I love You, Om

Elisabet Erlias Purba
Chapter #17

17. Hari Peringatan Kematian

" Sejarah Ikdee Furniture tak bisa dilepaskan dari dua nama besar ini, Bapak Pramudya Johnson dan Istri Beliau-Ibu Sandra Dee. Bapak Pramudya Jhonson adalah pendiri Ikdee Furniture. Beliau besar dari keluarga sederhana pembuat furniture di kota Medan. Angkatan old di Ikdee Furniture pasti sering mendengar bagaimana beliau bercerita sehabis pulang sekolah membantu ayahnya di bengkel furniture mereka...lalu setelah Beliau dewasa memperdalam ilmu desain furniture hingga ke luar negeri dan bagaimana Ibu Sandra Dee menyokong segala cita-citanya. Setelah ayah Beliau meninggal dan Beliau mengambil alih usaha ayahnya, Beliau mengganti nama usaha itu menjadi Ikdee. Menyisipkan nama belakang Ibu Sandra Dee untuk mengingatkan Beliau bahwa segala usaha yang dia lakukan karena cinta. Dan bahwa kita semua bekerja di Ikdee Furniture juga karena cinta pada keluarga kita. Tujuan kita untuk memberikan kehidupan yang sejahtera bagi keluarga. Hal itulah yang mendasari managemen Ikdee Furniture. We are a big family. Alasan yang melatarbelakangi pembagian saham bagi para karyawan dan alasan mengapa perusahaan membuat laporan keuangan terbuka yang bahkan bisa diakses mudah oleh semua orang. Dan alasan yang membuat serikat pekerja Ikdee Furniture juga harus melakukan pelaporan keuangan terbuka untuk hasil yang dibagikan perusahaan."

Layar televisi yang lebar di ruang auditorium perusahaan yang bisa menampung hingga seribu orang, menayangkan perjalanan hidup Pramudya Johnson dan Istrinya, Sandra Dee. Upacara mengenang kematian tragis pasangan itu telah dimulai dengan doa bersama tadi dan kini berlanjut pada mengenang jasa-jasa keduanya mendirikan dan membesarkan nama Ikdee Furniture.

"So sweet banget, ya, Pak, Pak Pramudya. Sayang aku belum di sini ketika Beliau memimpin," Andira, salah satu staff kreatif promosi, menimpali ucapan Pak Cahyo, sang manager Keuangan yang telah bekerja nyaris lima belas tahun di Ikdee Furniture. Dia berbisik pada teman yang ada di sisi kursinya.

"Beliau ganteng."

"Tetap aja lebih gantengan Pak Arga."

"Tapi Pak Arga dingin, seperti es di kutub selatan beda dengan Pak Pramudya yang romantis. Kalau seumpamanya gue disuruh milih, gue bakal pilih Pak Pramudya dong."

"Ihhh, siapa juga yang nyuruh lu milih." Temannya menimpali. "Pak Pramudya udah ada yang punya."

"Emang lu mau sama orang yang udah koit?" tanya seorang teman lain di sisi kanan.

"Resek lu. Kan gue bilang seumpamanya."

Rara dan Kimy hanya melirik pada tiga karyawati yang saling berbincang itu. Sementara sebagian besar karyawan terdiam mencermati kisah Pak Pramudya Johnson dan Istrinya Sandra Dee yang ditayangkan dalam layar lebar di podium. Sesekali mata keduanya menjelajah ke seluruh penjuru ruangan. Om Arga Utama sang Direktur Utama ada di kursi yang berada di deretan terdepan, tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Dee.

"Dan kebaikan terakhir Pak Pramudya pada kita adalah memberikan kita seorang Direktur Utama sebaik dan sekeren Pak Arga Utama yang menghantarkan Ikdee Furniture ke level tertingginya saat ini.Kepada Bapak Dirut kita yang tercinta kita mohonkan sepatah dua kata untuk acara peringatan ini." Sang master ceremonial mempersilahkan Arga Utama menuju podium. Tepuk tangan riuh terdengar saat Arga melangkah menuju podium. Karyawan wanita bersorak lebih histeris.

Setelah menenangkan suasana. Arga angkat suara, "Terima kasih untuk semuanya. Untuk penerimaan kalian pada saya, untuk kerjasama luar biasa yang kita lakukan. Tidak banyak kata yang ingin saya sampaikan, saya hanya berkata hasil tidak akan pernah mengkhianati kerja keras..."

"Kerja keras? Apa yang kau maksud dengan kerja keras? Apakah merebut istri orang, itu kau sebut dengan kerja keras?!" Suara itu membuat semua mata kini beralih memandang pintu auditorium. Seorang gadis cantik berambut pirang muncul di ruangan ini tanpa menghiraukan seorang satpam kantor yang berusaha menghalanginya. Wanita itu bahkan meraih dengan kasar earphone berpengeras suara yang dimiliki seorang teknikal acara yang berjaga di sisi pengeras suara di sisi pintu auditorium. Bisik-bisik mulai terdengar dari kursi para hadirin.

Beberapa satpam yang muncul mencoba menahannya. Mario bahkan telah berlari dari tempat duduknya begitu juga Rara dan Kimy.

"Jangan sentuh dia!" pekikan Arga Utama dari atas mimbar membuat para satpam dan Mario mematung. Dee memanfaatkan peluang itu untuk terus melangkah ke podium. Kini semua mata menatap Arga Utama dan Dee bergantian. "Mari kita sambut dengan meriah, Putri tunggal Bapak Pramudya Johnson dan ibu Sandra Dee ... Dee Cantika Pramudya." Arga bertepuk tangan saat Mario memberi isyarat gelengan kepala dan memintanya turun dari podium. Dia mengacuhkan hal itu sementara Rara dan Kimy nampak bingung. Mereka ingin menahan Dee, tapi tidak yakin itu akan menjadi hal baik- bagaimana jika Dee malah makin mengamuk pada mereka seperti kejadian di pool party? Langkah mereka terkunci saat dengan ragu beberapa karyawan bertepuk tangan mengikuti Arga.

Mengacungkan tangan, Arga mempersilahkan Dee menuju mikrofon. "Bicaralah sepatah kata untuk Papa ..."

"Jangan khwatir. Aku akan bicara untuk meminta keadilan bagi Papaku. Bagaimana bisa seorang penghianat sepertimu mengambil posisi Papaku?!" Lalu mata Dee menjelajah penuh amarah memandang seluruh isi ruangan auditorium. Arga merasa de javu. Kenangan ini membawa dia pada kejadian beberapa bulan setelah dia menjadi wali Dee dan menggantikan posisi papa Dee di perusahaan. Bagaimana pagi itu Dee datang ke kantor hanya untuk membuat keonaran di hari pelantikannya sebagai Dirut.

"Setelah berselingkuh dengan mamaku, kau masih bersikap bak malaikat di depan Papaku ... Jabatan ini yang kau sebut dengan kerja keras?" Dee menarik keras pin mungil Direktur Utama yang terpasang di dada kanan jas Arga. "Kau hanya seorang pencuri." Matanya membentur tajam manik hitam Arga sementara kakinya menginjak keras pin yang telah terlempar di ujung sepatunya.

"Cukup, Dee Cantika!" Arga memekik. Dia tidak akan mengulang kesalahan kedua kalinya dengan membiarkan gadis itu terjebak pada pikirannya. "Paling tidak hargai hari ini. Dan bersihkan pikiranmu! Apa kau tidak malu menjadikan kisah papa dan mamamu menjadi tontonan?" Arga meraih tangan itu dan menarik Dee yang segera meronta keras minta dilepaskan. Seluruh mata memandang mereka.

"Oedipus, lepaskan aku!" Arga tidak menggubris pekikan dan rontaan Dee. Tangannya mencengkram erat pergelangan tangan Dee. Dee yakin akan ada tanda biru di sana akibat cengkraman keras itu.

***

Lihat selengkapnya