I love You, Om

Elisabet Erlias Purba
Chapter #9

9. Jangan rebut sahabatku

Dada Dee terasa sesak. Kenangan itu mencekik lehernya seperti seutas tali tambang yang melilit di lehernya. Dia tidak menangis lagi. Air matanya sudah kering jauh-jauh tahun sebelumnya, berbeda dengan luka di hatinya yang masih terus berdarah.

Orang bilang waktu akan menyembuhkan semua luka, tapi itu tidak berlaku buatnya. Waktu tidak pernah bisa menyembuhkan lukanya. But life must go on, sama seperti orang lain yang tertawa, dia juga tertawa. Kadang tawanya bahkan bukan berarti dia tengah bahagia, namun hanya karena dia sadar bahwa luka ini akan makin melukainya saat dia mencoba bersahabat dengan luka itu.

"Dee, lu baik? Mau cerita?"

Dee meneguk ludahnya yang terasa menyangkut begitu keras di tenggorokannya. Begitu lama dia memendam rahasia ini sendiri hingga dia terluka begitu dalam tanpa harapan sembuh. Dia tidak pernah sanggup menceritakan kisah yang berhubungan dengan khilaf yang mama lakukan.

"Maaf. Gue belum bisa cerita." Dee berucap lirih.

"Gue dan Lara memang nggak tahu masalah lu sama Om lu, Dee, tapi gue yakin dia nggak seburuk yang ada dipikiran lu, Dee. Lu harus ingat, semua kebaikannya.. "

"Kebaikannya?! Lu pikir dia ngelakuin kebaikan apa buat gue?!" Suara Dee naik setengah oktaf. Jelas dia tidak sependapat dengan pemikiran Kimy. Lara segera menggamit lengan Kimy, mencoba menyadarkan sahabatnya itu untuk mengunci rapat mulutnya sebelum ucapannya berubah menjadi bumerang bagi persahabatan mereka yang baru saja dimulai kembali setelah perpisahan panjang selama ini. Namun tentu saja Lara harus menegak kekecewaan. Dia jelas mengenal sifat Kimy, Kimy tidak pernah berhenti berdebat di tengah jalan. Dia hanya akan berhenti setelah kemenangan menjadi miliknya. Sialnya Dee juga begitu. Jelas ini akan jadi pertengkaran.

"Dia ngerawat lu, nyekolahin lu sampe S2, di Yu Es Ai lagi. Kalau dia punya niat jahat sama lu, dia bisa ngelakuinnya jauh-jauh hari, waktu lu masih SMP..."

"Lu nggak tahu apapun, jadi lu nggak berhak menilai gue! Dia nggak ngelakuin kebaikan apa pun sama gue dan gue nggak berhutang budi apa pun sama oedipus complex! Gue sekolah juga bukan atas bantuan dia. Gue sekolah karena harta yang diwariskan bokap gue buat gue!" Dee melompat turun dari atas ranjangnya. Dia butuh waktu untuk sendiri sebelum emosinya bukan hanya membakar dirinya sendiri, tapi juga membumi hanguskan persahabatannya dan Kimy. Namun sebelum melakukan niatannya untuk bersemedi di kamar mandi, sebuah ketukan di balik pintu kamar terdengar. Dee menghentikan langkah, Kimy yang berlari ke depan pintu kamar dan menguak pintu itu.

Lihat selengkapnya