I love You, Om

Elisabet Erlias Purba
Chapter #19

19. Spaghetti tanda Cinta

"Lu masih mau nangis? Lu boleh nangis di bahu gue. Gue bakal selalu ada buat lu." Aksa melirik pada Dee yang masih sesenggukan di sisinya. "Gue bakal balas semua rasa sakit yang lu rasakan karena makhluk itu. Dia nggak akan gue biarain hidup nyaman setelah nyakitin perempuan yang paling gue sayangi." Dee memandang Aksa. Cowok itu benar-benar malaikat pelindung buatnya. Kak Aksa muncul di halaman depan gedung Ikdee Furniture saat dia berlari dalam derai air mata. Andai dia tidak menarik Kak Aksa, Dee yakin Kak Aksa bakal menghajar oedipus yang ternyata mengejarnya hingga pelataran depan gedung Ikdee Furniture. Makhluk itu ... Dee selalu tidak bisa memahami otak makhluk itu. Dee meraih lembaran tisu di sisinya dan mulai melap air matanya yang bercampur ingus. Angin laut menghempas-hempaskan riak rambutnya

Menguasai diri. Mereka memandang lurus ke depan, menatap ombak dasyat yang menghempas bibir pantai lalu beringsut kembali ke laut. Suara deburan ombak yang memecah karang menjadi soundtrack yang mengiringi perjalanan mereka di kapal pesiar milik Aksa. Cowok ini .., demi membuatnya tersenyum kembali, membawanya berlayar di kapal pesiar pria ini.

"Terima kasih, ya, Kak, buat semuanya." Dee menatap lekat wajah tampan yang ada di hadapannya itu. "Kakak selalu bikin aku tenang dan nyaman."

Aksa tersenyum. Meraih jemari Dee dan menarik gadis itu bangkit. Mereka naik ke anjungan kapal, berdiri di pinggiran anjungan kapal. Dan hembusan angin menampar lebih kencang lagi seakan hendak membawa pergi seluruh rasa sakit di hati Dee.

"Rentangkan tangan kamu." Aksa yang ada di belakang tubuh Dee meminta dan Dee menurut. Lalu sama seperti dirinya, Aksa juga merentangkan tangan. De Javu, Dee ngerasa melakukan adegan macam Rose DeWitt Bukater yang diperankan Kate Winslet dan Jack Dawson pemeran pria yang diperankan Leonardo Dicaprio di film Titanic, tapi dalam adegannya tanpa diiringi lagu My Heart Will Go On dari suara emas Celine Dion. "Berteriaklah, lepaskan segala emosimu."

Angin menampar wajahnya dengan lebih keras, Dee kembali menurut. Berteriak melepaskan semua rasa sakit, amarah dan kesedihan yang mendalam. "Argh!"

"Teriakkan seberapa besar kamu membencinya."

"Aku benci padamu Oedipus! Aku membencimu! Aku berharap kau merasakan rasa sakit yang sama seperti yang kurasakan! Aku harap ..." Kalimat Dee ter-cut saat bayangan ucapan Arga memenuhi benaknya:

"Kebenarannya adalah aku tidak pernah mencintai Mamamu dan perasaan itu hanya perasaan sepihak dari Mamamu. Kau membenciku tanpa alasan."

Kalimat itu memukul kembali perasaan Dee. Rasa sakitnya masih sama. Air matanya kembali mengalir dan dengan sekuat tenaga Dee berusaha menahan derai air mata itu.

"Bencilah aku sepenuh hatimu karena dengan begitu, aku akan selalu ada diingatanmu. Dan saat kebencian itu menjadi penuh, tak ada tempat lain di hatimu agar kau selalu mengingatku selain mencintaiku."

"Argh!" Dee menurunkan tangannya. Kebenciannya selama ini tidak mungkin salah. Papa bilang semua orang punya kebaikan, tapi oedipus .., oedipus tidak mungkin punya kebaikan. Oedipus lah yang jahat, bukan dia. Bukan Mamanya. Dee gagal menahan derai air matanya, dia terisak dengan tubuh nyaris membungkuk dan Kak Aksa buru-buru mendekapnya dari belakang.

"Kamu akan baik-baik saja, Dee. Kakak janji. Aku akan selalu menjagamu dan tidak akan ada yang akan menyakitimu lagi. Dia akan membayar tiap tetes air mata yang jatuh di pipi kamu."

***

Malam sudah larut ketika Arga muncul di rumah. Suasana sepi. Arga Utama melepaskan jasnya dan melemparkannya ke pojok sofa tamu yang dia lintasi. Terus melangkahkan kaki menaiki anak tangga yang akan menghantarkannya ke kamar tidurnya. Di depan pintu kamar sebelah kamar tidurnya langkahnya terhenti.

Kamar itu tertutup rapat dan sepi. Tak ada suara apa pun yang terdengar dari dalam kamar. Refleks dia melirik rolex yang melingkari pergelangan tangannya. Arlojinya menunjukkan pukul dua belas malam. Menurut informasi Mbak Hanum dari WhatsApp call tadi, Dee telah pulang pada jam sembilan malam dengan wajah kusut. Mata bengkak seperti habis menangis dan begitu terluka.

Arga Utama menyandarkan tubuhnya di pintu luar kamar Dee. Hatinya sakit. Sama sakitnya seperti yang Dee rasakan. Andai saja Dee tahu.

Lalu Mbak Hanum muncul dari dalam kamar. Wanita itu nyaris memekik saat melihat sosok pria di depan pintu kamar tidur Dee.

"Ini saya, Num," Arga berbisik.

"Bapak." Hanum tersenyum dengan suara yang juga berbisik. Ia menutup pintu untuk memastikan Nona mudanya tidak mengetahui hal ini. "Bapak baru pulang?" Arga mengangguk cepat.

"Bagaimana Nona Dee?"

"Sudah saya pijetin, Pak. Sudah nggak nangis lagi, tapi Non Dee nggak mau cerita apa dan siapa makhluk yang membuat dia menangis. Coba kalau Non Dee bilang, saya yakin Bapak bakal menghajar makhluk itu. Berani banget dia buat Nona muda saya nangis parah gitu."

Lihat selengkapnya