Dee menghempaskan tubuhnya dengan kesal di depan meja makan, tepat di hadapan sebuah piring berisi dua helai roti gandum berisi potongan telur rebus, tomat, selada yang dioles dengan mayonaise. Segelas susu segar juga ada di sisi piring itu. Dia mengunyah makanan dengan perlahan. Namun sepertinya tidak terlalu jeli memperhatikan sudut roti yang telah dicap dengan secuil gigitan. Ya, itu adalah sarapan Arga yang dia tinggalkan saat menerima telpon penting dari rekan bisnis. Seandainya Dee tahu sarapan yang kini ada di hadapannya itu adalah milik pria yang dia sebut oedipus, dia pasti langsung melepehnya.
Mata Dee melirik ke kanan ke kiri, mencari sesuatu. Namun pria itu tidak terlihat. Bagus, celetuk hatinya, kemunculan pria itu bisa membuat selera makannya seketika hilang.
"Argaaa!"
Seorang wanita berparas menawan dengan rambut yang sengaja digulung cepol muncul di depan meja makan. Dee terkaget-kaget dibuatnya, tapi kemudian Dee menyadari wanita itu ternyata juga sama kagetnya menemukan keberadaannya di sini.
"Siapa kau? Mana Pak Arga?" Mata wanita itu celingak-celinguk ke sana kemari. Dee memplotinya.
Jelas sekali wanita itu tidak terlihat canggung, seakan rumah ini adalah rumahnya juga. Dee menyisir wanita itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Pakaian wanita itu dari bahan yang mahal, kakinya dibungkus pantyhouse stocking dan beralas high heels Prada, kuku-kuku tangannya berwarna merah muda senanda dengan warna lipstik yang melapisi bibirnya. Wanita centil itu pergi berkeliling, memanggil- manggil oedipus lalu kembali lagi ke ruang makan untuk mendapati Dee.
Dia mengulang lagi pertanyaannya. "Siapa kau? Dimana Arga? Apa kau kekasih Arga?"
Bukannya menjawab, Dee malah mengambil roti kedua dan sibuk mengunyahnya. Pagi ini nafsu makannya lagi meningkat, mungkin karena dia melupakan waktu makan malam kemarin akibat perbuatan yang dilakukan oedipus. Dee menepiskan kenangan di balkon kamar tidur, mengingat itu hanya membuat moodnya berubah buruk. Lebih baik dia melimpahkan kekesalannya pada wanita yang kini berdiri di hadapannya itu. Salah satu wanita bodoh yang terjerat oleh pesona si iblis.
Wanita itu masih menunggu jawabannya dan bukannya menjawab, Dee malah melontarkan pertanyaan yang membuat wanita itu tampak kesal. "Berapa usiamu?"
"Apa pentingnya buatmu?" runtuk wanita itu.
"Tiga puluh lima tahun?"
Wanita itu melotot menatap Dee lalu mencak-mencak. "Kamu bilang apa? Wajah secantik dan semuda ini kamu bilang tiga puluh lima tahun? Saya baru dua puluh delapan tahun tahu! Eh.., bukan!" Wanita itu memekik lagi, "Dua puluh satu tahun akhir tahun ini."
Dee menarik bibirnya, jelas wanita itu berbohong jika dia berusia lebih tua beberapa bulan dari wanita itu. Entah kenapa wanita selalu takut menjadi tua, Dee bergumam sendiri di dalam hatinya.
"Kamu lihat Pak Arga Utama?" Wanita itu kembali menanyainya. Dan Dee kasihan pada wanita itu.
"Mau mendengar advis dariku?" Kalimat Dee membuat wanita itu menatapnya serius. "Kamu itu bukan tipenya. Lupakan saja dia." Dee berkata santai tanpa beban lalu meneguk susu sampai habis dan membiarkan wanita itu histeris memakinya.
"Kau pikir kau itu siapa? Aisssh."