Mimpi apa Arga, ketika dia membuka pintu kamarnya, Dee juga muncul dari balik pintu kamar gadis itu. Mata mereka langsung bersidekap. Dee nampak cantik. Aroma parfum tercium dari tubuhnya. Ini masih pagi, tak biasanya Dee bangun sepagi ini dengan penampilan yang bahkan telah begitu cantik... hahaha, kapan sih dia melihat Dee jelek? Sumpah demi apapun, belum mandi aja dengan mata yang masih dipenuhi belekan, di mata Arga- Dee tetap lebih cantik dari Aishwarya Rai si pemain film India mantan Miss universe itu. Rambut Dee dicepol atas dengan ikat rambut berpita besar, lalu di sisi telinganya sisa-sisa rambut tergerai cantik.
"Pagi, Cantik." Arga menyapa, merasa nyaris sama seperti aktor di iklan yang pernah dia tonton di televisi, tapi lupa produk apa. Di iklan itu si cewek sih membalas manis sapaan itu, tapi seperti dugaannya si Cantik malah melemparnya dengan tatapan jutek lalu melongos pergi dari depan pintu kamarnya dan menuruni anak tangga tanpa menggubris sapaannya. Arga tau bakalan menerima respon buruk itu. Namun sebagian dari hatinya masih berharap pagi ini keajaiban terjadi dan tiba-tiba Dee menyambutnya penuh senyum manis. Who's know hah?
Arga mengikut di belakangnya. Mereka tiba di lantai bawah, tepat ketika seorang pria muncul di ambang pintu dan Dee berlari mendapati pria itu. Pria itu mungkin tampan, Arga mencoba menilai, tapi tentu saja tidak lebih tampan darinya. Dua belas- sepuluhlah dengan ketentuan yang dua belas pasti dirinya, Arga menggumam dalam hati. Dasar cowok sama cewek sama saja kalau menilai saingan pasti selalu memberi nilai tertinggi pada diri sendiri.
Kaya? Siapa sih yang tidak mengenal kekayaan keluarga Utama? Ahh, mungkin saja banyak, dia memang sering menolak publisitas dari media. Hanya teman-teman dan kolega bisnis Vallye Corp yang mengenalnya secara jelas, selainnya dia sering menyuruh Mario menggantikan perannya. Namun setahunya Dee bukan gadis yang akan terpesona dengan ketenaran dan kekayaan, tapi perhatian dan cinta.... Ahhh, Arga mendesah lagi apakah cintanya bisa dibandingkan dengan cinta pria itu? Dia yang selalu ada selama tujuh tahun ini untuk menjagai dan merawat Dee seperti bayinya sendiri...seperti jodohnya.
"Siap menikmati kebersamaan kita hari ini, Cinta?" Aksa berkata dan membuat mata Dee terbelalak. Dia nyaris memprotes ucapan Aksa yang kelewat mesra. Kemarin Aksa nyaris saja mencium bibirnya andai dia tidak mengelak dan membuat yang tersentuh bibir Kak Aksa hanyalah pipi di sisi bibirnya, nyaris. Dia ingin memprotes juga tentang hal itu, ketika matanya menemukan isyarat dari gerak wajah Aksa tentang adanya oedipus complex di belakangnya yang tengah mendekati mereka.
"Aku selalu siap kemana saja yang penting sama Ka..."
"Berapa kali sih aku harus mengingatkan kamu supaya jangan manggil aku kakak? Aku bukan anak sulung Papa sama Mama kamu, ya. Bukan juga kakak sekolah kamu lagi. Aku pacar kamu." Wajah Aksa pura-pura cemberut. Imut banget. Dee baru tahu kalau cowok seganteng kak Aksa kalau manyun bisa seimut itu. Lucu dan nggemesin. Dee mencubit gemas kedua pipi Aksa dengan tawa keras.
"Aduh, sakit tahu." Aksa menarik kedua tangan Dee. Dee berusaha melepaskannya.
"Pagi, Maaf jika kemarin kita tidak sempat berkenalan. Kamu...?" Suara Arga yang terdengar dari balik punggungnya membuat Dee membalikan badannya, jemarinya masih tertaut pada jemari Kak Aksa yang tak ingin melepasnya. Dan Dee bisa melihat bagaimana sorot manik hitam Arga menatap tautan jemari mereka dengan tajam. Sorot pandang itu melemparkan tatap lebih dari amarah, mungkin cemburu...
Brengsek, Dee benci saat mata itu menatap matanya. Tatapan itu membuatnya kembali mengingat cuplikan kejadian di tepi kolam renang saat pria itu mengklaim kepemilikan atas dirinya. Dee baru saja berniat menarik tangan Kak Aksa untuk pergi dari tempat itu, tapi tangan Aksa menahannya. Remasan lembut di jemarinya seakan sebuah pernyataan dari Kak Aksa bahwa cowok itu menjamin semua baik-baik saja.
"Saya Aksa Brandon." Arga menatap uluran tangan itu sejenak sebelum menerimanya. Mereka berjabatan sejenak.
"Kamu tahu siapa sayakan?"
"Anda...???"
"Saya wali Cantik." Dee begitu muak saat kalimat itu meluncur dari bibir oedipus. Wajahnya yang tampan nampak tenang. Namun siapa yang menyangka dalam ketampanan wajah itu ada hati sebusuk iblis di dadanya.