I love You, Om

Elisabet Erlias Purba
Chapter #11

11. Bukan Malaikat Untukmu

Dee baru pulang dari kampus di musim panas. Dia sengaja mengambil kelas musim panas untuk mempercepat proses kuliahnya selain sebagai alasan ketidak pulangannya ke Indonesia pada oedipus complex yang selalu mengiriminya tiket pulang di awal liburan kuliah.

Baru menginjakkan kaki di dalam apartemen yang juga dia sewakan kepada Meggy, teman satu universitas di UCLA, dia menemukan Meggy tengah bercumbu dan berpagutan dengan seorang pria yang bahkan tidak pernah dilihat oleh Dee dalam pertemanan Meggy. Mereka berpagutan dan bercinta di sofa ruang tengah. Pria itu dengan tubuh bagian atasnya yang telah terbuka dan Meggy dengan beberapa kancing teratas kemejanya yang kebesaran itu telah terkuak. Namun masih menggantung melorot mengekspos bahu, dada dan punggungnya yang kecoklatan. Suara yang keluar dari mulut keduanya membuat perasaan tak nyaman melingkupi Dee.

"Oh, My God!" Dee histeris sambil menutup matanya. "What are you doing here?! I can blind!"

"Don't be dramatic, your not little girl anymore." Meggy berujar sambil dengan santai berganti posisi duduk di pangkuan pria itu dan melahap wajahnya. Dee mengintip dari balik jemarinya. Mereka saling bercumbu lagi, seakan ada sebuah mesin vacum cleaner yang menyatukan kedua mulut mereka dalam aktivitas hisap menghisap.

"Seriously, stop that! You make me puke!"

(Serius, hentikan itu! Kalian membuatku muntah!)

Dee memekik sambil menutupi kembali matanya dan dengan keras menghempaskan tubuhnya di kursi bar dapur yang tanpa sekat dengan ruang tengah tempat menonton televisi dengan sebuah sofa besar dan satu sofa kecil.

"Kalau kau tidak suka kenapa kau tidak pergi ke kamar tidurmu saja? Aku membayar setengah dari sewa apartemen ini. " Balas Meggy saat melepaskan muncungnya dari pagutan pria tidak jelas yang dia bawa ke apartemen mereka.

"Ruang duduk jelas-jelas area umum," jawab Dee membalas, "Kenapa bukan kalian saja yang pergi ke kamarmu?" Tepat saat itu seseorang mengetuk pintu depan.

"Baiklah!" Suara Meggy terdengar lebih keras, jelas dia terdengar sangat kesal. Dia berdiri dan menyeret teman prianya yang dengan genit masih saja berusaha mencumbu Meggy sementara Dee menuju pintu depan. Namun sialnya Meggy bukannya masuk ke kamar miliknya, dia nyasar ke kamar Dee. Tepat saat Dee membuka pintu terdengar suara ranjang berderit menandakan sesuatu.

"Sialan, jangan di atas ranjangku!" teriaknya. Dan di detik itu kesenangan Meggy dihancurkan oleh Arga- tamu yang muncul di balik pintu depan. Arga menendang pintu kamar tidur Dee sampai roboh. Meggy dan kekasihnya yang telah bugil terkaget-kaget, bahkan kekasih Meggy lari kocar-kacir tanpa pakaian.

Dee bahkan nyaris shock ketika pria itu berlari dengan bugil melintasinya yang ada di depan pintu kamar tidurnya. Arga buru-buru menutupi kedua bola mata Dee dengan kedua telapak tangannya. Namun dari sela-sela jemari Arga, jujur dia masih bisa melihat bokong telanjang yang tengah berlari itu. Itu kali pertama Dee memegangi jemari Arga agar merapat dan menutupi pengelihatannya.

Banyak versi yang kemudian muncul tentang sikap proteksi oedipus padanya. Ya, karena setelah peristiwa itu Arga dengan mudah memperalat pemilik apartemen untuk mengusir Meggy dari apartemen. Bahkan makhluk itu muncul seenaknya untuk mewawancarai teman-teman lain yang ingin tinggal se-apartemen dengannya dan berakhir dengan pengunduran diri mereka setelah dia menolak tawaran...ah,bukan tawaran, tapi perintah dari seorang Arga Utama agar dia tinggal di apartemen baru yang telah dipersiapkan pria itu. Arga memproteksi dirinya dengan menempatkan mata-matanya di sekitarnya untuk mengawasi hidupnya. Dan seluruh kampus tahu itu. Bahkan ada olok-olokan di kampusnya: bahwa putri presiden Amerika saja tidak dikawal seketat Dee Cantika, si putri kerajaan Indonesia.

***

Intinya Dee benci makhluk itu.

Lihat selengkapnya