I love You, Om

Elisabet Erlias Purba
Chapter #2

2. Kembali ke Rumah

Dee membuka kopernya yang penuh muatan. Mengobrak-abrik isinya dan menemukan hadiah yang telah dia persiapkan untuk kedua sahabatnya itu. Satu paket kecantikan dari Victoria's secret mulai dari parfum, body mist basic and shimmer, body lotion, cat kuku dan sepasang pakaian dalam yang segera dia serahkan kepada Rara yang menerimanya dengan lonjakan kegirangan.

"Lu ngasihnya lengkap dengan panties and lingerie, Dee?" Kimy bertanya. Dee mengangguk. Lalu dia mengalihkan pandangannya menatap Rara dengan wajah sewot. "Lu bilang gue apa tadi? Matre??? Trus perbuatan lu ini lu samain dengan apa?! Gila lu. Lu meloroti Dee tau??!"

Rara cuma cengengesan tanpa dosa. Disaat selanjutnya keduanya menatap jas hitam lengkap dengan dasi dan dalaman berupa kemeja yang diletakkan Dee di atas kasur sebelum meraih sebuah bungkusan lain yang segera dia serahkan kepada Kimy. Cewek dengan tinggi seratus lima puluh delapan centimeter yang lebih pendek hanya lima sentimeter dari Dee itu terlonjak kegirangan.

Sebuah gaun dan high heels dari perancang ternama: Kim Kardashian, artis Hollywood pujaannya yang terkenal dalam serial yang ditayangkan E! Sebuah acara realitas show yang berjudul: Keep Up with the Kadarshians.

"Gue senang lu berdua suka sama oleh-oleh yang gue bawa."

"Thanks, ya, Dee. You are the best friend forever deh." Keduanya mendekap Dee, sesaat kemudian pertanyaan muncul dari bibir keduanya.

"Trus jas itu oleh-oleh lu buat siapa?"

Dee meraih jas dan kemeja yang terbungkus rapi dalam plastik lalu menyimpannya kembali ke dalam koper.

"Waktu gue di Amrik gue pernah ngerusak jas seseorang."

"Siapa?"

"Apa dia ganteng?"

"Kalau lu bawa ke Indonesia berarti tuh cowok Indonesia dong? Paling tidak sekarang tinggal di sini."

"Kenalin dong sama kita-kita, masak lu mau nyimpan barang bagus sendiri aja, Dee."

"Kenalin, ya? Ya? Ya?" Kedua temannya kembali bicara berebutan. Resek kedua temannya itu kembali keluar. Dee tak menggubris keduanya, beralih mengambil handuk, bag shower dan melangkah menuju kamar mandi.

"Badan gue udah bau banget. Gerah. Gue mandi dulu, yah."

Sebentar kemudian sesudah pintu kamar mandi tertutup kedua sahabatnya itu bisa mendengar air shower berbunyi. Rara dan Kimy saling berpandangan.

"Menurut lu, Dee nyembunyiin apa, yah?" Kimy bertanya ingin tahu.

"Cowok Amerika-nya kali," Rara menjawab santai sambil mencium wangi parfum hadiah Dee padanya. "Tapi nggak mau ngasih tau karena takut lu sabotase."

"Resek lu! Gue nggak gitu kali." Kimy memukul Rara dengan guling dan disambut pekikan keras Rara karena parfum yang dia pegang meloncat dari tangannya. Untungnya Rara berhasil menangkap parfum itu hingga nggak jadi pecah.

"Untung nggak pecah, coba kalau pecah...Pala lu gue buat minggat dari badan lu." Rara menarik guling dari tangan Kimy.

"Salah lu sendiri, enak benar lu ngomong gitu tentang gue. Lu kali yang gitu."

"Enak aja. Lu kali."

"Lu minta penties and lingerie Victoria secret, pacar aja lu nggak pernah punya." Kimy masih berusaha mempertahankan kekuasaan atas gulingnya.

"Jadi kalau nggak punya pacar lu nggak pakai penties gitu? Ihhh, jorok banget lu jadi cewek. Jijik gue...," ejek Rara membuat Kimy kesal bukan main karena kalah argumen dengan Rara. Tepat disaat dia sedang kesal-kesalnya Rara menghentakkan tarikannya dan menguasai guling hingga Kimy terjerembab.

"Brengsek!" Kimy memaki. Rara tertawa puas. Dee yang batu saja keluar dari kamar mandi menatap tingkah kedua sahabatnya itu. Selalu saja ada keriuhan diantara keduanya.

***

Malam telah tinggi. Dee melirik kedua sahabatnya yang mengapit tubuhnya di kiri dan kanan. Keduanya terlelap begitu nyenyak. Mata Dee menatap seluruh penjuru kamar Rara, malam ini dia akan tidur di sini, tapi sampai kapan? Oke, Rara mengizinkannya tinggal di sini tanpa jangka waktu, tapi tidak mungkinkan dia tinggal di sini untuk waktu dua bulan tanpa uang?

Pulang ke rumah. Pilihan itu selalu membuat dia enggan. Ada makhluk itu di sana. Pria itu... Arrrrghhh! Hati Dee berteriak. Mengingat pria itu selalu membuat Dee emosi.

***

Seorang pria tampan keluar dari mobil sport Range Rover dengan wajah lelah lalu bergegas memasuki rumah itu. Arga Utama, nama pria itu, dia melepaskan jasnya dan melemparkannya ke pojok sofa tamu yang dia lintasi. Terus melangkahkan kaki menaiki anak tangga yang akan menghantarkannya ke kamar tidurnya. Di depan sebuah pintu kamar langkahnya terhenti. Tangannya terangkat siap mengetuk, tapi tidak jadi.

Kamar itu tertutup rapat dan sepi. Tak ada suara apa pun yang terdengar dari dalam kamar. Refleks dia melirik rolex yang melingkari pergelangan tangannya. Arlojinya menunjukkan pukul sebelas malam. Kesibukan di dua perusahaan besar membuat dia tidak bisa pulang lebih cepat padahal dia sudah sangat mengharapkan pertemuan ini. Apa dia sudah tidur? Batin Arga bertanya. Tentu saja, bisiknya mengambil kesimpulan sendiri. Lalu beranjak ke sisi kamar tidurnya yang terletak di sisi kamar itu. Dia masih menatap pintu kamar itu sesaat sebelum memasuki kamar tidurnya sendiri. Besok, dia bisa bertemu gadis itu besok pagi. Sebuah senyum tipis samar terlihat di wajahnya yang rupawan.

Arga baru saja menghempaskan tubuhnya di sofa yang ada di ujung tempat tidur king size ketika sebuah ketukan terdengar dari balik pintu kamar tidurnya. "Ya, masuk," perintahnya sambil melepaskan sepatu yang dia kenakan. Pintu terkuak saat dia tengah melepaskan kaus kaki yang dia kenakan dan melemparkannya ke keranjang cucian di sudut kamar tidur.

"Malam, Pak Arga."

"Hmmm." Arga cuma mendehem. Melangkah memasuki walk in closet yang ada di dalam kamarnya, lalu melepas arloji mewah yang melingkari pergelangan tangannya dan menyimpannya di salah satu laci, lalu berlanjut membuka laci lainnya dan menyimpan tali pinggang LV di laci lainnya.

Lihat selengkapnya