I love You, Om

Elisabet Erlias Purba
Chapter #13

13. Aksa, Guardian Angel Dee

"Indah sama Nuki nitipin lu ke gue. Mereka udah balik duluan." Aksa muncul dari kamar mandi dengan kabar itu saat Dee sudah menghabiskan air mineral equals di botol kaca yang dia pegang. "Lu tahu di dunia ini ada bermacam-macam temankan? Ada yang setia kawan, ada juga yang kayak mereka tuh nggak setia kawan banget. Katanya mau nolongin lu, tapi kabur lebih dulu. Gue antar lu balik, yuk. Lu mesti tetap di rumah lu. Gila aja kalau lu pergi gini tuh wali lu bakal ngambil seluruh harta lu. Lu mau kere?" Aksa memberi advis, Dee menggeleng. "Bagus kalau gitu. Yuk gue antar bentar lagi club' juga udah tutup."

Aksa langsung berdiri. Dee menahan tangan cowok itu, matanya melirik pada lantai dansa. "Pacar kakak nanti marah loh."

Aksa melirik pada arah tatapan Dee, matanya segera membentur wajah cantik Alisa, gadis yang tadi memberinya ciuman sekaligus tamparan, agaknya Dee memperhatikannya tadi dan kini gadis itu takut. Apakah kenangan di masa SMP dulu masih membekas di benak gadis itu? Saat itu Nana, mantan pacarnya yang baru saja dia putuskan seminggu lalu sebelum kepergok jalan dengan Dee, malah mendatangi mereka di kafe samping toko buku. Waktu itu dia dan Dee bahkan baru saja makan bakso. Nana yang barbar malah menyerang gadis itu. Jelas dia bisa melihat gadis itu takut kejadian itu terulang lagi.

"Lu nyantai aja, dia bukan cewek gue."

"Tapi tadi Kakak sama dia..."

"Ciuman maksud lu? Ngomong aja, Dee." Cowok itu tertawa nyengir. Sejak dia mengenal gadis itu, Dee selalu menjaga image dirinya, ngomong sopan dan selalu tak lupa sambil tersenyum, dia ramah pada semua orang dan menjadi kesayangan seluruh guru bahkan guru SMA juga mengenalnya, mengikuti kelas akselerasi di kelas IX dengan pelajaran setara kelas XI untuk beberapa bidang eksakta seperti matematika, fisika, biologi, kimia membuat Dee begitu populer. Bahkan para cowok SMA berbondong-bondong berusaha menaklukan hatinya karena ada pameo diantara cowok keren Van de Bosch kalau: 'belum disebut cowok keren jika belum dapat menaklukan hati seorang Dee Cantika.'

Hampir juga bisa dipastikan jika Pak Gultom, sang guru matematika mereka marah akibat mereka melupakan cara perhitungan disasosiasi, ataupun rumus-rumus matematika yang seabrek itu, pasti nama Dee disebut-sebut walaupun Dee masih di kelas IX dan percobaan di kelas XI sementara mereka sudah kelas akhir SMA.

"Dia bukan cewek gue. Gue lagi free nih. Cewek itu aja tadi yang ngajak gue ngedance bareng terus nyosor nyium gue. Nasib cowok ganteng sih gitu..."

"Udah dicium langsung digampar gitu? Kasihan banget kalau gitu jadi cowok ganteng." Aksa tertawa mendengar kalimat Dee. Gadis itu lucu juga. Baru berpikir begitu Aksa dikejutkan oleh ucapan Dee: "Bukannya Kakak yang nyakitin tuh cewek seperti kejadian enam tahunan lalu?"

Aksa garuk-garuk kepala padahal kepalanya tidak gatal sama sekali. Mungkin ini yang namanya mati kutu. Namun Aksa masih nggak rela mati kutu di tangan Dee.

"Mungkin ini akibat dulu gue emang player, jadi walau udah tobat dan mau setia sama satu cewek, masa lalu gue masih ngejar juga."

"Jadi cewek itu..masa lalu dulu?" Aksa mengangguk.

" Tapi gue bakal jagain lu kok dari cewek-cewek dari masa lalu gue."

"Kejadian yang lalu nggak bakal terjadi lagikan kalau aku jalan sama Kakak?" Dee serius bertanya. Dia ogah kembali mengalami kejadian naas, nggak disangka-sangka dan tanpa melakukan dosa apa-apa lalu dijambak membabi buta oleh cewek sinting nggak makan bangku sekolahan yang nuduh dia pelakor. Amit-amit cabang bayi, dia nggak mau kejadian itu terulang lagi.

Aksa menggeleng. "Kalau kejadian lagi, lu boleh ngaku nggak pernah kenal gue deh sama siapapun. Trus kita nggak perlu ketemuan lagi deh," Aksa memberi ide, sebelum mengajak Dee kembali, "Jadi lu mau gue antarin pulang-nggak? Kalau mau, ayo, kalau nggak ya, sudah."

Setelah menimbang-nimbang Dee berubah pikiran juga. Ucapan Kak Aksa mungkin benar, dia tidak boleh lari. Dia pemilik semua warisan papa dan mamanya, bukan oedipus. Kabur cuma membuat pria itu merasa makin menang. Lagian Kak Aksa juga udah bertobat dari tingkah playboy-nya.

Mereka melangkah berdua menuju pelataran parkir hotel dan segera memasuki mobil Honda jazz hitam, milik Aksa tentunya. Sebentar kemudian mobil telah meluncur meninggalkan hotel Vallye.

Lihat selengkapnya