I love You, Om

Elisabet Erlias Purba
Chapter #10

10. Perlawanan Dee

Dee menggeliat malas ketika Rara membangunkannya pagi ini. Suara hairdryer terdengar dari bilik kamar mandinya. Agaknya itu kerjaan Kimy. Mata Dee masih setengah terpejam saat melirik jam dinding besar yang terpaku di dinding. Hello, ini baru pukul 06:00 wibb! hatinya nyaris memekik.

"Ayo, Dee." Dee membuka paksa matanya yang masih ingin terpejam. Rara telah menarik selimutnya, menarik tangannya agar tubuhnya bangkit. Lalu matanya terpaku sesaat pada Kimy yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi, aroma sabun dan shampo miliknya menyebar memenuhi kamar tidurnya. Ajaib kedua sahabatnya itu telah rapi sepagi ini. Dee membuang wajahnya dari Kimy.

"Lo berdua wajib baikan sebelum matahari benar-benar naik. Awas kalau nggak," Rara mengancam sambil mendorong tubuh Kimy ke hadapan Dee yang masih terduduk di atas ranjangnya.

Kimy menjulurkan tangannya dihadapan Dee. "Sorry," ucapnya, "Ucapan gue mungkin dikit keras sama lu, Dee, tapi itu karena lu sahabat gue."

"Ya, Dee. Itu karena kita sayang sama lu." Rara menambahkan sambil mendekap punggung Dee dengan hangat. Kimy menambahnya dan mau tak mau Dee tersenyum juga.

"Ayo," Kimy menarik paksa tangannya. Menyeretnya turun dari ranjangnya.

"Kita mau kemana? Gue kan belum mandi." Membiarkan dirinya ditarik oleh kedua sahabatnya, mereka menuruni anak tangga. Dee mencoba mengingat apa yang mereka bicarakan kemarin sebelum pertengkarannya dan Kimy terjadi. Tak ada janji untuk pergi sepagi ini bahkan tak ada janji untuk pergi hari ini.

Tapi, wait...

"Pagi, Om." Dee mematung di tempatnya berdiri sementara Rara dan Kimy telah berhahahihi dengan makhluk yang ada di depan meja makan. Mereka telah duduk manis di depan oedipus dan meninggalkannya.

"Om udah rapi dan ganteng banget. Mau ke kantor, ya?" Pria itu sedang membuat selapis sandwich, mengangguk menjawab pertanyaan Kimy dan menatap Dee.

"Ayo, sarapan." Ekor mata Arga beralih menatap kursi kosong di sisinya, seakan berkata kepada Dee: ayo, duduk di sini. Tepat di saat bersamaan terdengar suara Rara terdengar meminta Dee juga untuk ikut sarapan. Dee mengangkat ujung bibirnya- mencibir menjawab pertanyaan itu.

Beranjak dari tempatnya berdiri, Dee memilih untuk duduk di sisi Rara. Posisi mereka kini: Arga duduk di seberang kursi mereka, seorang diri dan di depannya Kimy mengambil tempat, lalu Rara dan Dee. Arga memberikan sandwich yang baru saja dibuatnya kepada Dee, tidak terlalu tepat di depan Dee, tapi jelas sandwich itu diperuntukkan untuk Dee. Lalu dia kemudian disibuki membuat sandwich baru.

Dee mengacuhkan roti itu lalu beralih mengisi gelas dengan susu yang ada di jug.

"Nih, sarapan kamu, Dee dibuatin sama Om Arga." Rara menggeser piring sandwich ke depan Dee, tapi Dee mendorongnya menjauh.

"Gue nggak sudi makan buatan tangannya." Dee berucap ketus tanpa memandang wajah Arga dan memilih menyesap susu dalam gelasnya. Kimy melirik Dee dengan kesal.

"Itu buat kamu kok, Ra. Saya tahu dia nggak akan pernah makan makanan buatan saya kalau bukan karena tidak sengaja." Arga ingat benar bagaimana Dee memakan sandwich buatan tangannya yang terletak di atas meja makan dua hari yang lalu, padahal dia bahkan telah menggigit ujung roti isi itu. Andai Dee tahu, Arga yakin mungkin saat ini juga gadis itu akan memuntahkan seluruh isi perutnya.

Dan itu tidak akan pernah terjadi, Dee berucap yakin di dalam hatinya.

"Terima kasih, ya, Om." Rara tersenyum manis pada Arga.

"Kimy juga mau dong, Om. Sandwich buatan Om kayaknya lezat tuh." Mata Dee membulat mendengarkan rayuan Kimy pada makhluk itu demi selapis sandwich. Arga menyodorkan sandwich yang baru dia buat pada Kimy.

Sok baik banget nih orang, umpat batin Dee masih kesal, ngerasa malaikat...

Meraih apel di atas meja, Dee melahap buah itu. Arga mengikutinya, meraih apel dari keranjang buah lalu melahapnya.

"Lah, Om kok jadinya cuma makan apel?" Kimy angkat suara sambil mengunyah roti isi yang diletakkan Arga di depannya.

"Nggak apa-apa, tiba-tiba kepengen aja waktu lihat Dee." Dee membalas senyum menggoda yang dilemparkan Arga dengan cibiran. Namun itu tidak mengapa buat Arga. Entah mengapa dia selalu suka dengan cara komunikasi antara dia dan Dee. Mengikuti cara Dee yang selalu bertindak kekanak-kanakan, walau kadang itu mencapai sikap menyebalkan, tapi dia selalu merasa bergairah dan hidup karena cacian, makian, cibiran dan kalimat sarkasme Dee yang akan dia sambut dengan godaan, arogansi dan amarah. Arga masih menatap Dee, seperti biasa gadis itu selalu tak ingin tunduk padanya dan balik membalas tatapannya.

Dee masih menggunakan gaun tidurnya yang kemarin. Belum mandi saja gadis itu nampak cantik dan menarik di matanya, apalagi setelah mandi. Bibir itu membuka menampakkan deretan giginya yang putih bersih, lalu Dee menggigit apel di tangannya. Arga berharap menjadi apel yang menyusup masuk ke dalam mulut itu. Bersentuhan dengan bibir dan lidah itu, lalu masuk menyusup di tenggorokan gadis itu, menggelitik perutnya yang rata.

Ya, Tuhan, apa yang dia pikirkan di pagi hari seperti ini?

"Soal permintaan aku kemarin, Om udah pikirinkan?" Kimy bicara serius. Bahkan sudah dua kali mengulangi kalimat itu sampai kalimat sarkasme Dee terdengar:

Lihat selengkapnya