I love You, Om

Elisabet Erlias Purba
Chapter #12

12. Kabur

Kuingin bercinta dengan dirimu

Habiskan malamku

Menikmati hembus cintamu

Disekujur ragaku


Kuingin bercinta dengan dirimu

Habiskan malamku

Menikmati indah cintamu

di dalam diriku


Mari bercinta, mari bercinta

Mari, mari, mari, mari, mari, mari bercinta

Aaaaa...aaa...


Brandon Aksa Salim, cowok ganteng itu membiarkan wanita cantik di hadapannya-Alisa melingkarkan lengan di lehernya lalu menggodanya sambil meliukkan tubuh mengikuti lagu dari penyanyi dalam negeri Vicky Shu yang tak biasa diputar di discotik internasional sekelas Red Rose. Diskotik ini bahkan tidak bisa dimasuki sembarang orang. Letaknya di lantai teratas hotel bintang lima Valley Hotel.

Seorang pria lain bergabung di lantai dansa bersama seorang wanita cantik berambut sebahu, kekasih sahabatnya itu. Sesaat Brandon Aksa melirik pada punggung wanita yang duduk di meja bar yang datang bersama kedua sahabatnya itu.

"Siapa dia?" tanyanya sambil berdansa.

"Aku menemukannya di tepi jalan sendirian. Indah bilang untuk mengajaknya dari pada ditinggalkan di jalan sendirian."

"Ndah, lu nggak takut apa kalau cewek itu ternyata cewek bookingan yang bakal merebut cowok lu ini?" Ucapan Brandon membuat mata Indah mendelik kesal.

"Gue nggak be*o tau. Gue tau yang mana cewek baik-baik dan yang mana cewe murahan."

"Cewek baik-baik juga bisa jadi murahan tau." Brandon berkata tak ingin mengalah.

"Kalau cowoknya ganjen macam lu, ya, terpaksa deh cewek lu jadi murahan." Indah ngomong jutek sambil menarik Nuki, kekasihnya keluar dari lantai dansa. Brandon membalas jawaban jutek Indah dengan tawa lepas. Cewek seksi itu selalu bersikap jutek padanya. Sambil berdansa diam-diam Brandon menelusuri tubuh Indah dari ujung kaki ke ujung rambutnya. Untung cewek itu cantik, jadi walaupun dia jutek, masih ada cowok be*o macam Nuki yang menyukai cewek itu, Brandon berpikir.

Cewek itu meraih wajah ganteng Brandon dalam tangkupan telapak tangannya, mendekatkan wajahnya dan cup, dia mengecup bibir merah itu dengan lembut. Brandon membalas kecupan manis itu. Bibir gadis itu seperti es krim, lembut, dingin tapi begitu adiktif. Begitu lama dia menghayalkan melumat abis bibir judes itu dan kini semua menjadi kenyataan. Bibir judes ternyata jauh lebih nikmat untuk dikecup. Nafas mereka memburu. Untuk beberapa saat hingga lagu yang diputar disk jockey berganti.

"Saat kamu menciumku, apa kau masih memikirkan wanita lain?" tanya Alisa setelah mereka menghentikan ciumannya.

Brandon tak menjawab, tapi matanya jelas menceritakan segalanya dan seperti bisa membaca pikiran cowok itu.... plak! Gadis itu menampar pipi Brandon dengan keras sebelum berlalu pergi. Brandon melirik ke pergian itu tanpa rasa bersalah sedikit pun. Lalu beralih melangkah menuju meja sudut yang tadi telah dia pesan. Di sana Nuki, Indah dan seorang gadis berambut pirang telah duduk sambil menikmati kacang kulit dan beberapa botol bir dan sebotol air mineral equals. Siapa gerangan yang meneguk air mineral di tempat seperti ini yang harganya saja sudah setara sebotol bir?

"Hai." Brandon menghempaskan tubuhnya pada sofa kulit berwarna hitam itu sambil meneguk segelas bir, bukan karena dia miskin tapi karena bir lebih enak diminum dengan cemilan kacang kulit dari pada wine ataupun shampange. Lalu matanya terpaku pada Indah. Gadis itu tengah berbincang dengan gadis baru yang ada di sisinya.

Lihat selengkapnya