Hujan turun cukup deras ketika film Perfect Love, Avangger dan Run From the Died selesai ditayangkan. Mereka menonton maraton beberapa film itu dan kini Dee dan Kak Aksa punya niat makan siang berdua. Telat beberapa jam walaupun perut mereka sudah terganjal aneka snack. Menembus hujan bersama, Aksa harus merasa beruntung karena hujan di sore menjelang malam ini dan karena dia memarkirkan mobil jauh banget dari gedung bioskop yang biasanya selalu ramai kalau sudah hari Sabtu.
Selanjutnya yang terjadi adalah Aksa melepaskan jaketnya dan melindungi kepala Dee dengan jaket itu. Memeluk bahu Dee agar merapat pada tubuhnya dan kemudian mengajak Dee berlari di tengah hujan yang agak deras.
Dee tersenyum lalu membatin saat Aksa melindungi kepalanya. Adegan kayak gini paling sering ada di film-film. Seorang cowok ngasih jaketnya ke seorang cewek untuk dipakai. Lambang pelindung, superioritas dan keunggulan lelaki yang lebih tegar dari wanita dan sang wanita menampilkan diri sebagai seseorang yang butuh perlindungan, lemah dan rapuh- drama yang harus dilakukan para pasangan hanya agar berhasil menjalin hubungan dengan yang disuka. Dulu Dee menatap kejadian itu sesinis itu, tapi tidak sekarang saat dia sendiri yang terjebak dalam situasi ini.
Aksa membukakan pintu mobil jazz nya dan mempersilahkan Dee masuk. So sweet. Nyaris seperti yang papa lakukan selalu pada mamanya waktu mereka berkendara bersama atau bertemu di suatu tempat. Papa bakal selalu mengantar dia dan mama ke dalam mobil, membukakan pintu buat mama dan dia akan protes meminta papa juga membukakan pintu mobil buatnya. Papa pernah bilang suatu saat nanti bakalan ada pria yang mencintainya yang akan melakukan hal yang sama buatnya bahkan mengorbankan jiwa buatnya. Dulu ada masa dimana dia berhayal mendapatkan kisah cinta seromatis kisah papa dan mama. Ya, sebelum makhluk itu menghancurkan semua memori itu berkeping-keping. Membuat dia meragu benar nggak sih cinta mama ke papa itu nyata atau cuma fatamorgana.
Mama nggak cinta papa. Mama jatuh cinta pada si oedipus complex.
Ada ngilu di hati Dee mengingat hal itu. Dee lalu menyadari tadi dia kabur bareng Kak Aksa, happy-happy nonton kan buat melupakan makhluk itu dari isi kepalanya? Kenapa sih dia masih terus mengingat makhluk itu? Bahkan di tempat sejauh Amerika nggak ada waktu buatnya untuk berhenti mengingat makhluk itu.
Menarik nafas. Dee menyadari Kak Aksa sedang cuap-cuap, tentang apa? Fix, Dee nggak tahu, tapi pura-pura jadi pendengar yang baik aja. Nanti juga tahu apa yang dibicarakan Kak Aksa.
Mereka berhenti di sebuah resto cukup ternama, seorang satpam dan doorman resto bahkan segera berlari-lari membawakan payung bagi mereka dan memayungi mereka agar mereka tidak kehujanan. Pelayanan pada konsumen selalu jadi perhatian nomor satu di setiap usaha baik jasa maupun pruduk agar sebuah usaha bisa bertahan.
Aksa memilih duduk di meja kosong yang ada tengah ruangan. Begitu duduk berhadapan dan menunggu pesanan diantar, kepala Aksa mendekat maju ke arah Dee.
"Gue rasa lu harus masuk kantor Dee."
"What?"
"Lu harus kerja bareng makhluk itu. Lu harus pepet dia, buat nunjukin posisi lu di mata semua pegawai Ikdee Furniture."
"Kok, Kakak tau Ikdee dan masa lalu aku...???" Dee menggantung kalimatnya, dia ingat bahkan tadi pagi Kak Aksa ngomong tentang skandal antara mamanya dan oedipus complex.
"Kamu nggak perlu bingung gitu. Gue tau semua tentang lu karena gue pernah kerja di Ikdee Furniture, walau sebagai karyawan nggak tetap beberapa waktu lalu. Coba saja gue nggak dipecat."
"Maksud Kakak, Oedipus...maksudku makhluk itu memecat Kakak?" Dee nyaris memekik andai saja dia tidak ingat situasi.
"Nggak masalah. Kalau jodoh, kita tetap akan ketemukan?" Aksa menggoda dengan senyum manisnya. "Jadi kamu mau pesan apa?" Aksa meraih buklet menu membaca deretan menu di sana dan meminta Dee memilihkan buatnya. Anehnya Dee malah menanyakan makanan apa yang diingini Aksa dan Aksa malah menanyakan makanan apa yang disukai Dee. Jadilah mereka saling lempar tanya sebelum akhirnya setuju makan siang dengan paela, masakan khas Spanyol di resto Europe ini yang merupakan masakan yang direkomendasikan Aksa. Sebenarnya Dee penyuka makanan Italia apalagi sphagetti bolognese, tapi kali ini dia merelakan menikmati makanan yang disukai Aksa. Seorang waiters wanita berlalu setelah mencatat pesanan mereka.
Cowok itu bercerita bahwa dia kuliah di university of Barcelona mengikuti keluarganya yang juga bekerja di Ibukota negara Spanyol itu sebagai pegawai di atase dagang Indonesia di Spanyol. Itu informasi yang baru Dee ketahui sekarang.
"Trus masak sih Kakak nggak dapat satu cewek Spanyol pun untuk jadi gandengan Kakak?"
"Banyak sih, tapi cuma sebentar. Gue nggak suka gitar Spanyol. Gue sukanya buatan dalam negeri." Aksa bicara sambil menatap Dee, walau berkata dengan perumpamaan-Dee jelas paham apa maksud ucapan Kak Aksa padanya apalagi saat dia melihat bagaimana Kak Aksa melirik tangannya yang tergeletak di atas meja dan meraih jemarinya. Meremasnya dengan lembut, membiarkan matanya memerangkap pandangan Dee. "Dari dulu gue sukanya, ya, sama lu, Dee. Gue serius." Wajah Dee bersemu merah jambu. "Tapi kenapa...kau tahu..."
Itu pernyataan cinta Kak Aksa untuk yang ketiga kalinya padanya. Jika ditambah dengan pernyataan cinta yang dinyatakan Kak Aksa di warung bakso usai mereka mencari buku di toko buku Gramedia- delapan tahun yang lalu.
"Tidak. Aku tidak tahu." Dee berkata serius meminta kejelasan.