I love You, Om

Elisabet Erlias Purba
Chapter #7

7. Kisahmu dan Mamaku

Tiga sekawan itu telah berbaring asal di ranjang. Dee di sisi kiri, Kimy di sisi kanan, keduanya asyik memainkan game di handphone, sedangkan Rara memilih berada di bawah kaki keduanya. Dia asyik mengunyah stoples chitatos, snack berwarna kuning dengan rasa jagung yang diletakkan di sofa kulit yang berada di kaki ranjang.

"Dee, ceritain dong tentang Om lu yang cakep itu." Rara bicara sambil asyik mengunyah, suaranya seperti orang yang sedang kumur-kumur.

Kimy jelas ikutan mendukung permintaan Rara. Dia bahkan menghentikan keasyikannya bermain game. Dee memilih pura-pura budek.

"Ihhh, Dee!" Rara kesal dan melempar sepotong chitos yang baru saja dia comot dari dalam toples ke arah Dee yang segera memekik protes:

"Ihhh, jangan lempar-lempar dong, nanti banyak semut tahu." Dee memungut stik snack jagung kuning yang jatuh di sisi wajahnya itu dan sekejap kemudian snack itu telah ludes di dalam mulutnya.

"Lu marah, ya sama Om lu, Dee?" Akhirnya pertanyaan Rara membuat Dee menoleh menatap Rara sejenak.

"Sepertinya Om lu orang yang baik dan asyik gitu," timpal Kimy, " Tapi kok waktu lu balik dari Amrik lu sampe nggak mau balik ke rumah? Lu bikin kita ngerasa Om lu orang yang nakutin tau."

"Tul tuh. Gue pikir lu tinggal sama monster."

"Sikap lu sama dia nggak asyik banget tau."

Dee mendesah, menjilat bibirnya yang terasa kering seketika. Dia memang tidak pernah menceritakan hal itu kepada siapa pun, tidak juga kepada Kimy dan Rara. Baginya ini sangat pribadi. Menyangkut mamanya. Menyangkut gambaran orang tuanya di benaknya... dan dia ingin gambaran itu seperti yang dia ingat ketika pria brengsek, si oedipus belum masuk di hidup mamanya. Bahwa mamanya mencintai papanya dengan seluruh hatinya seperti papa mencintainya...

"Kok lu bengong aja. Ada yang mau lu ceritain, Dee? Cerita dong, Dee." Permintaan itu membuat mata Dee makin nanar pada kisah yang dia lewati tujuh tahun yang silam...

***

Dee bergegas pulang dari bimbel tanpa menghiraukan ajakan Rara dan Kimy untuk nongkrong di warung bakso Iga-iga yang ada tepat di seberang jalan sekolahnya. Biasanya dia tidak pernah menolak ajakan itu, tapi hari ini ada yang lebih penting yaitu mamanya, wanita yang melahirkannya itu. Sudah lebih dari enam bulan ini dia melihat perbedaan sikap mama. Sebuah keanehan.

"Dee, kamu sudah pulang, Sayang? Mama pergi dulu, ya?" Kedatangan Dee disambut kepergian mama. Dee ingin mengulangi permintaannya untuk ikut. Namun karena mama selalu menolak dengan seribu alasan Dee jengah. Lagi pula hari ini dia tiba agak telat, mama sudah ada di depan setir bahkan hanya menyapanya dari balik kaca jendela mobil yang diturunkan. Kalau dia minta ikut, pasti mama punya seribu alasan untuk meyakinkannya bahkan mama tidak punya waktu untuk menunggunya bersalin dan berakhir dengan berjanji bahwa mama akan mengajaknya ikut kapan-kapan.

Dee cuma bisa mengamati kepergian mama dengan penuh tanda tanya. Seperti kemarin dan kemarinnya lagi selama tiga bulan ini mama bahkan selalu pergi tiap-tiap harinya.

Penampilan mama bahkan begitu cantik dengan sapuan make up natural ala Korea, mama terlihat lebih muda sepuluh tahun dari usianya yang mencapai empat puluh tahun.

***

Dee menatap layar televisi yang terus berubah. Sepertinya tanpa sengaja mama salah menekan tombol di remote tv. Namun mama bahkan tidak menyadari hal itu. Mata mama terpaku seperti terkena lem, menatap layar mungil di genggamannya. Beberapa saat mama bahkan nampak tersenyum-senyum sendiri tanpa menyadari kehadirannya di balik pintu kamar mama yang sengaja dia buka sedikit.

Mama juga tidak lagi menanyakan keberadaan papa, padahal malam ini jam telah menunjukkan pukul dua belas malam. Mama tidak lagi mencemaskan papa seperti yang dulu mama lakukan jika papa belum pulang, mama tidak mondar-mandir di depan pintu dan duduk dengan tak sabar di sofa ruang tamu untuk menanti kehadiran papa. Mama kini berbeda, mama malah sibuk memplototi terus layar ponselnya.

Derit pintu yang sengaja dibuat Dee, membuat mama terlonjak dan menatapnya lalu buru-buru menyelipkan ponsel di belakang bantalnya.

Lihat selengkapnya