You'r the light
You'r the night
You'r the color of my blood
You'r the cure, the pain
You'r the only thing I wanna touch
Suara lembut itu mengalun di hati Dee yang menyanyikan syair lagu Ellie Goulding. Fall in love itu menyenangkan, ya.
Dee mengendap ke dalam rumah saat malam telah beranjak pagi, jam satu pagi tepatnya. Kakinya berjingkat hanya agar tak menimbulkan bunyi dan dia berharap tidak menemukan makhluk itu, sedang malas saja berdebat di malam hari seperti ini. Lalu suara ponselnya terdengar. Buru-buru Dee meraih ponselnya dan segera menyapa seseorang di seberang sana. "Ada apa,Kak?"
"Aku rindu kamu." Suara lembut Aksa terdengar padahal baru saja cowok itu mengantar Dee pulang.
"Kitakan baru pisah tiga menit lalu, masak udah rindu?" Dee berbisik sambil melirik situasi di sekitarnya.
"Jangan salahin gue. Salahin diri lu kenapa lu ngangenin." Aksa bicara dan membuat semburat merah menyembur di wajah Dee. "Rasanya gue nggak sanggup pisah sebentar saja dari kamu, Dee."
"Ngerayu teruuus..."
Aksa tertawa. "Ngerayu pacar sendiri boleh dong." Dee tertawa pelan. "Daripada ngerayu pacar orang ya nggak?"
"Iya, deh, Kakak menang." Mereka terdiam sesaat sebelum suara Aksa terdengar lagi:
"Dee, kayaknya sih besok aku nggak bisa nemenin kamu ke makam orang tua kamu deh. Aku baru ingat besok aku ada wawancara kerja. Maaf, ya, Cayang." Ada rasa kecewa di hati Dee, tapi mau bagaimana lagi? Aksa memang punya alasan urgen-kan dan dia nggak boleh menghalangi Kak Aksa menggapai masa depannya. "Dee, kok diam? Kalau kamu nggak ngizinin, aku nggak bakal ikut deh."
"Jangan, Kak. Aku bisa sendiri kok. Kakak lupa Kakak punya cewek yang mandiri macam aku?" Aksa terkekeh kecil. "Good luck ya, Kak."
"Makasih, Dee."