"Siapa yang mengizinkanmu merenovasi kamar Papa dan Mamaku?!" Dee berteriak mengaggetkan seluruh isi rumah dan para tukang yang sedang ada di dalam ruangan itu. Dee kaget saat memilih tidur di kamar itu dan Arga melarangnya karena kamar itu sedang dalam renovasi. Dee ingat tak ada satu pemberitahuan pun yang dia terima tentang rencana ini. Tahu tahu beberapa bagian dari kamar orang tuanya itu tengah diketok dan dibongkar, wallpaper tengah diganti dengan warna yang bahkan bukan kesukaan mamanya. Bagi Dee, kamar itu menyimpan beribu kenangan tentang orang tuanya, lumrah kalau kemudian dia mengerang marah. "Kau pikir kau itu siapa?! Kau bertingkah seakan-akan kau pemilik rumah! Seharusnya kau selalu ingat posisimu di sini bahwa kau bukan siapa-siapa!" Para pengurus rumah dan penjaga berlarian menuju lantai dua lalu dari ujung anak tangga mereka bisa melihat seorang gadis muda yang cantik dengan rambut blonde kekuningan sedang mengeraskan suara pada tuan besar mereka. Itu sebuah pemandangan langka dan lebih langka lagi karena tuan besar hanya diam.
"Enyah kalian semua dari sini!" Dee memekik dan melemparkan benda yang bisa dijangkau oleh tangannya ke arah para tukang yang kemudian melirik Arga. Dengan isyarat kecil Arga mengangguk dan membuat para tukang itu buru-buru kabur dari dalam kamar.
Tak ada yang sama lagi dari kamar itu dan betapa Dee membenci kenyataan itu. "Arrrrghhh!" Dee berteriak menumpahkan amarah di dalam dadanya yang bertahun-tahun sudah dia tahan. Air matanya bergulir jatuh menyadari betapa lemahnya dirinya. Dia bahkan tidak punya kuasa untuk melindungi memori yang diberikan orang tuanya padanya. Lemah sekali. Dia benci pada dirinya.
Hati Arga terasa sakit saat mendengar derai tangis itu. Dia tidak pernah menyangka hal spele ini bakal melukai hati Cantik begitu dalam. Kamar itu terlalu lama tidak dibuka demi menuruti permintaan Cantik, akibatnya beberapa bagian dinding kamar dan perabotan yang ada di kamar itu berjamur. Lantai kamar mandi rusak, keran air berkarat dan tersumbat. Arga bergegas menuju ke arah Cantik. Tangannya bergerak ragu hendak menenangkan gadis itu, tapi alih-alih tenang -sentuhan Arga membuat Cantik lebih mengamuk.
"Jauhkan tanganmu dari tubuhku, Brengsek!" Dee mendorong keras tubuh Arga hingga pria itu sedikit terhuyung. "Aku benci padamu! Aku membencimu melebihi siapapun di dunia ini!" pekiknya sambil berlari pergi dari kamar itu.
***
Hari sudah mulai malam ketika Arga melangkah keluar kamar tidurnya dengan kaos hitam body fit dengan celana kardigan tiga perempat dan berdiam di depan pintu kamar Cantik yang masih tertutup. Agaknya gadis itu masih marah padanya walaupun dia telah memberi jeda waktu bagi Cantik untuk menenangkan diri sementara dia memilih mandi. Sudah cukup lama dia selesai mandi, bahkan menghabiskan buku bacaannya yang selama ini tertunda, tapi tidak ada tanda-tanda Cantik akan keluar dari kamarnya.
"Cantik." Dia mengetuk pintu kamar gadis itu. Niatnya mencairkan kemarahan gadis itu dengan mengajak gadis itu keluar makan malam, makan apa saja yang diinginkan gadis itu.
Dee yang baru saja keluar dari kamar mandi melirik pintu kamarnya yang terketuk dari luar. Rambutnya masih tertutup handuk sehabis keramas. Langkahnya terhenti sejenak saat suara Arga menyusupi telinganya.
Tak sudi menggubris panggilan itu, Dee memilih membanting tubuhnya di atas ranjang kembali. Dia benci pria itu, betapa tak sopan dan tak tahu dirinya pria itu berani merubah kamar orang tuanya. Bahkan pria itu tidak meminta maaf sedikit pun atas kelancangannya. Jelas pria itu menganggap ini adalah rumahnya dan dan dia berhak melakukan apa pun di rumah ini.
Pemikiran itu malah membuat Dee makin kesal. Dia benci pria itu melebihi siapa pun di dunia ini.
Dee bangkit dari kasurnya dengan kesal. Menarik handuk yang menutupi rambutnya lalu menyisir helai rambutnya dengan singkat sebelum beranjak ke balkon sementara Arga masih terus memanggilnya dari balik pintu dan Dee terus mengacuhkan panggilan itu.
Dee bisa merasakan udara malam menyapu kulitnya yang terbuka. Angin berhembus agak kencang malam ini bukan hanya menghempas- hempaskan daun pohon palem yang tertata rapi di sepanjang halaman rumahnya yang cukup luas, tapi juga memukul-mukul helai-helai rambutnya yang masih lembab. Hujan sepertinya akan turun malam ini.