginya untuk kembali ke Indonesia. Hanya satu kartu debit yang tersisa dan Dee berniat membobol habis kartu itu lalu kabur untuk beberapa saat, cuma untuk menunjukkan perlawanannya pada si oedipus complex. Namun karena jumlah uang di kartu itu juga tidak banyak, dia tidak mungkin bertahan di Amerika dalam jangka waktu lama, paling hanya seminggu, jika dia berhemat sehemat-hematnya, mungkin bisa sampai hingga dua minggu. Itu bukan waktu yang cukup untuk membuat oedipus menyesali perbuatannya. Dee yakin sekali jika dia melakukan hal itu, bukannya membuat oedipus complex menyesal, dia malah membuat dirinya nampak menyedihkan saat muncul di hadapan oedipus dalam keadaan kere.
Hotel. Hatinya memekik. Tentu saja, itu juga bukan pilihan baik bagi dana keuangannya, tapi dari pada dua pilihan yang ada : kembali ke rumah atau menggembel, pilihan terbaik baginya untuk saat ini ya, menginap di hotel.
Melewati para penjemput, Dee bisa melihat seorang lelaki muda berpakaian rapi mengangkat papan bertuliskan namanya: Dee Cantika. Bisa dia pastikan pria itulah yang telah mengutus seorang penjemput untuk menjemputnya. Dia tidak ingin pulang dan serumah dengan makhluk itu, jadi Dee memilih melanjutkan langkahnya.
"Dee!" panggilan keras berebutan dan tidak seirama itu membuat Dee menoleh ke arah suara.
Dua gadis cantik modis sebaya dirinya melambaikan tangan sambil berlari ke arahnya. Rara dan Kimy, kedua sahabatnya itu benar-benar menyempatkan diri untuk menjemputnya. Berteriak, memeluk dan melompat-lompat kegirangan adalah sebuah ritual keakraban sewaktu SMP yang sering mereka lakukan dan kini mereka ulangi. Beberapa pasang mata menatap mereka. Namun mereka memilih tak peduli.
"Gue nyaris nggak bisa ngenalin lu, Dee," Rara berkomentar. "Gila, lu macam bule Amrik. Rambut lu blonde gitu."
Dee tertawa sambil mengibaskan rambut sebahunya yang memang sengaja dia cat pirang menyambut hari wisudanya sebulan yang lalu.
"Tapi lu makin cantik," Kimy menambah, "American changed you."
"Thank you, you all look so amazing too." Dee memuji penampilan modis kedua sahabatnya itu, Rara muncul dengan kemeja retro vintage bermotif bunga yang dipadukan celana jeans belel dengan sepatu sport sementara Kimy menggunakan dress selutut fila dengan bahu terbuka dan high heels putih senada dengan bajunya.
"Nona Dee Cantika!" Teriakan itu membuat Dee melirik kearah pria yang kini berlari-lari menuju ke arahnya dan teman-temannya berdiri. Sebuah papan nama masih ada di tangan pria itu. Keberadaannya benar-benar telah terendus.
"Come on, let's get out of here." Dee buru-buru menarik koper besar miliknya.
"Tapi, Dee..." Rara melirik pria yang masih berlari ke arah mereka.
"I don't wanna go home now. Any of you bring a car?" Dee berujar tanpa mengurangi langkahnya, kedua temannya tampak tertinggal di belakangnya sebelum kemudian mereka bergegas mempercepat langkah mengimbangi gerak Dee sementara pria berpakaian eksekutif muda di belakang sana masih berteriak-teriak memanggil nama Dee dan juga permintaan agar mereka menghentikan langkah mereka.
Pria itu sukses menghentikan langkah Dee ketika dia tengah memasukkan koper ke dalam bagian belakang mobil mazda Rara.
"Kita pulang, Nona," pinta pria itu hormat, "Pak Arga sudah menunggu Anda di rumah"
Pria oedipus itu menunggunya? Cuiih. Emang so what gitu? Dee mengumpat dalam hati.
"Beritahu dia: aku sudah cukup dewasa untuk menentukan apa yang aku inginkan. Aku tidak mau pulang dan dia tidak punya hak sedikit pun untuk mengatur hidupku."
"Pak Arga tidak akan menyukai ini..."
"Oh, dia nggak suka." Dee nyengir mengejek. "Bilang sama dia: aku mau lihat dia bisa apa kalau aku tidak mau pulang."
Dee masuk ke dalam mobil dan meminta Rara melajukan mobil itu tanpa menjawab pertanyaan dari bibir kedua sahabatnya itu tentang apa yang sesungguhnya telah terjadi.
***
"Pilih saja makanan apa yang kalian mau. Aku yang traktir." Dee memberikan dua booklet menu dari tangan waiters kepada kedua sahabatnya itu lalu meminta waktu sebentar sebelum mereka menentukan makanan apa yang akan mereka pesan. Waiters itu meninggalkan meja mereka.
"It's so expensive loh, Dee. Lu yakin kita makan disini?"
Dee menatap Kimy dan tersenyum santai. "Yakinlah, kan lu berdua udah menjemput gue di bandara. Selain itu anggap saja ini perayaan kumpulnya kembali tiga cewek cantik dari SMP Van de Boshco Jakarta. Btw, kapan terakhir kita makan seperti ini, ya???"
"Seminggu sebelum ortu lu meninggal, Dee. Waktu itu UN- kan? Lu nggak datang dari pagi ke sekolah, padahal ortu lu monding kan sore..." Dee masih mencoba mengingat kenangan kebersamaan mereka di SMP untuk menjawab sendiri pertanyaannya ketika celetukkan Kimy menyadarkannya tentang semuanya: bahwa dia sengaja melupakan beberapa hal dalam kenangan persahabatan mereka karena kenangan itu mengingatkannya atas kehilangan terbesar dalam hidupnya, kehilangan papa dan mamanya. "Dari dulu gue mau tau lu ngapain di paginya?" Kimy masih menyerocos, "Ada yang lu mau ceritain sama kita, Dee?"