I love You, Om

Elisabet Erlias Purba
Chapter #5

5. Di Jalan Raya

Arga melangkah memasuki kantornya dengan iringan sekertarisnya yang cantik Ariana Glenny dan ajudannya yang tampan Mario. Ariana baru saja menjelaskan schedule acaranya pagi ini. Pertemuan dengan beberapa pengembang proyek big city yang sedang dibangun oleh Arga dengan Group usaha Vallye Corp.

Vallye Corp adalah perusahaan yang didirikan oleh kakek buyut Arga Utama dengan usaha pertama di bidang penginapan bernama Vallye Hotel and Resort di negara Australia. Setelah beberapa generasi akhirnya kakeknya yang jatuh cinta pada keindahan Indonesia melebarkan usaha Vallye Corp hingga ke Indonesia. Bahkan menjadikan Jakarta sebagai kantor pusat Vallye Corp. Ayahnya yang menikah dengan ibunya yang wanita Indonesia semakin menegaskan hal itu dan kini, dirinya adalah generasi ketiga yang meletakkan kantor pusat Vallye Corp di kota ini bahkan memilih mengikuti kewarganegaraan ibunya

"Saya sudah menyusun schedul Anda. Di jam sepuluh nanti Anda akan mengunjungi lokasi proyek the big city. Kali ini tanpa reschedule. Please, Pak karena beberapa calon investor bertanya-tanya akan kehadiran Anda. Anda tidak bisa terus-terusan menunda kehadiran Anda." Arga mengangguk. Beberapa waktu ini dia memang disibukkan urusan Ikdee, perusahaan manufaktur milik Papa Dee yang sejak meninggalnya Papa Dee, dialih pimpinankan padanya.

Dan baru-baru saja ada sebuah kejadian cukup besar yang nyaris memporak porandakan perusahaan itu. Penyelewengan keuangan oleh Wakil Direktur saat dia disibuki urusan the big city lalu memilih menyerahkan seluruh urusan usaha Ikdee Furniture pada Wakil Direktur. Bagusnya semua bisa selesai sebelum Dee kembali ke Indonesia, walaupun dia harus menyuntikkan dana Valley Corp dengan membeli beberapa ratus ribu saham juga obligasi jangka panjang agar kelancaran modal usaha Ikdee Furniture tidak terganggu.

Arga Utama mengalihkan pandangannya pada ajudannya yang melangkah di sisi Ariana. "Aku ingin kau tetap di Jakarta untuk menjaga Cantik. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya."

Pria itu mengangguk paham. Hanya mata Ariana yang menatap bingung atas sikap bossnya yang biasanya terkenal dingin dan cuek pada wanita.

"Ariana, aku butuh beberapa berkas biaya big city yang terbaru." Ariana mengangguk lalu dengan lincah kakinya menuju ke meja kerjanya yang masih satu ruangan dengan ruang kerja Arga hanya di bedakan dengan sebuah pintu kaca.

"Aku minta kamar Pak Pramudya dikembalikan seperti sebelum renovasi." Arga bicara pada sang ajudannya sambil membaca beberapa dokumen di atas mejanya. Lalu beralih pada layar komputer untuk membaca beberapa email yang masuk.

"Tapi, beberapa bagian kamar itu kemungkinan besar tidak lagi ada di pasaran."

"Kau bisa mencarinya sampai dapat atau minta pabriknya memproduksinya kembali. Uang tidak harus menjadi masalah bukan?" Arga melirik sang ajudan dengan ekor matanya sementara mengetik email balasan.

Si ajudan mengangguk. "Akan saya kerjakan, Pak." Ariana muncul di sisi meja Arga dengan setumpuk berkas yang diminta Arga darinya. Dia menyerahkan berkas itu pada bossnya yang juga mantan teman SMA nya itu.

"Saya merangkumnya dalam satu dokumen untuk memudahkan Anda membaca laporan proyek the big city."

"Terima kasih." Arga meraih berkas itu, membolak-balik halaman dengan cepat. " Kau selalu tahu apa yang kubutuhkan."

"Karena aku akan melayani Anda seperti seorang isteri."

"Apa kau mencoba merayu, Ana? Ingat kau hanya seorang sekertaris, Ana," Mario, sang ajudan Arga menyambut bahkan saat Arga tidak berkata apa-apa. Ariana menatap wajah Mario dengan sorot mata yang siap membakar pria itu hingga menjadi debu. Namun Mario hanya cuek saja. Lama kelamaan memang kedua pria ini menjadi begitu mirip. Sama-sama ganteng. Ariana sering memperhatikan di manapun kedua pria itu muncul, pandangan mata seluruh kaum hawa mengarah pada kedua pria ini. Mereka bukan manusia, mereka adalah dua malaikat yang tersesat di Bumi ini. Namun kedua pria itu begitu mudah membolak-balik perasaan hati yang berbunga menjadi gugur dengan kedinginan sikap mereka.

"Ayo, kita harus segera berangkat." Arga berdiri dari kursinya dan segera beranjak.

"Saya akan mengantar Anda ke bandara."

"Aku akan kembali ke Jakarta secepat mungkin." Kalimat Arga membuat wajah Ariana mendelik penasaran akan arti cewek sedikit gesrek yang dia temukan di pagi tadi. Arga begitu mementingkan gadis itu, berbeda dengan sikap si gadis pada bosnya itu.

***

Dee menatap puas pada penampilannya di pagi ini. Dia tinggal memoles lipstik natural nude ke bibirnya. Menarik clutch dari dalam rak walk closed lalu kembali ke depan cermin rias, untuk sekali lagi Dee memandangi penampilannya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dengan halter top berkerah V rendah bernuansa hitam putih dan dipadukan celana jeans belel dan rambut yang dibun asal dengan sebuah pita hitam, Dee siap untuk hang out saat ini. Sebelum benar-benar beranjak dari dalam kamar tidurnya, dia meraih kartu mungil berwarna hitam dari sebuah bank terkenal yang mencantumkan nama oedipus yang dia temukan setelah mengacak-acak kamar makhluk itu. Bagusnya oedipus bahkan menuliskan nomor pin kartu itu. She is so lucky girl.

Dee menuruni anak tangga dengan girang, beberapa pengurus rumah yang tengah bekerja membenahi rumah saat dia lintasi, menyapanya dengan hormat lalu saling berpandangan. Sebentar saja Dee telah tiba di halaman rumahnya yang luas, matanya bersiobok pada sosok Jaki, supir keluarganya yang tengah sibuk melap Bugatti Chiron merah di pelataran depan rumah.

"Ayo, antarkan aku." Jaki, si supir menatap Dee kaget. Jelas dia mendapatkan amanat agar memastikan nona mudanya ini tetap di rumah. Tak ada mobil yang diizinkan digunakan oleh nonanya ini. "Ayo, tunggu apa lagi?"

"Maaf, Nona, Tuan besar meminta Nona tetap di rumah."

"Maksudmu??? Tuan besar...??" Mata Dee mendelik nyaris tidak percaya dan kesal, bagaimana bisa pria itu lebih mendengarkan ucapan oedipus daripada dirinya, sang pemilik asli rumah ini. Dan apa tadi...?? Pria itu dipanggil tuan besar di rumahnya ini oleh para pekerjanya...??? Wow. Dee mengatupkan rahang dengan geram saat menyadari bagaimana oedipus kini menguasai seluruh rumahnya dan segala isinya, tapi dia menolak untuk tunduk pada pria itu. "Dia tidak berhak mengatur hidupku. Namun kalau kau tidak mau mengantarku...kemarikan kunci mobil ini."

"Tapi, Nona..."

"Aku tidak menerima penolakan." Dee berkeras.

"Maaf Nona," seorang satpam rumah muncul di depan keduanya saat melihat keributan itu. Dee tidak mengenal pria itu, jelas satpam ini dipekerjakan selepas dia pergi ke Amerika untuk study selepas Senior High school yang setara SMU di Indonesia. "Tuan Arga meminta Anda tetap di rumah. Tolong kembalilah ke dalam, Nona."

"Kalau aku tidak mau, kau akan lakukan apa?" Dee memasang wajah penuh emosi saat melirik seluruh pengurus rumah kini melongok menantapnya seakan dia binatang sirkus untuk tontonan. Tatapan galaknya kemudian membuat para pekerja rumahnya kemudian memilih kabur untuk mengerjakan tugas masing-masing atau paling tidak pura-pura melakukan pekerjaan mereka.

Lihat selengkapnya