Dee tahu hari itu hari pertama UN, tapi dia memilih tidak datang. Dia harus menemui pria yang ada di balik perubahan sikap mama. Pria yang membuat mama yang lebih suka di rumah kini sering pergi dan pulang hingga malam, pria yang membuat mamanya berubah misterius. Dee membulatkan tekad, dia harus menyelamatkan keluarganya.
Lafanye resto yang berada di dalam hotel Grand Canyon yang sebagian besar sahamnya berada di bawah nama papanya: Pramudya, tampak lengang pagi ini dan Dee tampak gelisah di pojok ruangan. Matanya nanar mengawasi pintu resto, setiap tamu pria yang datang membuatnya waspada dan menebak-nebak: apakah orang itu adalah kekasih gelap mamanya. Dia tidak mengenal pria itu. Lalu matanya menatap seorang pria yang kemudian duduk pada kursi yang telah dia pesan atas nama mamanya: Sandra.
Dia mengawasi pria itu dari pojok ruangan. Jelas sangat kaget karena pria itu jauh lebih muda dari mamanya, bahkan walaupun dengan gaya yang sangat dewasa dan parlente, perbedaan usia antara mereka masih sangat terlihat. Postur tubuh pria itu tinggi, lebih tinggi lima centimeter dari papa. Dia mengenakan stelan jas resmi mahal seperti milik papa yang bahkan tidak akan basah walau terkena hujan dengan dasi hitam ber-lin putih yang menambah karisma dirinya. Bisa Dee prediksi pria itu berjabatan cukup baik di usianya yang masih muda. Mungkin salah satu top manager di perusahaan yang cukup bonafit. Harus Dee akui pria itu benar-benar tampan. Matanya indah seperti batu mulia black diamond yang langka, alisnya tebal sempurna, hidungnya mancung, rahangnya kokoh, bibirnya yang tipis tampak merah bagai buah strawberry ranum yang matang di pohon. Pria itu jelasnya harusnya ada di film Hollywood. Dan mamanya jatuh cinta pada pria itu.
Dee masih memandangi pria itu yang sedang asyik bertelepon itu.
"Your kidding me, Sandra..." pria itu tertawa lebar dan membuat Dee seketika memblalak. Dee tidak mungkin salah dengar, dia jelas mendengar pria itu memanggil nama mamanya seakan mereka adalah teman sebaya atau dua orang yang sangat akrab. "Oke, aku datang. Tunggu saja aku di sana. Cuma sebentar. Aku di Grand Canyon hotel, tempat kau memintaku datang pagi ini..." Dee menajamkan telinganya lebih baik lagi. "Aku tidak bercanda. Aku masih punya isi WhatsApp messenger darimu pagi tadi. Kau ingin melihatnya?" Pria itu tertawa lagi. "Aku tidak mungkin membohongi wanita sebaik dan secantik is..." Ucapan pria itu dipotong oleh mama.
Deg! Bayangan amarah mama yang menakutkan membuat jantung Dee yang tak setia kawan segera meloncat tinggi hingga hampir keluar dari dadanya untuk kabur. Untungnya jantungnya gagal menembus rongga dada yang memaksanya kembali pada tempatnya hingga Dee tetap akan menghadapi kemarahan itu bersama-sama jantungnya nanti dalam keadaan hidup. Mama pasti mencurigainya kini setelah pria itu mengadukan segalanya.
Pria itu beranjak bahkan sebelum Dee merencanakan apa yang harus dia lakukan untuk membuat mama menyesali perasaannya pada pria itu, lalu memutuskan pria itu dan kembali pada papanya. Dee mengikuti langkah itu. Mengejar pria itu yang telah memasuki elevator yang hampir saja menutup sempurna. Yah, resto itu terletak di lantai teratas hotel. Dee ingin bertingkah anggun, tapi penuh ancaman seperti seekor singa betina dihadapan pria itu. Membuat pria itu takut pada ancamannya dan menjauhi mamanya, tapi semua gagal karena accident memalukan itu, kakinya tersandung pintu elevator dan membuat tubuhnya terhuyung. Sesaat, Dee merasa beruntung karena tak sampai mempermalukan diri di hadapan kekasih gelap mamanya itu. Namun celakanya accident itu malah membuatnya masuk ke dalam pelukan pria itu, yang terdorong membentur dinding lift.
Aroma parfum maskulin yang digunakan pria itu memenuhi penciumannya. "Lepaskan!" perintahnya dengan suara gemetar penuh amarah. Menatap langsung manik hitam legam pria itu ada di daftar kesalahan takdirnya.
"Tapi kamu harus berdiri dulu dengan benar, karena kalau tidak nanti kamu bakal benar-benar jatuh." Pria brengsek itu tersenyum.
Denyut nadi Dee makin cepat. Sejurus kemudian dengan keras kepala Dee mendorong tubuh itu dengan keras dan berhasil keluar dari pelukan pria itu walau akibatnya dia hampir terjatuh untuk kedua kalinya.. Matanya terkunci dengan manik lembut pria itu yang bergerak menggapainya untuk sekali lagi. Lalu dia merasakan lengan berotot pria itu berada di pinggulnya.
"Kan sudah aku bilang kamu bisa jatuh lagi."
Dee menepis tangan itu dengan kasar dari tubuhnya, dia nyaris tidak mampu menghentikan hasrat di hatinya yang ingin menghajar pria itu. Namun mama pasti marah. Kemudian papa akan tahu rahasia yang selama ini disimpan rapat oleh mama. Dee tidak bisa membayangkan kelanjutan dari kejadian itu. Dia tidak bisa kehilangan kedua orang tuanya, tidak bisa juga diminta untuk memilih salah satu diantara keduanya. Matanya panas. Dee berjuang sekuat tenaga menahan butiran air mata yang nyaris jatuh di pipinya.
"Sorry, saya tidak bermaksud melecehkan kamu. Kamu nggak apa-apakan, Dek?" Pertanyaan itu membuat Dee menghujamkan tatapan mematikan pada makhluk di hadapannya itu, yang memasang wajah tanpa rasa bersalah setelah semua yang pria itu lakukan pada keluarganya.
"Gak usah sok perhatian deh lu!" Dee bisa melihat bagaimana shock-nya pria itu mendengar kalimatnya yang jutek lalu memilih cuek. Tepat beberapa detik kemudian pria itu mengangkat ponselnya.
"Apa? Kau sudah dibawah? You are so pushy." Pria itu tertawa. Dee jelas bisa menebak siapa orang di seberang sana. Mamanya.
Bruk...
Sekali lagi Dee merasa harus beruntung dengan kesigapan pria itu menangkap tubuhnya bahkan hingga rela melemparkan ponselnya yang masih aktif. Pria itu menggendongnya keluar dari lift, bahkan sebelum tiba di lantai dasar yang jadi tujuan awal pria itu.
"Tolong, ada seseorang yang pingsan di lift. Bukakan kamar segera." Dee bisa mendengar suara teriakan pria itu memanggil seorang pekerja hotel yang segera membukakan sebuah kamar untuknya. Menebak-nebak pria itu adalah salah seorang pekerja di Grand Canyon hotel, salah satu hotel milik papanya. Alasan itulah yang membuat pria ini mengenal mamanya dengan baik.
Kemudian pria itu meletakkan tubuhnya di atas kasur king size. Diam- diam kelopak mata Dee terangkat sempit, mengintip keadaan. Pria itu baru saja menurunkan sedikit rok birunya yang tersingkap. Dee menahan nafas dengan cemas. Dia akan menendang bokong lelaki itu kalau lelaki itu berani macam-macam padanya. Thank God, karena pria itu cuma melakukan hal itu lalu berbalik menatap seorang room boy yang berdiri beberapa jarak dari ranjang. "Ambilkan saya minyak kayu putih atau sesuatu yang beraroma cukup tajam untuk menyadarkan gadis ini."
"Baik, Pak Arga."
Room service itu segera berlari ke luar kamar mencari minyak gosok yang diminta pria itu untuk menyadarkannya. Pria bernama Arga Utama itu kembali membalikkan tubuhnya menatap Dee yang buru-buru memejamkan matanya kembali, pura-pura tak sadarkan diri. Perlahan pria itu mendekatinya, membungkukkan tubuhnya dan meletakkan tangannya di kancing atas seragam putih biru Dee.
"Brengsek, mesum!" Dia memekik sambil buru-buru bangkit dari posisinya. Tawa pria itu pecah.
"Berhenti menertawakanku, Sialan! Aku bukan badut!" Dee memaki.
"Kalau kau bukan ingin melucu, kenapa kau harus berpura-pura pingsan di depanku? Kau jelas-jelas tidak pingsan. Kau mengintipku saat aku membaringkanmu."
Dee kaget saat tahu pria itu memergoki tingkahnya. Namun bukannya minta maaf, Dee memilih bersikap lebih galak lagi. "Jangan berpikir aku mau melucu di depanmu. Duduk." Perintahnya tak juga membuat pria itu menatapnya lebih serius. Dia malah tersenyum.