I love You, Om

Elisabet Erlias Purba
Chapter #18

18. Kebenaran yang Tak Ingin Kau Terima

Arga melepas tangan itu saat mereka telah berada di tempat tersepi di gedung Ikdee Furniture. Roof garden. Dari taman atap itu seluruh pemandangan Jakarta Pusat terlihat. Mata gadis itu masih menatapnya dengan amarah.

"Kenapa kau membawaku ke sini?!"

"Karena kini giliranku untuk bicara." Arga berucap tenang. "Aku minta maaf untuk semua rasa sakit yang kamu rasakan selama ini .... Seandainya waktu bisa diulang, aku berharap tidak pernah datang ke pesta Pak Coolman dan tidak perlu berkenalan dengan Mamamu." Dee menatap wajah itu lekat-lekat. Ada beribu tanda tanya yang menggelayuti hatinya. Oedipus menyesal, ya penyesalan memang selalu datang di akhir, tapi penyesalan itu tidak bisa merubah apa pun yang telah dihancurkan oleh pria itu bahkan walaupun dengan berjuta-juta maaf. Mama dan papanya tidak akan tiba-tiba bangkit dari kubur lalu memeluknya dan mereka memiliki kembali keluarga bahagia.

"Atau jika aku harus bertemu dengannya, aku tidak akan beramah tamah dengannya, aku akan membuat seribu alasan pada Papamu saat dia meminta aku mengantarkan Mamamu pulang hingga aku tak perlu jatuh simpatik pada kisah Mamamu sementara dia salah sangka padaku."

Apa?! batin Dee memekik. Salah sangka ... Apa yang hendak dibicarakan makhluk itu ...???

"Atau jika waktu hanya bisa di ulang pada hari kecelakaan itu terjadi ..., aku akan mengikuti skenariomu. Aku akan menjadi pria br*ngs*k pedofil yang mengejarmu. Aku akan katakan pada Mamamu akulah yang menarikmu ke kamar hotel dan memaksa menciummu. Aku akan melakukan itu. Namun waktu tidak bisa diputar."

Damn! For God's sake, Dee bisa menebak kemana arah pembicaraan makhluk itu. Bahwa dia selama ini salah sangka ... bahwa ... Dia tidak sanggup mendengar!

"Aku tidak mau mendengar penjelasan apa pun darimu!" Dee menutup telinganya. Arga menarik kedua tangan itu dari telinga Dee. Memeganginya. Memaksa mata mereka kembali bertautan.

"Kau harus mendengarkannya," suara itu terdengar lembut. Mata itu menatapnya hangat. "Kebenarannya adalah aku tidak pernah mencintai Mamamu dan perasaan itu hanya perasaan sepihak dari Mamamu. Kau membenciku tanpa alasan."

Dee menghempaskan pegangan itu dengan kasar. Arga bisa melihat kemarahan yang lebih besar lagi di mata itu. Bagai api yang tersiram bensin. Ada luka yang berdarah kembali di hati Dee. Sakit. Bagaimana pun dari dulu Dee percaya bahwa hubungan antara mamanya dan oedipus terjadi karena oedipus lah yang merayu mamanya. Mamanya wanita baik-baik. Oedipus lah yang menjebak mamanya yang kesepian dengan iming-iming perhatian. "Sekarang kau mau mengatakan bahwa Mamaku adalah wanita murahan?!" Dee menghajar tubuh Arga bertubi-tubi. Air matanya jatuh berderai. "Beraninya kau berkata seperti itu!"

"Aku tidak mengatakan Mamamu wanita murahan." Arga kembali menangkap tangan Dee, mengguncang tubuhnya seakan ingin mengeluarkan kebencian dari hati gadis itu. Namun Dee menarik keras lengannya untuk lepas. Kali ini Arga menahannya. Melekatkan tangan yang berada dalam cengkraman tangannya itu di dadanya. "Mungkin hatimulah yang berpikir begitu sementara sebagian hatimu menolak hal itu. Kehidupan orang dewasa tidak sesimpel hitam dan putih, Cantik. Sandra- Mamamu hanya sedang bimbang. Dia ingin diperhatikan, dimanja dan dan dia butuh seseorang untuk ada di sisinya saat dia membutuhkan. Namun Mas Pramudya, Papamu tidak ada. Dan Mamamu wanita baik-baik, dia tidak merayuku, kami tidak melakukan apapun yang menyalahi norma apa pun di masyarakat." Arga melepaskan pegangan kerasnya pada lengan Dee, membiarkan gadis itu membalikkan badan menjauhinya. Gadis itu menangis dan betapa dia ingin menarik tubuh itu ke pelukannya, menawarkan perlindungan dan seluruh cintanya. Melihat luka di wajah itu, melukai hatinya. Alasan inilah yang membuat dia menyimpan rapat rahasia ini bertahun-tahun, membiarkan Dee berpikir sesuka hatinya karena dia tahu bagaimana sempurnanya kedua orang tuanya di hati Dee.

"Apa kau tahu apa yang sedang dialami Mamamu? Dia sakit, Cantik. Cancer kulit. Bukan stadium akhir, tapi itu membuat dia sangat takut dan dia butuh seseorang. Kau masih terlalu kecil saat itu. Mas Pramudya saat itu terlalu sibuk ..."

"Berhenti merangkai cerita!" Dee membalikkan tubuhnya. Menyeka air mata yang telah lama tidak jatuh di pipinya, tapi siang ini mengucur sederas hujan yang dicurahkan dari langit. "Apa kau pikir aku terlalu naif? Kau cuma mencari pembenaran atas semua kesalahanmu dan aku tidak akan tertipu. Kaulah yang merayu Mamaku! Kaulah adalah penyebab kehancuran rumah tangga Papa dan Mamaku! Kaulah adalah penyebab aku kehilangan mereka! Aku benci padamu!" Dee melempar ponsel yang ada di sakunya dengan penuh emosi. Benda itu mengenai pelipis Arga sebelum terhempas jatuh ke lantai dan berkeping-keping. Jujur Dee sempat kaget saat melihat luka di kening itu akibat kemarahannya. Dia pernah begitu marah pada makhluk ini dulu di Amerika hingga dia merobek-robek jas dan pakaian oedipus yang berpikir untuk tinggal di apartemennya, tapi tidak pernah sejauh ini hingga oedipus terluka ...

"Bencilah aku sepenuh hatimu karena dengan begitu, aku akan selalu ada diingatanmu. Dan saat kebencian itu menjadi penuh, tak ada tempat lain di hatimu agar kau selalu mengingatku selain mencintaiku."

Deg!

"Sampai mati pun, aku tidak akan pernah mencintaimu! Argh ... Argh..!" Dee sesenggukan lalu berlari dari tempat itu. Jika tetap menatap wajah itu, dia mungkin akan melakukan hal yang lebih buruk lagi. Makhluk itu selalu membuat dia terluka. Arga berlari mengejar tubuh itu, dia tidak bisa membiarkan Cantik melewati rasa sakit ini sendiri, walaupun kemungkinan besar dia bakal terluka oleh kata dari bibir gadis itu atau dari pukulan tangannya. Dia akan menerima semua.

***

Arga menatap jauh keluar ruangannya dari balik dinding kaca. Jakarta nampak sibuk. "Apa Dee sudah pergi?" Mario yang muncul di ruangan Arga menyeletuk.

Arga hanya mengangguk tanpa membalikkan badannya.

Duduk di kursi putar, Mario memandangi punggung Arga yang membelakanginya. "Apa dia sudah tahu kebenarannya?'

"Iya."

"Lalu tanggapannya?"

Arga membalikkan badannya dan membuat Mario sontak terkejut melihat pelipis Arga yang kebiruan serta sedikit bengkak. Bangkit dari duduknya, dia menghampiri Arga. Menyentuh pelipis itu dan membuat Arga meringis.

"Dee melakukan itu?"

Lihat selengkapnya